Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

31 Agustus 2015

Berita Kalvari - Minggu 30 Agustus 2015












Siapa Lebih Setia


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Saat hendak memilih calon pendamping hidup, Santi ingin mendapatkan suami yang benar-benar bisa setia kepadanya. Dalam hubungan yang sebelumnya, kerap ia dapati para kekasihnya mendua hati.

Diduakan akan membuat hati begitu terluka. Ada lagi rasa tidak percaya dan bahkan enggan memberikan pengampunan. Kesetiaan merupakan hal terpenting dalam membina sebuah hubungan.

Jika manusia saja menginginkan kesetiaan terhadap pasangannya, lalu bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Kita selalu menuntut agar Tuhan selalu setia menemani kita, lalu kemana hati kita? Sudah setiakah kita pada-Nya?

Manusia kerap meninggalkan orang-orang yang tak lagi setia kepadanya. Namun Tuhan kita berbeda. Saat kita tak setia, Tuhan tetap setia menantikan pertobatan kita. Tuhan selalu menunggu kita dengan tangan terbuka.

Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

(Mazmur 100:5)

Manusia Yang Suka Plin Plan

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Senin, 31 Agustus 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:16-30)

Bacaan Pertama: 1 Tes 4:13-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1,3-5,11-13


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Para pakar Kitab Suci mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini mencatat paling sedikit dua, mungkin tiga peristiwa Yesus berkhotbah di Nazaret (perhatikan baik-baik Luk 4:16) dan reaksi-reaksi orang-orang sekotanya terhadap pengajaran-pengajaran-Nya. Yesus telah mendapatkan reputasi yang baik di bagian-bagian lain dari daerah Galilea. Penerimaan terhadap diri-Nya ketika untuk pertama kalinya Dia datang ke Nazaret juga baik. Jadi tidak mengherankanlah apabila para penduduk Nazaret itu secara langsung mengharapkan terjadinya berbagai mukjizat dan tanda heran seperti yang mereka telah dengar Ia lakukan di tempat-tempat lain.

Ketika Yesus datang kembali ke Nazaret dan membaca ayat-ayat dari Kitab Yesaya yang berkenan dengan Misi Mesias dan menerapkan-nya pada diri-Nya sendiri, maka kelihatannya hal tersebut terlalu sulit bagi mereka untuk dipercaya. Mereka berpikir bahwa Yesus dalam hal ini agak keterlaluan, … lebay! Akhirnya mereka menggiring Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, untuk melemparkan-Nya dari tebing itu.

Mengapa terjadi perubahan dalam sikap mereka terhadap Dia? Satu hal: Yesus mengatakan bahwa mereka sesungguhnya tidak mencari Mesias dalam diri-Nya, melainkan mencari mukjizat-mukjizat yang diperbuat oleh Yesus, hal mana keluar dari rasa ingin tahu atau kepentingan pribadi masing-masing. Tanpa tedeng aling-aling Yesus juga mengatakan bahwa mereka tidak menerima diri-Nya walaupun hanya sebagai seorang nabi, karena Dia berasal dari Nazaret. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Natanael ketika Filipus mengajaknya untuk bertemu dengan Yesus: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46).

Satu hal lagi yang mungkin telah membuat marah mereka adalah bahwa Yesus bersikukuh bahwa Kabar Baik adalah diperuntukkan bagi orang-orang miskin dan tertindas, orang-orang yang secara tradisional dinilai sebagai orang-orang terkutuk oleh Allah, entah apa pun alasannya. Menurut keyakinan Yahudi pada umumnya, hanya orang-orang kayalah yang merupakan orang-orang yang diberkati oleh Allah.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Semua ini sungguh merupakan suatu penghiburan sekaligus suatu pelajaran bagi kita. Kita miskin dan seringkali tertindas, namun kita anak-anak yang sangat dikasihi Bapa surgawi. Kita adalah anggota Gereja yang misinya terutama ditujukan pada orang-orang miskin, orang-orang yang tertindas, orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari sesama mereka. Apakah dengan demikian Gereja kita tidak diperuntukkan juga bagi orang kaya? Jangan salah, orang-orang yang kaya harta pun dalam banyak hal adalah orang-orang miskin juga: mereka seringkali mengalami kesendirian, kekhawatiran, ketiadaan rasa damai sejahtera. Kristus datang guna membawa damai sejahtera, kesembuhan, suka cita bagi semua orang yang tidak memiliki salah satu atau semua buah-buah Roh ini.

