Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

30 September 2015

Dapat Dipercaya


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kalau Anda mengharapkan seorang sahabat, seorang partner kerja, atau seorang karyawan yang baik, syarat apa yang Anda harapkan darinya? 1 Korintus 4:2 menulis satu kriteria yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya, yaitu dapat dipercaya. Dapat dipercaya untuk apa? Untuk memegang rahasia Allah. Dan luar biasanya, seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, Ia menganggap kita sebagai hamba-hamba-Nya, dan demikianlah yang Dia inginkan dari setiap kita, menjadi hamba-hamba yang dapat dipercaya.

Ada hal lain yang menarik dari 1 Korintus 4:1. Untuk kata “hamba,” Alkitab lain menggunakan kata “ministers” dan “stewards” yang diterjemahkan dari kata eressō dan oikonomos. Arti dari kedua kata tersebut adalah 
  1. Pendayung — para pendayung di bagian lambung kapal-kapal besar yang kakinya dirantai dan tidak memiliki tugas lain selain mendayung untuk tuan mereka, 
  2. Budak — pelayan yang sudah dibeli dengan lunas oleh tuan mereka dan yang sekarang berhutang hidup kepada tuan mereka, 
  3. Pengawas - sebagai seorang hamba Anda harus melakukan tugas-tugas Anda dengan sebaik-baiknya, 
  4. Pengurus — kepada Anda dipercayakan kekayaan rahasia Allah dan umat-Nya untuk Anda urus, sungguh keistimewaan yang luar biasa yang pernah diterima oleh seorang pelayan.
Paulus tahu bahwa panggilannya sebagai seorang pelayan Kristus bukanlah panggilan biasa. Baginya itu adalah hak istimewa, kemuliaan terbesar yang tidak akan pernah dapat tergantikan oleh kekayaan atau kedudukan setinggi apapun. Ia bisa melihat martabat pelayanannya sebagai kehormatan tertinggi dan termulia yang pernah ada, karena ia sadar bahwa semata-mata karena anugerah Allahlah ia bisa mengajar dan melayani—hamba yang kepadanya dipercayakan rahasia-rahasia besar dari sorga. Tidakkah kita ingin menjadi seperti Paulus dan rasul-rasul lainnya, menjadi hamba Allah yang dapat dipercaya?


Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
(1 Korintus 4:1-2)


Menjadi Seperti Anak-Anak Kecil

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Kamis, 1 Oktober 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b atau 1Kor 12:31-13:13; 
Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3; 
Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-12 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Theresia dari Lisieux [1873-1897], perawan dan Pujangga Gereja. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Theresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Theresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresa Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”.

Ada dua orang perempuan kudus dari Ordo Karmelites Tak Berkasut (OCD) – pada zaman yang berbeda – yang bernama Theresia, yang satunya adalah Santa Theresia dari Avila atau “Theresia Besar” yang juga adalah seorang Pujangga Gereja.

Ketika masih berumur 12 tahun Theresia sudah berjanji kepada Kristus: “Yesus di kayu salib yang haus, aku akan memberikan air pada-Mu. Aku akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat.”Pendosa pertama yang bertobat berkat doa gadis kecil ini adalah seorang penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesali perbuatan-perbuatan jahatnya. Orang itu bertobat di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukumannya. Luar biasa!!! Meskipun para suster dalam biara (termasuk dua orang kakaknya) mencintai Theresia, hal ini tak berarti dia luput dari berbagai pencobaan batin dan kekeringan. Karena kematangan jiwanya, Theresia sudah diangkat menjadi magistra novis ketika dia baru berumur 20-an tahun.

Dalam biara dengan klausura ketat, Theresia berjuang untuk menempuh “jalan sederhana” menuju kesucian, yaitu secara konsekuen percaya dan mengasihi Tuhan. Ia selalu menampilkan wajah yang jernih dalam situasi yang bagaimana pun. Orang kudus muda ini menderita sakit paru-paru yang parah dan akhirnya meninggal ketika berusia 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadi yang ditulis atas permintaan pemimpin biaranya. Judulnya: “Kisah satu jiwa” (Inggris: The Story of a Soul). Di situ Theresia menunjukkan, bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa-biasa saja orang itu. Caranya adalah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Lewat teladan hidupnya, Theresia telah mengajarkan, bahwa kita dapat bersatu dengan Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya setiap saat dari kehidupan kita sehari-hari. Persembahan sederhana itu dapat menjadi sarana bagi kita guna mencapai kesucian yang kita rindukan.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Para suster Karmelites di Hanoi, Indo-China (Viet Nam sekarang) memintanya untuk memperkuat biara di sana, namun penyakit yang dideritanya tak mengizinkan. Delapan belas bulan terakhir dari hidupnya adalah periode penderitaan-badani yang sangat menyakitkan bagi Theresia, pada saat yang sama juga merupakan masa pencobaan rohani. Pada bulan Juni 1897 Theresia dipindahkan ke ruangan khusus untuk para penderita sakit di biara dan tidak pernah keluar lagi dari sana sampai saat ajalnya pada tanggal 30 September. Suster muda, sederhana dan suci ini menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bibirnya mengucapkan sabda-sabda ilahi dari Kitab Suci. Theresia diangkat menjadi seorang beata oleh Paus Pius XI pada tahun 1923 dan Paus yang sama mendeklarasikan-nya sebagai seorang santa pada tahun 1925.

Pada tahun 1927, bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius, Teresa diangkat menjadi pelindung Misi, meskipun belum pernah pergi ke luar negeri. Dia adalah juga pelindung para penjual bunga. Santo Fransiskus Xaverius yang Yesuit itu diutus Yesus Kristus ke ujung-ujung bumi, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tujuh puluh murid seperti diceritakan dalam bacaan Injil alternatif di atas (Luk 10:1-12), sedangkan Theresia diutus – melalui doa-doanya – juga ke mana-mana, meskipun secara fisik berkedudukan secara statis dalam selnya. Kita memang suka lupa bahwa kegiatan doa yang benar juga merupakan kegiatan kerasulan. Memang Jalan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata yang berdasarkan akal budi semata. Inilah Penyelenggaraan Ilahi yang penuh dengan misteri.

Setiap hari, marilah kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus Kristus. Memang kadang-kadang barangkali kita merasa tak pantas, namun sebenarnya kepada kita telah diberikan kuasa dan wewenang untuk menjadi “kaki-tangan” Yesus membawa jiwa-jiwa ke surga. Kalau kita berdiam dalam Kristus dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya, maka cinta kasih-Nya akan dapat dipastikan mengalir dari dalam diri kita. Baiklah kita melihat setiap hari dengan pengertian bahwa kepada kita telah diberikan suatu kesempatan untuk menjadi saksi Injil, mendoakan orang yang menderita segala sakit-penyakit, fisik maupun rohani, dan mengusir roh-roh jahat.

DOA: 

Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut cara Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, dengan demikian kami dapat melihat kemuliaan-Mu yang kekal. 
Amin.

