Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

13 Juli 2015

Syarat Menjadi Murid Tuhan


“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya ……, bahkan nyawanya sendiri …. tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”
(Lukas 14:26-27,33)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

JIKA hubungan terakrab dalam kehidupan seorang murid konflik dengan klaim Yesus Kristus, maka Tuhan menuntut ketaatan seketika juga kepada diri-Nya. Menjadi murid berarti pengabdian penuh kesungguhan secara pribadi kepada satu Pribadi — Tuhan Yesus Kristus.

Ada perbedaan besar antara pengabdian kepada Seseorang dengan pengabdian kepada prinsip-prinsip atau alasan tertentu. Tuhan kita tidak pernah menyatakan suatu alasan / syarat tertentu – kecuali pengabdian pribadi kepada Dia sendiri. Menjadi murid berarti mengabdi seperti hamba yang digerakkkan oleh kasih kepada Tuhan Yesus. Banyak di antara kita yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi tidak sungguh-sungguh (selalu mengajuka syarat/alasan) mengabdi kepada Yesus Kristus.

Tidak seorang pun di dunia ini memiliki kasih yang menyala-nyala bagi Tuhan Yesus jika Roh Kudus tidak mencurahkan kasih itu kepadanya. Kita mungkin mengagumi, menghargai dan menghormati Yesus, tetapi kita tidak dapat mengasihi-Nya dengan kekuatan kita sendiri.

Pribadi satu-satunya yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus adalah Roh Kudus, dan Dialah yang telah mencurahkan ke dalam hati kita kasih Allah itu (lihat Roma 5:5). Bila Roh Kudus melihat peluang untuk memuliakan Yesus melalui Anda, Dia akan mengambil seluruh diri Anda dan membuat Anda berkobar-kobar dengan pengabdian yang bercahaya kepada Yesus Kristus.

Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang ditandai oleh kreatifitas sejati dan spontan. Akibatnya, seorang murid menjadi sasaran tuduhan seperti terhadap Yesus Kristus, yaitu tuduhan ”tidak-konsisten” (inconsintency). Akan tetapi, Yesus Kristus selalu konsisten dalam hubungan-Nya dengan Allah, dan seorang Kristen harus konsisten dalam hubungan-Nya dengan Allah, dan dalam hubungannya dengan kehidupan Anak Allah di dalam dirinya, bukan konsisten kepada kredo yang keras dan kaku. Ada orang-orang mengabdikan diri kepada kredo-kredo mereka, dan Allah harus memaksa mereka keluar dari gagasan-gagasan atau buah pikiran sendiri (preconceived idea) mereka, sebelum mereka dapat mengabdi kepada Yesus Kristus.

Contoh : 

Seseorang yang disuruh aktif di lingkungan mengajukan syarat harus begini harus begitu (harus syaratnya dipenuhi dahulu baru aktif). Padahal Tuhan mengasihi manusia tanpa syarat dan tanpa alasan.