Dalam hal ini, kita (anda dan saya) dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus. Kita harus menjadi instrumen-instrumen Kabar Baik ini, jika kita memang sungguh-sungguh para pengikut Yesus.

DOA: 
Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau tidak diterima di Nazaret, kota asal-Mu sendiri. Jagalah kami agar tidak kaget dan menjadi down apabila kami tidak diterima dengan baik pada waktu kami ikut mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang yang kami temui. 
Amin.

30 Agustus 2015

Karena Aku Tidak Percaya

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Ketika aku tidak percaya, semua yang kukerjakan adalah sia-sia. Ketika aku tidak percaya, semua harapan sirna sudah. Ketika aku tidak percaya, mujizat begitu jauh berlari dariku. Ketika aku tidak percaya, masa depan tak sebaik yang kumau.”

Sebuah kalimat yang meluncur begitu saja dalam isak tangis seorang kawan. Hatinya begitu hancur ketika ia mengingat bagaimana selama ini begitu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri.

Kehancuran yang menghantui buatnya tersadar tentang betapa pentingnya penyerahan diri. Penyerahan sepenuhnya dengan iman percaya yang benar-benar dinyatakan dalam hidupnya. Tidak ada seorangpun yang bisa membantunya untuk berubah selain dirinya sendiri.

Kisah di atas adalah sebuah pelajaran bagi kita dimana kita harus bisa percaya dan selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Ketika kita tidak percaya, maka semua yang kita perbuat adalah sebuah kesia-siaan.

Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yangberiman itu.

Galatia 3:9

29 Agustus 2015

Minggu, 30 Agustus 2015 Hari Minggu Biasa XXII


Kewajiban-kewajiban keluarga atau tugas-tugas sosial yang penting memaafkan secara sah perintah mengikuti istirahat pada hari Minggu --- Katekismus Gereja Katolik, 2185


Antifon Pembuka (Mzm 85:3.5)

Kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Engkau baik hati, ya Tuhan, dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.


Doa Pagi


Allah yang Mahakuasa, Engkaulah sumber dan asal segala yang baik. Bangkitkanlah dalam diri kami kasih akan Dikau dan tambahkanlah iman kami. Semoga Engkau memupuk benih-benih yang baik dalam diri kami dan memeliharanya sampai menghasilkan buah. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepan-jang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Ulangan (4:1-2.6-8)
    
  
"Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan."
     
Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup, dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa. Begitu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi! Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita berseru kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?


Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan, do = f, ¾, PS 848
Ref. Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?
Ayat. (Mzm 15:2-3a.3cd-4ab.5)

  1. Yaitu orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya; yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
  2. Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tercela, tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa.
  3. Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba, dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan dari Surat Rasul Yakobus (1:17-18.21b-22.27)

   
"Hendaklah kamu menjadi pelaku firman."
    
Saudara-saudaraku yang terkasih, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya pada tingkat yang tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar! Sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri. Ibadah sejati dan tak bercela di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yak 1:18)

Atas kehendak-Nya sendiri, Allah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:1-8.14-15.21-23)

        
"Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
    
Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?” Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah Aku dan camkanlah ini! Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, pencabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”


Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan   


Bukan tangan yang bersih karena dibasuh dengan sabun wangi yang membuat hati kita secara otomatis suci, bersih dan murni; tetapi sebaliknya hati yang suci, bersih dan murni lah yang menyucikan tangan kita karena hati yang demikian akan menggerakkan tangan kita untuk mengasihi dan melayani. Demikian pula, hati yang selalu suci dan murni tidak akan pernah takut berdekatan dengan orang berdosa atau pun hal-hal yang menajiskan, tetapi justru tergerak untuk mengulurkan tangannya sehingga kasih dalam hatinya terwujud secara nyata. Ia yakin bahwa dosa tidak menular dan kenajisan tidak mengkontaminasi dirinya hanya dengan kedekatan dan sentuhan tangan, tetapi sebaliknya justru kasihnya yang terpancar dari dalam hati dan terulur lewat tangan yang menolong itulah yang mampu menyelamatkan orang berdosa dan membantu menyucikan diri dari kenajisan. Dan inilah yang dikatakan oleh St. Yakobus sebagai ibadah yang sejati, misalnya: mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. Arti lebih luasnya tentu mengasihi secara konkret saudara/i kita yang lemah dan menderita. Ibadat yang tidak membuahkan kasih hanyalah ibadat yang mandul dan bukan merupakan ibadah yang sejati (bdk. SC 10)


Doa: 
Tuhan, berilah kami hati yang suci, bersih dan murni agar mampu tangan kami digerakkan olehnya untuk mengasihi dan melayani secara tulus. 
Amin. 

Hendaklah Kamu Menjadi Pelaku Firman


(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [TAHUN B] – 30 Agustus 2015)

teresa-web

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.  (Yak 1:17-18,21-22,27)

Bacaan Pertama: Ul 4:1-2,6-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Injil: Mrk 7:1-8,14-15,21-23

“Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22).

Semua bacaan dalam Misa Kudus hari ini memusatkan perhatian pada hasrat Allah untuk mempunyai sebuah umat yang terpisah bagi diri-Nya, sebuah umat yang mencerminkan kebaikan-Nya kepada seluruh dunia. Adalah hasrat Allah bahwa kita menghormati-Nya tidak hanya dengan bibir kita, melainkan juga dengan hati kita.

Masalahnya adalah, kita tidak selalu sangat percaya diri pada kemampuan kita sendiri untuk memainkan peranan penting dalam dunia seturut panggilan Allah kepada kita. Kita dapat merasa begitu tertindih oleh dosa-dosa kita sehingga kita mulai percaya bahwa diri kita sama sekali tidak berguna di mata Allah. Memang apabila kita memusatkan perhatian kita atas kelemahan iman kita daripada belas-kasih dan kuasa Allah, maka mudahlah bagi kita untuk berpikir bahwa dosa-dosa kita lebih kuat ketimbang terang Kristus dalam diri kita.

Yesus sendirilah yang membuat kita menjadi “terang” (Mat 5:14) dalam sebuah dunia yang semakin gelap ini. Kematian-Nya telah mengalahkan dosa. Kebangkitan-Nya telah mengakhiri kemanusiaan tua kita yang telah jatuh dan telah menciptakan kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berhenti memandang kegelapan di sekeliling kita … dan hidup dalam kemenangan pribadi sesuai dengan terang yang telah diberikan Allah kepada kita. Bahkan di tengah-tengah godaan-godaan yang kita hadapi, kita dapat percaya bahwa kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:11). Kita dapat melihat dosa-dosa kita pergi menjauh selagi kita memperkenankan Roh Kudus menerapkan kuasa salib Kristus atas kodrat kita sebagai manusia yang cenderung untuk berdosa.

Kita dapat menjadi bintang-bintang yang bersinar terang-benderang dalam dunia ini selagi kita bertekun dalam menyerahkan diri kita bagi Yesus. Tentu saja dari waktu ke waktu kita masih dapat jatuh. Akan tetapi kegagalan-kegagalan kita itu dapat menolong kita untuk mengakui kelemahan-kelemahan kita dan mengajar kita untuk semakin mengandalkan diri pada Allah saja. Kita dapat meyakinkan diri bahwa dengan berjalannya waktu, Allah pun akan turun tangan.