Peringatan Santo Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja 30 September


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

DOA: 

Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, kuduslah nama-Mu. Dalam hati Santo Hieronimus imam-Mu telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga umat-Mu semakin menimba kekuatan dari sabda-Mu dan mendapatkan sumber kehidupan di dalamnya. Kami berdoa demikian dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. 
Amin

Duta-duta Perdamaian Sorga


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Menurut saya, pekerjaan terkeren bukanlah dokter ataupun presiden. Bagi saya, pekerjaan terkeren adalah duta besar. Kenapa? Karena saya pikir akan keren sekali bisa tinggal di luar negeri, apalagi menjadi wakil negara yang tinggal di luar negeri; sekalipun tidak menetap di negara sendiri, tapi kita sejatinya tetaplah negara kita. Selain itu, seorang duta besar pastilah seorang yang arif, berkepribadian nasional dengan kapasitas internasional. Bagaimana bisa? Seorang wakil negara yang tinggal di negara asing harus bisa membawa diri, bijak dan cerdas dalam tingkah laku/keputusannya demi hubungan baik antara dua negara, mampu menyesuaikan diri dengan negara asing, mampu menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya oleh negara asalnya dengan benar. Saya pikir, itulah alasan kenapa para duta besar umumnya memiliki smartface dan kharisma yang cerdas serta bersahabat.

2 Korintus 5:18-21 menulis bahwa kita adalah utusan-utusan Kristus, dengan kata lain kita adalah duta-dutanya Kristus. Jadi, jika kita adalah duta besar-duta besar kerajaan sorga, maka besarlah kualitas dan kepercayaan yang kita punya. Kita adalah milik Dia yang mengutus kita; kita tidak lagi hidup untuk kepentingan kita sendiri, kita hidup untuk kepentingan Tuan kita. Kita diutus untuk pergi, untuk menyelesaikan tujuan dan alasan mengapa Allah mengutus kita; kita diutus untuk menyampaikan pendamaian dan keselamatan Allah kepada dunia yang sudah rusak. Kita memiliki otoritas dan kuasa dari Dia yang mengutus kita; tempat di mana kita diutus adalah kedutaan besar sorga di mana adalah tugas kita untuk melindungi dan menjadi suara bagi warna negara sorga (orang-orang percaya) lainnya. Kita diutus dengan pesan dari Tuan kita dan pesan itu bukan pesan milik kita sendiri; Allah ingin kita mengingatkan warga sorga lain yang sedang “tersesat” untuk menerima kasih Allah dan bertobat.

Tugas kita sungguh besar dan mulia, jadi bukan waktunya lagi untuk bermain-main dalam hidup. Pendamaian Allah sudah dibayar mahal dengan darah Kristus di kayu salib dan sekarang adalah tugas kita untuk menyampaikan pendamaian itu kepada generasi kita.

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kemi meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

(2 Korintus 5:20)

Ya Tuhan, Aku Akan Mengikut Engkau

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja – Rabu, 30 September 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62)

Bacaan Pertama: Neh 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-5

Ketika Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku …”, kita bahkan dapat mendengar kelanjutannya: Tinggalkanlah semua orang yang tidak mau mengikut Aku. Tinggalkanlah segala sesuatu yang menghalangi kamu mengikut Aku. Jangan melihat ke belakang.” Semua ini terdengar sulit, namun Yesus tidak datang ke tengah dunia agar dapat membuat hidup kita menjadi mudah; Ia datang untuk membuat segala sesuatu menjadi benar. Ia datang untuk membebaskan kita dari ikatan dosa, membuang rasa bersalah masa lalu kita, dan untuk memberikan kepada kita visi bagi masa depan. Ia datang untuk menunjukkan kepada kita bagaimana mengikuti jejak-Nya secara bermartabat dan yang memberikan kemuliaan bagi Allah.

Segala janji dalam Injil menjadi efektif dalam hidup kita selagi kita memutuskan untuk mengikuti jejak Yesus. Dengan satu keputusan itu – diteguhkan dan diteguhkan lagi – kita menjadi terbuka bagi semua rahmat, sukacita, dan pengharapan akan surga. Dengan mengucapkan kata-kata sederhana secara tulus,“Ya, Tuhan”, terbukalah bagi kita suatu kehidupan yang bebas-merdeka, di mana Allah mengangkat beban rasa bersalah dan kecemasan kita dan memberikan kepada kita suatu jaminan akan kasih-Nya. Jaminan tersebut tak dapat dirusak oleh apa dan siapa pun.

Saudari dan Saudara sekalian, marilah kita sekarang membuat keputusan pada hari ini. Secara terbuka, kita berkata kepada Yesus: “Ya Tuhan, aku akan mengikut Engkau.” Setelah itu, janganlah berekspektasi bahwa segala sesuatu pasti akan menjadi lebih mudah; melainkan kita harus mencari langkah selanjutnya dalam hidup ini guna menjadi jelas. Lalu langkah selanjutnya dan langkah selanjutnya lagi, dst.

Beata Ibu Teresa dari Kalkuta mengatakan “ya” kepada Yesus. “Ya” itu menarik dirinya dari rumah asalnya di Albania dan membawanya ke sebuah sekolah susteran, kemudian ke jalan-jalan di Kalkuta – hampir tidak dapat dikatakan suatu kehidupan yang nyaman. Namun demikian biarawati ini melihat beban hidupnya ringan karena dia tahu bahwa Yesus menyertai dirinya. Rencana-rencananya sendiri, preferensi-preferensi dan mimpi-mimpinya harus memberi jalan bagi rencana-rencana dan preferensi-preferensi Kristus. Selagi Ibu Teresa mengabdikan dirinya kepada segala niat-Nya, maka dia mengalami sukacita sejati. Jika kita berbicara mengenai Ibu Teresa, maka yang kita bayangkan adalah seorang biarawati yang hampir selalu tersenyum dengan sepasang mata yang terang memancarkan kasih Allah.

Mengikut Yesus berarti memilih jalan yang sempit. Walaupun ini bukan merupakan jalan yang mudah, jalan ini pun bukanlah jalan yang selalu penuh penderitaan serasa matahari tidak pernah bersinar. Jalan yang sempit mungkin terlihat menakutkan, namun Allah ada bersama kita, dan dengan Allah segala sesuatu itu mungkin. Selagi kita melangkah di atas jalan yang sempit itu, kita akan senantiasa menemukan rahmat yang kita butuhkan – pada saat yang tepat, dalam ukuran yang tepat. Melalui Roh Kudus-Nya, Yesus akan melihat hal itu. Yesus ingin agar kita berhasil, bukan sebaliknya!

DOA: 

Ya Tuhan, aku akan mengikuti jejak-Mu pada hari ini. Nyatakanlah jalan-jalan-Mu kepadaku. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu, maka ke mana saja Engkau pergi, aku pun dapat pergi. 
Amin.

29 September 2015

MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [TAHUN B] – 27 September 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Kata Yohanes kepada Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum seangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [ditempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan. (Mrk 9:38-48)

Bacaan Pertama: Bil 11:25-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8,10,12-14; Bacaan Kedua: Yak 5:1-6 


Saya hanya akan menyoroti bagian pertama dari bacaan Injil hari ini (Mat 9:38-41). Bacaan Injil ini sebenarnya mengungkapkan fenomena yang diketahui keberadaannya pada masa gereja awal. Ingat, misalnya, cerita tentang anak-anak Skewa (lihat Kis 19:13-14). Dan, tentunya hal ini terjadi pada masa Yesus juga.


Seperti telah kita baca di berbagai bacaan Injil lainnya, pada masa Yesus praktis setiap orang percaya tentang keberadaan roh-roh jahat. Setiap orang percaya bahwa bahwa baik penyakit fisik maupun mental disebabkan oleh pengaruh sangat buruk dari roh-roh jahat ini. Ada satu cara yang biasa digunakan untuk mengusir roh-roh jahat itu: Apabila seseorang mengetahui suatu nama yang lebih memiliki kuat-kuasa dan memerintahkan roh jahat itu untuk keluar meninggalkan seseorang, maka diharapkan roh jahat itu menjadi tak berdaya. Inilah kurang lebih gambarannya.


Yohanes sempat melihat seseorang menggunakan nama Yesus yang penuh kuasa itu untuk mengalahkan roh jahat dan dia telah mencoba untuk mencegahnya, karena orang itu tidak termasuk dalam kelompok pengikut Yesus. Namun di sini Yesus menyatakan, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melakukan karya besar dalam nama-Nya dan sekaligus adalah musuh-Nya. Lalu Yesus mengajarkan sebuah prinsip, yaitu “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:40).

Pada hakekatnya ini adalah pelajaran mengenai toleransi, suatu pelajaran yang dibutuhkan oleh hampir semua orang. Umat Kristiani dituntut untuk senantiasa menunjukkan sikap yang terbuka dan toleran kepada sesama, bukan terbatas pada mereka yang seiman saja. Dalam Mrk 9:33-37, Yesus mengajar agar masing-masing murid-Nya tidak menjadi angkuh secara pribadi, sedangkan pada bacaan Injil hari ini Yesus mengajar tentang betapa salahnya juga keangkuhan secara berkelompok.

Segala hal harus dibuktikan oleh kehidupan kita yang nyata. Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat menyalahkan kepercayaan-kepercayaan yang membuat seorang insan manusia menjadi pribadi yang baik. Kalau begitu halnya, maka kita pun menjadi kurang bersikap intoleran terhadap mereka yang “lain”. Kita boleh saja tidak sependapat dengan kepercayaan yang dianut oleh seorang lain, tetapi dengan demikian tidak serta-merta kita boleh membenci orang yang bersangkutan dan melakukan kekerasan atas dirinya dan merusak harta miliknya.

Intoleransi terhadap iman-kepercayaan yang berbeda dengan kita mencerminkan “kesombongan rohani” dalam diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita pun tidak lebih baik dari orang Farisi dan pemuka agama pada zaman Yesus. Pentinglah untuk kita ingat, bahwa kebenaran itu selalu lebih besar daripada apa yang dapat dipahami oleh seseorang. Dasar dari toleransi bukanlah bahwa kita menerima segalanya karena kita malas. Toleransi berarti menghormati segala kemungkinan kebenaran yang mengambil berbagai bentuk pengungkapan. Toleransi berarti menghormati secara jujur kebebasan hati nurani dalam menghadapi berbagai pola kehidupan yang bersifat mekanistis, kebiasaan-kebiasaan yang resmi diterima, dan kekuatan-kekuatan sosial yang bertentangan. Bukankah ini menunjukkan kasih yang lebih besar daripada iman atau pengharapan? Intoleransi adalah suatu tanda keangkuhan dan ketidakpedulian, karena ini adalah tanda bahwa seseorang sesungguhnya percaya bahwa tidak ada kebenaran di luar kebenaran yang diketahui dan dikenalnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang memakai nama Yesus dengan serius (dan penuh hormat) yang boleh kita hina dan asingkan. Demikian pula tidak ada satu pun tindakan kebaikan dalam nama Yesus yang dapat dilarang oleh para pengikut-Nya sendiri.

DOA: 


Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Jauhkanlah kami dari sikap intoleransi dan angkuh terhadap pihak mana pun yang tidak seiman. 
Amin.

Pesta Tiga Malaikat Agung

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – Selasa, 29 September 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Dan 7:9-10,13-14)

Bacaan Pertama alternatif: Why 12:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51


Pada hari ini Gereja merayakan pesta tiga malaikat agung: Mikael, Gabriel dan Rafael. Mikael berarti “Siapa yang seperti Allah?”, kita ingat dia sehubungan dengan pertempurannya dengan Lucifer, si Iblis, ‘seorang’ malaikat Tuhan yang memimpin pemberontakan melawan Allah (Why 12:7-9). Gabriel berarti “Manusia Allah”, yang kita ingat namanya dalam kisah pemberitahuan tentang perkandungan Yohanes Pembaptis dalam rahim Elisabet dan Yesus dalam rahim Maria (Luk 1:11-22,26-28). Rafael berarti “Allah menyembuhkan”; dia kita ingat pada waktu menolong Tobit dan Sara (Tobit 3:16-17).

Para malaikat adalah sepenuhnya makhluk-makhluk spiritual yang memiliki intelek dan kehendak. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki hidup kekal-abadi, dan dalam hal kesempurnaan mereka melebihi segala makhluk yang berwujud. Seperti kita (manusia), mereka juga diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus (lihat Kol 1:16), untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya dalam alam/”dunia” spiritual. Dari Kitab Suci kita mengetahui bahwa malaikat-malaikat adalah “roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14).

Dari Kitab Suci kita melihat bahwa malaikatlah yang melindungi Lot (Kej 19); menyelamatkan Hagar dan anaknya, Ismail (Kej 16); mengunjungi para nabi (2Raj 1:3), menahan tangan Abraham ketika siap untuk menyembelih anaknya, Ishak sebagai kurban persembahan (Kej 22); menggulingkan batu penutup kubur Yesus (Mat 28:2); mengumumkan kebangkitan Yesus (Mat 28:6); dan menolong memimpin para rasul dan Gereja perdana (Kis 5:18-20; 8:26-29; 10:3-8; 12:6-11; 27:23-25).

Kehidupan kita di atas bumi tidak dibatasi oleh realitas-realitas materiil yang dapat kita lihat, sentuh dan rasakan. Ada satu lagi alam/”dunia” yang mempunyai pengaruh atas diri kita, alam/”dunia” spiritual. Kedua alam/”dunia” ini – “dunia” fisik dan “dunia” spiritual – datang bersama ke dalam kehidupan kita. Sementara para malaikat adalah makhluk spiritual dan bukan makhluk badani, kita-manusia adalah keduanya, baik makhluk fisik maupun spiritual. Itulah sebabnya mengapa kita-manusia dipandang sebagai “mahkota ciptaan”. Itulah juga sebabnya mengapa misi para malaikat adalah untuk melayani dan melindungi kita.

Di bumi ini posisi kita dapat saja lebih rendah daripada para malaikat dan kita sangat tergantung kepada mereka. Namun pada suatu hari kelak kita akan masuk ke surga, dimuliakan dan diangkat ke posisi yang bahkan lebih tinggi daripada posisi para malaikat yang kita hormati dan muliakan pada hari ini. Kita “ditakdirkan” untuk menikmati kemuliaan abadi bersama Yesus selama-lamanya, dimasukkan ke dalam hidup Tritunggal Mahakudus sendiri. Semoga kita tidak pernah melupakan martabat dari panggilan kita!


DOA: 

Bapa surgawi, Allah yang baik, Khalik langit dan bumi. Kuduslah nama-Mu. Engkau telah menciptakan segala sesuatu yang ada. Oleh Roh Kudus-Mu, bukalah mataku agar dapat melihat alam/dunia spiritual. Dengan pertolongan para malaikat-Mu, penuhilah diriku dengan hasrat mendalam untuk membawa orang-orang agar mengenal Putera-Mu, Yesus Kristus, dan menjadi murid-murid-Nya yang setia. Bapa, semoga surga dipenuhi dengan semua anak-anak-Mu terkasih. 
Amin.


28 September 2015

Yesus Mengetahui Pikiran Mereka

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 28 September 2015)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Inosensius dari Bertio, Imam



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50)

Bacaan Pertama: Za 8:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29 


“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka …” (Luk 9:47).

Apakah yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Yesus dapat melihat apa yang ada dalam pikiran dan hati kita? Apakah Yesus melihat bahwa aku merasa sedikit “superior” dalam hal kesucian hidup ketimbang rekan-kerjaku yang hidup “kumpul-kebo” bersama kekasihnya? Apakah Yesus melihat aku mencibir ketika mendengar paduan suara kelompok “lansia” menyanyikan sebuah “lagu persembahan” dengan nada suara yang agak sumbang? Apakah Yesus mengetahui bahwa aku merasa lebih “hebat” daripada para peserta lainnya yang hadir dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci lingkungan? Apakah Yesus sungguh mengetahui semua ini, karena aku tidak pernah mengungkapkannya dengan ucapan kata-kata? Jawabnya: Ya!

Ide bahwa Yesus menyadari akan apa saja yang ada dalam pikiran-pikiran para murid-Nya – dan juga pikiran-pikiran kita – dapat membuat kita menggeliat sedikit. Seperti juga para murid Yesus yang awal, kita semua pun memiliki sikap-sikap yang barangkali lebih baik disembunyikan dari mata orang luar –kept under cover!

Bayangkan saya: Setelah sekian lama hidup bersama Yesus, para murid-Nya yang terdekat masih saja belum memahami bahwa misi sang Guru bukanlah tentang siapa yang paling besar, melainkan siapakah yang paling rendah hati – yang terkecil! Yesus mengetahui bahwa satu-satunya jalan bagi mereka untuk disembuhkan adalah membuat terang semua ini sehingga jelas bagi mereka dan mereka pun disembuhkan. Namun demikian, Yesus tidak menyudutkan mereka sehingga merasa dipermalukan di depan orang lain. Yesus menolong mereka agar dapat semakin menjadi serupa dengan diri-Nya.

Hal yang sama juga berlaku bagi kita masing-masing. Yesus ingin menyembuhkan diri kita dari keangkuhan atau rasa lebih superior ketimbang orang lain. Ia ingin membawa sikap-sikap kita yang negatif ke dalam terang, bahkan sikap-sikap yang sebelumnya tidak pernah kita rasakan ada pada kita. Kita semua mempunyai pola-pola dosa yang belum diselesaikan yang sungguh menjadi sebuah batu sandungan dan merugikan kita. Akan tetapi, apabila kita datang kepada Yesus dengan hati yang terbuka, maka Dia yang membuat hati kita dan mengetahui pikiran kita, dapat mencerahkan kita, mengampuni kita, dan membebas-merdekakan kita!

Kita tidak perlu takut kepada Yesus, betapa dalam pun kiranya Dia mengenal kita. Yesus tidak ingin menghukum kita. Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan diri kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada-Nya agar membeberkan sikap-sikap kita yang tidak baik. Yang terbaik bagi kita adalah untuk tidak mentolerir pola-pola dosa dengan mana kita selama ini merasa nyaman. Yesus mempunyai begitu banyak hal lagi yang ingin diberikan-Nya kepada kita, hanya apabila kita membuang segala kegelapan yang masih melekat pada diri kita.

DOA: 

Tuhan Yesus, sekarang aku datang menghadap Engkau dalam pertobatan. Engkau telah menyelidiki aku dan sungguh mengenal diriku. Engkaulah yang menciptakan diriku dan Engkau mengasihi aku. Aku menempatkan rasa percayaku dalam hasrat-Mu untuk mengampuni diriku dan memulihkan aku. 
Amin.

Allah Memilihmu

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Bukankah fakta bahwa Allah dari alam semesta memilih kita, sungguh luar biasa? Ia, satu-satunya Allah yang hidup, yang sudah ada dan yang akan ada, memilih kita untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya. Kita menerima kehormatan tertinggi yang pernah ada di alam semesta, kita dipanggil dan dipilih untuk menjadi pelayan oleh Tuhan Allah sendiri.

Sebagai orang-orang pilihan, Ia memanggil kita untuk pergi dan menghasilkan buah, menjadi saluran berkat Allah, untuk menunjukkan kepada dunia hidup yang Allah inginkan bagi setiap manusia, dan memberitakan Injil Kristus kepada dunia yang sedang terhilang dalam dosa. Sebagai orang-orang pilihan, Ia menganggap kita dapat dipercaya, yang dimampukan dan diberi kuasa untuk bisa tetap setia sampai akhir, kepada kita dipercayakan rahasia Allah yang tak terhingga untuk diurus dan diteruskan kepada orang percaya lainnya, dan menjadikan kita utusan-utusan (duta besar) sorga dengan segala otoritas-Nya.

Sekali lagi panggilan ini sungguh luar biasa, bukan? Panggilan ini bukan untuk saya saja, tetapi juga untuk semua orang yang mendengarnya. Kapan lagi kita bisa melayani Allah dari alam semesta? Ada tugas besar sedang menanti kita, tidakkah kita ingin menyampaikannya dan mengajak orang-orang di sekitar kita juga?

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
(Yohanes 15:16)

Berita Kalvari - Minggu 27 September 2015











Hari Pangan Sedunia KAJ - 2015

PANDUAN AKSI NYATA

BERSYUKUR: MERAWAT BUMI RAHIM PANGAN KITA
Hari Pangan Sedunia KAJ












Sumber : KAJ



27 September 2015

Ada Maksud Allah

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Pernahkah Anda mendengar pernyataan bahwa Anda ada karena Allah, dari Allah, dan untuk Allah? Mohon jangan menganggap pernyataan ini bualan semata. Ada banyak orang yang belum mengerti tujuan hidupnya, untuk siapa dan alasan apa mereka ada. Ada banyak juga orang yang salah mengerti tentang tujuan hidupnya, dan akibatnya, mereka hidup tidak dalam jalan-jalan Allah.

Ada tujuan dan alasan mengapa tumbuh-tumbuhan, hewan, bumi, serta alam semesta ini diciptakan. Menurut kitab Kejadian, semuanya dipersiapkan Allah sebelum manusia ada, dan setelah manusia ada, Allah memberinya kuasa atasnya. Untuk kebenaran yang sama, ada tujuan dan alasan mengapa kita ada di dunia; kita diciptakan untuk menjadi obyek dari kasih Allah. Ia ingin kita ada untuk menjadi sahabat-Nya. Anda bertanya bagaimana saya bisa tahu bahwa itu benar? Kita bisa melihat lagi kitab Kejadian dan seluruh Kitab Suci; Allah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kita bisa hidup tanah, air, udara, cahaya, sumber makanan; segalanya, termasuk nafas-Nya sendiri. Alkitab bahkan menulis bahwa Allah berjalan-jalan di Eden dan mencari manusia. Lihat! Ia begitu ingin bersekutu dengan kita.

Setelah mengetahui bahwa kita diciptakan untuk rencana sebesar dan seindah itu dari Allah atas alam semesta sendiri, kita tinggal memutuskan untuk berkata ya atau tidak. Allah sesungguhnya punya kuasa untuk membuat kita berkata ya, tetapi Ia memilih untuk memberi kita kehendak bebas, untuk menentukan pilihan kita sendiri. Dan, masih belum terlambat untuk kita berkata ya, karena ada banyak pekerjaan yang bisa kita kerjakan dalam rencana-Nya. Ia ingin kita menjadi rekan-rekan sekerja-Nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

(Efesus 2:10)

Penyertaan Allah bagi yang Taat


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Yeremia adalah satu dari sekian banyak nabi-nabi besar. Sebagai nabi yang dipanggil Allah, ia menerima tugas yang sangat berat. Ia harus menyampaikan pesan serta penghukuman Allah atas umat-Nya, dan untuk melakukannya, ada resiko besar yang harus dihadapinya. Ia mungkin akan dimusuhi banyak orang, hidupnya mungkin tidak akan tenang karena ia harus menjadi pelarian. Tidak heran, jika awalnya Yeremia menolak tugas ini. Dengan sopan, ia berusaha mencari alasan supaya bukan dia yang menerima tugas itu.

Kita yang diciptakan untuk pekerjaan baik Allah memang diberi kehendak bebas untuk memutuskan apakah kita akan menerima atau menolak tugas tersebut. Kita punya banyak kesempatan untuk mencari-cari alasan supaya Allah memakai orang lain dan bukan kita. “Aku masih muda,” “aku tidak pandai bicara,” “aku tidak cakap,” dan seterusnya. Daftar ini bisa saja tidak berhenti di sini, karena mencari-cari alasan itu mudah dan sudah umum. Tetapi cara kerja Allah tidak berhenti di situ. Ia memberi kita kehendak bebas tetapi juga memberitahu kita akibat dari kehendak bebas kita. Jika kita menerima tugas itu, upah kita sudah tersedia sorga. Sebaliknya, jika kita menolak tugas itu, upah kita juga sudah tersedia, penghukuman. Penghukuman karena apa? Karena kita sudah tahu apa yang benar, tetapi tidak melakukannya.

Allah memberitahu Yeremia tentang kedua akibat ini, dan Ia berjanji kepadanya bahwa jika Ia memilih untuk melakukan tugas itu, Allah akan menyertainya sampai akhir. Allah yang sama juga berjanji kepada kita bahwa ketika kita bersedia untuk turut dalam rencana-Nya, Ia akan beserta kita hingga akhir.

Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
(Yeremia 1:5-7)

26 September 2015

Minggu, 27 September 2015 Hari Minggu Biasa XXVI

Tindakan apapun dari perkawinan, yang dilakukan sebagai suatu tindakan yang disengaja menelantarkan kodrat dari kekuatan untuk memberikan kehidupan, adalah bertentangan dengan hukum Tuhan dan hukum kodrat, dan kepada yang melakukan perbuatan tersebut dicap dengan kesalahan dosa berat. Jangan membiarkan umat beriman menjadi keliru dalam hal hukum Tuhan yang sangat besar ini; terlebih lagi menganggap diri mereka kebal  [tidak tersangkut paut] dari pandangan yang salah ini [yaitu tentang kontrasepsi], apalagi bekerja sama untuk memperbolehkannya. Jika ada imam atau gembala jiwa- jiwa yang semoga tidak ada sebab tidak diijinkan Tuhan- yang memimpin umat beriman yang dipercayakan kepada mereka ke dalam kesalahan-kesalahan ini, atau sedikitnya meneguhkan mereka dengan persetujuan atau dengan sikap diam yang patut dipersalah-kan, biarlah ia mengingat kenyataan bahwa ia harus mempertanggungjawabkan tentang hal ini di hadapan Tuhan, Hakim yang Tertinggi, karena pengkhianatan atas kepercayaan yang kudus yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.(Paus Pius XI dalam Surat Ensiklik Casti Connubii, 56-57, HV 28-30)

Antifon Pembuka (Dan 3:31.29.30.42.43)

Segala sesuatu yang Engkau perbuat atas kami, ya Tuhan, telah Engkau putuskan dengan benar. Sebab, kami telah berdosa terhadap-Mu dan tidak mematuhi perintah-perintah-Mu. Tetapi, muliakanlah nama-Mu, dan perlakukanlah kami seturut besarnya belas kasih-Mu. 

All that you have done to us, O Lord you have done with true judgment, for we have sinned against you and not obeyed your commandments. But give glory to your name and deal with us according to the bounty of your mercy.

Omnia quæ fecisti nobis, Domine, in vero iudicio fecisti, quia peccavimus tibi, et mandatis tuis non obedivimus: sed da gloriam nomini tuo, et fac nobiscum secundum multitudinem misericordiæ tuæ.
Mzm. Beati immaculati in via: qui ambulant in lege Domini. 

Doa Pagi

Ya Allah, Engkau selalu memberi kesempatan kepada kami untuk berbuat baik. Semoga kami senantiasa memanfaatkan setiap kesempatan yang Kauberikan kepada kami itu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu,Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Bilangan (11:25-29)

"Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Sekiranya seluruh umat Tuhan menjadi nabi!"

Sekali peristiwa turunlah Tuhan dalam awan dan berbicara kepada Musa. Kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang ada pada Musa, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua Israel. Ketika Roh itu hinggap pada mereka, penuhlah mereka dengan Roh seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. Pada waktu itu masih ada dua orang tinggal diperkemah-an; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat tetapi mereka tidak turut pergi ke kemah. 

Ketika Roh itu hinggap pada mereka, penuhlah mereka itu dengan Roh seperti nabi di tempat perkemahan. Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa, Eldad dan Medad penuh Roh seperti nabi di tempat perkemahan! Maka menyahutlah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa, Tuhanku Musa, cegahlah mereka! Tetapi Musa berkata kepadanya, Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, sekiranya seluruh umat Tuhan menjadi nabi, karena Tuhan memberikan Roh-Nya kepada mereka!

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 853
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.
Ayat. (Mzm 19:8.10.12-13.14)
  1. Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
  2. Takut Tuhan itu suci, tetap utuh selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya.
  3. Semua itu diperhatikan oleh hamba-Mu; memang besar ganjaran orang yang berpegang padanya. Tetapi siapa yang sadar akan kesesatannya? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
  4. Lindungilah pula hamba-Mu terhadap orang congkak; jangan sampai aku dikuasai olehnya! Maka aku akan menjadi tak bercela, dan bebas dari pelanggaran besar.
Bacaan dari Surat Rasul Yakobus (5:1-6)


"Kekayaan sudah membusuk"

Hai kamu orang-orang kaya, menangis dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah membusuk, dan pakaianmu sudah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu, dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. 

Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena kamu telah menahan upah para buruh yang telah menuai hasil ladangmu. Dan keluhan mereka yang menyabit panenmu telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam. Kamu telah hidup dalam kemewahan dan berfoya-foya di bumi! Kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari Penyembelih-an. Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang jujur, dan ia tidak dapat melawan kamu.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 17:17b.a)
Firman-Mu adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:38-43.45.47-48)


"Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah."

Pada suatu hari Yohanes berkata kepada Yesus, "Guru, kami melihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu. Lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Tetapi Yesus berkata, Janganlah kamu cegah dia! Sebab tak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan ganjarannya. Barangsiapa menyesatkan salah seorang dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan
engkau, penggallah, karena lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk ke dalam hidup daripada dengan utuh kedua belah tangan dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik bagimu dengan kaki timpang masuk ke dalam hidup daripada dengan utuh kedua kaki dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena
lebih baik bagimu masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati, dan api tidak padam.

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Seperti lazimnya keluarga-keluarga Eropa lain, dalam keluarga SantaTheresia dari Lisieux juga ada tradisi di mana setiap Natal orang tua memberikan hadiah-hadiah yang menyenangkan kepada anak-anaknya. Dengan keluguannya sebagai seorang bocah, Teresia belum mampu membayangkan bahwa tradisi itu suatu saat akan berhenti.

Pada malam Natal 1886 ketika SantaTheresia berusia 13 tahun, tanpa sengaja ia mendengar suara gumaman ayahnya yag sedang mengamati hadiah-hadiah yang telah disiapkannya, Sudahlah ini tahun yang terakhir! Kata-kata Bapak Louis Martin, ayahnya, itu sungguh-sungguh membuat hati SantaTheresia pilu, bagaikan petir di siang bolong. Kata-kata yang sungguh-sungguh mengancam kenyamanan hidup SantaTheresia. Ia sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa ayahnya akan  menghentikan kegiatan menyenangkan yang selalu ia nanti-nantikan setiap tahun: hadiah Natal!

Karena kedekatannya dengan Allah, 
SantaTheresia segera mampu melihat bahwa di balik peristiwa sengsara itu ada sesuatu yang mau diajarkan oleh Allah kepadanya. Teresia tahu bahwa Allah sesungguhnya ingin mengajaknya untuk segera meninggalkan sifat kekanak-kanakannya dan melangkah untuk semakin dewasa di hadapan Allah. Meninggalkan sifat kekanak-kanakan bukanlah perkara mudah bagi SantaTheresia. Proses meninggalkan sifat
kekanak-kanakan adalah sebuah peristiwa sengsara dalam kehidupan 
SantaTheresia, namun peristiwa sengsara itu telah membawanya menjadi seorang manusia baru di hadapan Allah. Itulah. Rahmat Natal yang telah mengubah hidup SantaTheresia dari Lisieux.

Dalam kehidupan sebagai manusia, kita pun kerap kali harus menghadapi peristiwa sengsara agar Allah bisa membawa kita menjadi manusia baru di hadapan-Nya. Seorang bapak mengatakan bahwa berlaku jujur di kantor adalah suatu hal yang mustahil di tengah-tengah zaman di mana korupsi sudah menggurita sebagai sebuah budaya.Ora melu edan ora keduman (Jawa: Kalau tidak ikut gila, tidak akan dapat bagian).

Seorang ibu mengatakan bahwa mengampuni suami yang telah menyakiti hatinya adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukannya. Seorang remaja juga mengatakan bahwa suatu hal yang berat baginya untuk berbagi barang dengan teman-temannya. Mengapa bisa demikian? Ketika manusia masih terbelenggu oleh egosentrisme (sikap hidup mengutama-kan kepentingan diri sendiri), hidup jujur, mengampuni, berbagi dan semua perbuatan baik yang lain menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dijalankan. Oleh karena itu, egosentrisme harus dilenyapkan ketika manusia ingin hidup lebih sesuai dengan kehendak Allah. Namun demikian harus diakui bahwa melenyapkan egosentrisme ternyata bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang. Melenyapkan egosentrisme adalah peristiwa sengsara dalam kehidupan manusia.

Tidak mudahnya melenyapkan egosentrisme dilukiskan oleh Tuhan Yesus seperti tindakan memenggal tangan danmemenggal kaki dan mencungkil mata dari tubuh kita sendiri. Ini adalah peristiwa sengsara yang sungguh menyakitkan. Namun demikian, bila kita mampu melakukannya, kita akan menjadi manusia baru yang memiliki hidup lebih sesuai dengan
kehendak Allah. Melenyapkan egosentrisme pasti akan menimbulkan rasa sengsara atau tidak nyaman dalam hidup kita. Namun sengsara itu akan membawa kita kepada nikmat.

Bila kita mampu melenyapkan ego kita, kita akan merasakan nikmatnya menjadi anak-anak Allah yang sejati, mampu hidup jujur, mengampuni dan berbagi dengan tulus hati. Siapkah Anda untuk mengalami "sengsara" demi mendapatkan "nikmat"?

Antifon Pembuka (MZm119:49-50

Ingatlah, ya Tuhan, firman yang Engkau sampaikan kepada hamba-Mu, dengannya Engkau telah memberi harapan kepadaku. Itulah penghiburanku di saat aku terpukul.

Remember your word to your servant, O Lord, by which you have given me hope. This is my comfort when I am brought low. 

Memento verbi tui servo tuo, Domine in quo mihi spem dedisti: haec me consolata est in humilitate mea

Menghargai Anak

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Matius 18:6-11

Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. (Matius 18:10)

Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2013 terjadi 1.620 kasus kekerasan terhadap anak, yang terdiri atas :
  1. kekerasan fisik (30%), 
  2. kekerasan emosional (19%), 
  3. dan yang tertinggi adalah kekerasan seksual (51%).

Statistik yang memprihatinkan. Anak-anak yang semestinya dirawat dan ditumbuh kembangkan jadi pribadi unggul, malah jadi korban kekerasan.

Yesus mengecam keras orang yang memperlakukan anak kecil secara jahat. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (ay. 6). Kata “menyesatkan”, skandalizo, berarti menjerat, membuat tersandung, menyebabkan orang meninggalkan jalan yang benar. Yesus serius memperhatikan iman anak kecil sehingga Dia serius menghukum orang yang menyesatkan anak kecil. Yesus sangat menghargai anak kecil dan menentang orang yang merendahkan mereka.

Peringatan Yesus itu dalam konteks iman, namun dapat diterapkan secara lebih luas. Banyak orangtua kurang menghargai anak dengan membanding-bandingkan anak dengan anak lain, berfokus pada kesalahan anak, tidak memberi anak kesempatan berbicara atau mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Perlakuan semacam ini dapat berdampak buruk, tak kalah dari kekerasan secara fisik. Karena itu, biarlah kasih Yesus di dalam hati kita, mengajar kita untuk mengasihi anak-anak seperti Yesus mengasihi mereka. Kiranya pula anak-anak itu boleh mengenal Tuhan mereka sejak dini.
MENGASIHI ANAK BERARTI MENGHARGAI MEREKA
DAN MENOLONG MEREKA MENGALAMI KASIH TUHAN

25 September 2015

Kita Pun Dipanggil Untuk Menghayati Kehidupan Tersalib

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Sabtu, 26 September 2015)
Ordo Franciscanus Saecularis: Peringatan S. Elzear dan Delfina, OFS 

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45)

Bacaan Pertama: Za 2:1-5,10-11a; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13
Yesus telah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa diri-Nya akan mengalami banyak penderitaan dan ditolak oleh para pemuka agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk 9:22). Sekarang – dalam pemberitahuan kedua tentang penderitaan-Nya – Yesus mengatakan kepada mereka lagi bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Luk 9:44). Mereka (para murid-Nya) sungguh tidak mengerti!

Dalam Injil yang ditulisnya, Lukas ingin mengemukakan bahwa kebutaan atau kebebalan para murid itu tidaklah lepas dari rancangan Allah itu sendiri. Bagaimana pun juga Pentakosta belum datang, artinya para murid belum menerima Roh Kudus yang akan menyatakan kepada mereka arti sepenuhnya dari Kalvari. Lukas juga mencatat bahwa para murid merasa takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus. Seakan-akan dia mau mengungkapkan bahwa para murid tidak tahu karena mereka tidak ingin/mau tahu (Luk 9:45).

Dalam proses menuju kepada pengenalan akan Allah, bukankah kita juga seringkali dihinggapi rasa takut atau menghindarkan diri dari apa yang kita pikir Allah mungkin mencoba katakan kepada kita? Dengan demikian, betapa indah jadinya untuk mengetahui bahwa kita dapat mengenal Yesus secara pribadi. Melalui Dia kita mengetahui bahwa kita mempunyai seorang Bapa di surga yang kasih-Nya dapat kita alami setiap hari. Barangkali hal yang pada awalnya agak tidak mudah untuk kita pahami namun setahap demi setahap dapat kita pahami dan imani (semuanya di bawah pengaruh Roh Allah) adalah bahwa “karena Tuhan yang kita ikuti disalibkan, maka kita pun dipanggil untuk menghayati kehidupan tersalib”, suatu crucified life.Sebagai man of the Cross, Santo Fransiskus dari Assisi tahu benar apa makna dari “kehidupan tersalib” itu, yang dihayatinya dengan setia sejak saat pertobatannya sampai saat kematiannya.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Tuhan Yesus tidak hanya membawa serta dosa-dosa kita ke atas kayu salib, Ia juga membawa-serta kita juga: “Aku telah disalibkan dengan Kristus”, tulis Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2:19). Setiap hari kita harus mempasrahkan diri kita kepada karya Roh Kudus Allah selagi kita berupaya untuk mati terhadap kebiasaan-kebiasaan lama kita, dosa-dosa kita, sikap dan perilaku mementingkan diri-sendiri, agar kita dapat menjadi “ciptaan baru”, yang dijiwai dengan hidup Kristus sendiri.

Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], seorang pembaharu Ordo Karmelit, menulis tentang bagaimana Allah memurnikan dan membersihkan mereka yang ingin menjadi matang/dewasa sebagai orang Kristiani: “Ah, Tuhanku dan Allahku! Berapa banyak orang datang kepada-Mu mencari penghiburan dan kepuasan bagi diri mereka sendiri dan menghasrati bahwa Engkau memberikan kebaikan-kebaikan dan karunia-karunia, namun alangkah sedikitnya orang-orang yang ingin memberikan kepada-Mu kesenangan dan sesuatu yang menimbulkan biaya bagi mereka sendiri, mengesampingkan kepentingan mereka sendiri” (Malam Gelap).

Nah, marilah kita tanpa rasa takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah tentang makna salib Kristus atau bagaimana kita dapat menyenangkan diri-Nya.

DOA: 

Bapa surgawi, biarlah salib Putera-Mu berlaku pada setiap bagian dari keberadaanku – kecerdikanku, rasa percaya-diriku, simpati-simpatiku, afeksi-afeksiku, selera-seleraku, perasaan-perasaanku, ambisi-ambisiku, pemikiran-pemikiran duniawiku, kemalasanku, pengabaian doaku, keinginan tahu diriku yang tidak sehat, sifat pemarahku, ketidakpercayaanku, kecepatanku dalam mengkritisi orang lain, dan apa saja yang merupakan penghinaan terhadap kekudusan-Mu dan suatu kesempatan yang dapat digunakan Iblis untuk maksud jahatnya. Terima kasih, Bapa! 
Amin.

Sabtu, 26 September 2015 Hari Biasa Pekan XXV

Membaca Kitab Suci berarti berpaling kepada Kristus untuk meminta nasihat (St. Fransiskus dari Assisi)

Antifon Pembuka (Za 2:10)

Bersorak-sorailah dan bersukarialah, sebab Aku sungguh datang dan akan tinggal di tengah-tengahmu.

Doa Pagi

Allah Bapa Mahabaik, Engkau berkenan tinggal di antara kami melalui Sabda-Mu. Semoga hati kami terbuka dan bersedia menerima Putra-Mu terkasih, Yesus Tuhan kami, yang menjadi jalan, kebenaran dan kedamaian kami, dan bersama Engkau dan Roh Kudus. Amin. 

Kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya tidaklah bisa dibatasi oleh apa pun. Hanya Allah sendiri yang tahu tentang kuasa-Nya dan kehendak-Nya secara utuh. Namun demikian Dia mengharapkan orang-orang yang percaya, selalu hidup dalam kedamaian dan sukacita.

Bacaan dari Kitab Nubuat Zakharia (2:5-9,14-15a)

"Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu."

Aku, Zakharia, melayangkan mataku dan melihat: Tampak seorang yang memegang tali pengukur. Aku lalu bertanya, Ke manakah engkau pergi? Maka ia menjawab, Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebar dan panjangnya. Lalu malaikat yang berbicara dengan daku maju ke depan, sementara itu seorang malaikat lain maju, mendekatinya dan diberi perintah. Larilah, katakanlah kepada orang muda yang di sana itu, demikian, Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. Dan Aku sendiri, demikianlah sabda Tuhan, akan menjadi tembok berapi di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya. Bersorak sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu, demikianlah sabda Tuhan, dan pada waktu itu banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Kidung Tanggapan
Reff. Tuhan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.
Ayat. (KIDUNG Yer 31:10.11.12ab.13)
  1. Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa, dan beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerahkan Israel akan menghimpunnya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!
  2. Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat daripadanya. Mereka akan datang bersorak-sorai di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan Tuhan.
  3. Waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang muda dan orang-orang tua akan bergembira, Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Yesus menubuatkan kepada para murid tentang jalan penyelamatan yang harus ditempuh-Nya. Namun demikian tidak banyak dari mereka yang bisa memahami apa yang dinubuatkan oleh Yesus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:43b-45)

"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya."

Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Dengarkan dan camkanlah segala perkataanku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus

Renungan

Perkataan Yesus sulit dimengerti dan tetap tersembunyi bagi para murid  karena menyangkut nubuat tentang penderitaan dan kematian Yesus yang mengerikan. Berita ini tidak diharapkan meski pasti terjadi. Pada saatnya akan tersingkap dan mereka mengerti setelah Yesus bangkit. Kita semua tidak selalu bisa memahami kehendak Yesus. Akan tetapi kita tetap mengikuti Dia yang menderita, wafat dan bangkit.

Doa Malam

Allah Bapa kami di surga, siapa pun yang mohon kedamaian dan cahaya untuk hari kemudian, Kauberi lambang pengharapan dalam diri Yesus. Ajarilah kami menempuh jalan-Nya serta mengorbankan diri demi kedamaian di dunia. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.



Sumber Hikmat dan Pengetahuan


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/
Beberapa kali saya menonton tayangan ilmiah di salah satu saluran televisi lokal di kota saya tentang keberadaan alien. Salah satu hal yang dibahas adalah tentang lokasi sesungguhnya dari Taman Eden. Penjelasan dan bukti-bukti yang diutarakan akhirnya mengarah kepada satu hipotesa bahwa Taman Eden adalah suatu laboratorium alien di mana manusia adalah hasil dari eksperimennya. Emm.... berapa kalipun saya berusaha memikirkannya, satu kesimpulan tetap muncul bahwa kalau memang benar Adam dan Hawa adalah hasil eksperimen alien, berarti Allahlah alien itu.

Seberapa seringpun manusia berusaha untuk memahami Allah dan alam semesta, tidak jarang mereka sampai kesimpulan-kesimpulan sementara yang aneh. Semakin pandai, semakin kaya pengetahuan, semakin panjang gelar mereka, sebagian justru menganggap bahwa Allah itu tidak ada. Mereka lebih percaya kepada jawaban-jawaban logis mereka sendiri, tanpa mau mengenal lebih dalam tentang logikanya Tuhan.

Kolose 2:3 menulis bahwa di dalam Allah tersembunyi segala harta hikmat dan dan pengetahuan. Kesimpulannya, Allah adalah sumber dari harta hikmat dan pengetahuan, baik yang ada dahulu, maupun yang akan ada kemudian. Jadi, kalau ada orang yang menganggap dirinya berpengetahuan tetapi menolak adanya Allah, maka ia sedang memuja pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang benar seharusnya menuntun kita kepada Allah, membuat kita mengakui, mengenal, dan percaya kepada Allah, bahwa pengetahuan yang kita punya sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan pengetahuan Allah semesta alam yang tidak terbatas.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
(Roma 11:33)

Siapakah Ia yang berasal dari Allah?


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Setelah kita belajar banyak dari kehidupan Gayus, 3 Yohanes juga menunjukkan tokoh lain yang berbanding terbalik dengan Gayus. Dia adalah Diotrefes. Berbeda dengan Gayus yang ramah dan murah hati kepada orang-orang percaya, para pemberita Injil, dan para misionari, Diotrefes justru tidak mau menerima bahkan mengucilkan mereka, ia pun mencegah siapapun yang mau menerima mereka. Ia bukannya membantu, tetapi justru menghalangi orang lain yang ingin membantu. Nah, adakah Anda mengenal orang-orang seperti itu?

Kita mungkin bukan seorang penginjil ataupun pendeta, tetapi sebagai orang Kristen kita wajib untuk mendukung orang-orang yang bekerja bagi nama Tuhan. Kita mungkin tidak bisa ikut menginjil ke pelosok-pelosok, pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk memberitakan jalan selamat, tetapi kita masih bisa berdoa, mendukung dana, atau turut ambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Kepada orang-orang Kristen yang tidak melakukan satupun dari hal itu, apalagi menghalangi orang lain yang ingin melakukannya, ayat 11 menulis supaya tidak ada orang Kristen lain yang menirunya.

Sudahkah kita berbuat sesuatu untuk pekerjaan Tuhan? Kalau belum, kita bisa memulainya sekarang. Hal-hal kecil yang kita lakukan untuk pemberitaan Injil, hal-hal sederhana yang kita berikan untuk para pelayan Kristus, hal-hal yang mungkin hilang atau berkurang dari diri kita karena Tuhan, tidak akan pernah sia-sia. Allah yang mengetahuinya tidak akan berhutang kepada kita. Sebaliknya, jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang tidak pernah memberi kontribusi apapun bagi pekerjaan Tuhan. Sudah tidak melakukan apa-apa, masih menghalangi orang lain untuk melakukannya pula. Jika demikian, kita pastilah orang Kristen asal-asalan saja.

Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.
(3 Yohanes 1:11)

Mati Bersama Kristus

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 25 September 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22)

Bacaan Pertama: Hag 2:1b-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 43:1-4 


“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22). Di sini Yesus bernubuat tentang penderitaan sengsara dan wafat-Nya, pada saat mana Dia menumpahkan darah-Nya untuk penebusan kita.

Banyak orang memandang penderitaan, mati untuk orang-orang lain, menumpahkan darah sebagai suatu tanda pemberian-diri penuh kemurahan hati. Pada jam-jam yang paling gelap dalam Perang Dunia II, pada saat Winston Churchill mengatakan kepada rakyatnya bahwa dia tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kepada mereka selain “darah, keringat dan air mata”, maka sebenarnya dia menggunakan suatu imaji yang dipahami oleh seluruh dunia. Bagi orang Yahudi, darah memiliki signifikansi yang istimewa. Darah mengingatkan mereka pada hewan untuk kurban yang dipersembahkan membebaskan orang dari hukuman mati. “Keluaran” mereka dari perbudakan di tanah Mesir merupakan memori yang tertanam dalam kesadaran mereka. Dan “keluaran” ini merupakan akibat langsung dari pembunuhan anak-anak sulung Mesir, ketika orang-orang Yahudi diselamatkan karena darah kambing domba yang disapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu rumah mereka (Kel 12:21-23).



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Surat kepada orang Ibrani” membuat pernyataan tegas seperti berikut; “… tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr 9:22). Darah Yesus Kristus yang dipersembahkan tanpa cela kepada Allah membersihkan hati nurani kita dari pekerjaan-pekerjaan maut dan membawa kita kepada penyembahan Allah yang hidup. Darah Kristus ini membersihkan kita, bukan dalam artian yang lahiriah (khasat mata), melainkan secara batiniah. Darah Kristus tidak hanya membersihkan diri kita, melainkan juga menebus kita.

Akan tetapi semua ini bukan sesuatu yang bersifat satu arah. Perjanjian Baru, seperti juga Perjanjian Lama, adalah sebuah perjanjian, dan tidak ada perjanjian yang bersifat sepihak. Artinya, kita pun harus melakukan bagian kita juga, artinya kewajiban kita! Kita harus menanggapi panggilan Allah untuk ikut ambil bagian dalam misteri Paskah. Secara batiniah kita harus mempersatukan diri kita dengan Kristus dalam penderitaan dan kematian-Nya. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita harus membuka hati kita bagi darah Kristus yang memiliki daya penebusan itu. Kita harus menyatu dengan Kristus dalam pemberian-diri, dalam suatu hidup yang tidak mementingkan diri sendiri dan penuh cintakasih, tanpa menghitung-hitung biayanya dalam darah, keringat dan air mata.



DOA: 

Tuhan Yesus, jika kami telah mati bersama-Mu, ya Tuhan, kami percaya bahwa kami pun akan bangkit dan hidup bersama-Mu di surga. Terpujilah nama-Mu sekarang dan selama-lamanya. 
Amin.