DOA: 
Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berdiam di dalam diriku. Walaupun aku lemah, Engkau kuat, ya Allahku. Aku percaya bahwa Engkau akan memberdayakan diriku sebagai “terang dunia” dan saksi-saksi sejati dari kemuliaan Bapa surgawi dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. 
Amin.

Bentara Kristus Dan Martir

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Sabtu, 29 Agustus 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29)


Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Pada hari ini Gereja memperingati pemenggalan kepala Santo Yohanes Pembaptis (The Beheading of Saint John the Baptist); secara lebih halus dan sopan tentunya diungkapkan sebagai “Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis”.

Dari bacaan Kitab Suci, tulisan-tulisan rohani, lukisan-lukisan, film-film, banyak orang mempunyai persepsi tertentu tentang sosok orang kudus ini yang tampil “aneh” dan khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa. Yohanes Pembaptis yang muncul di padang gurun Yudea dan memakai jubah bulu unta, mengingatkan orang kepada nabi Elia. Dia memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa (baca Mrk 1:1-8). Cara pewartaan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis memberi kesan kuat adanya urgency, karena dia tahu benar bahwa dirinya diutus oleh Allah sendiri untuk menjadi saksi mengenai TERANG sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia (Yoh 1:9).

Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Namun setelah raja Herodes Antipas ditegur olehnya karena perselingkuhannya dengan Herodias, istri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, maka raja Herodes Antipas menambah kejahatannya dengan menjebloskan Yohanes Pembaptis ke dalam penjara (Luk 3:18-19). Pada dasarnya, Herodes Antipas mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes Antipas tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat.

Kelekatan kuat Herodes Antipas pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai melakukan suatu tarian erotis, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:23). Dengan demikian Herodes Antipas pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu. Sebagai catatan, “sumpah bodoh” sedemikian bukanlah monopoli Herodes Antipas, karena setiap orang yang “lupa-daratan” dapat saja dengan mudah mengucapkan “sumpah” seperti itu.

Dalam banyak hal, tanggapan Herodes Antipas terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima “undangan Yesus kepada pemuridan”. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes Antipas, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual.

Apa yang dapat kita lakukan bilamana kita mengalami konflik dalam hati kita (Inggris: intra-personal conflict)? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan yang menuju perdamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan dan mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, meskipun pada awalnya menyakitkan kita.

Kita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap cobaan dari si Jahat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Herodes Antipas adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes Antipas: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya yang “beneran”. Kita perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah.

DOA: 
Allah, Bapa kami. Engkau mengutus Santo Yohanes Pembaptis sebagai bentara kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Semoga berkat kematiannya sebagai martir dalam membela keadilan dan kebenaran, kami dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani sebagai pelayan-pelayan sabda-Mu. 
Amin.




Garpu Tala

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Adikku memainkan garpu tala. Garpu tala itu ia getarkan. Tak lama ia dekatkan garpu tala lainnya. Sungguh luar biasa ketika garpu-garpu lainnya saling didekatkan maka semua bergetar. Jika yang tak paham ilmu fisika maka akan sulit ketahui sebabnya.

Kita harus bisa ciptakan getaran sehingga mampu menggetarkan yang lainnya. Ciptakan kebaikan dan kasih dan tularkan kepada orang lain sehingga mereka mampu menjadi baik dan mengasihi. Jangan hanya berhenti pada kata-kata, namun ciptakan!

Perkataan hanya mampu memasuki telinga, akan tetapi perbuatan nyata akan merasuki hati dan meracuni pikiran jahat sehingga mau berbalik ke jalan yang benar. Untuk bisa mengubah orang lain, bukanlah dengan teguran keras yang menyakitkan, melainkan berikanlah contoh nyata.

Getar-getar kebaikan yang kita cipta akan getarkan hati Bapa di surga. Malaikat akan bersorak sebab kasih pada setiap hati manusia telah terlahir. Berkat akan mengalir kala getar kebaikan tak terhenti.

Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

(Matius 7:18)

28 Agustus 2015

Jadwal Petugas Liturgi Bulan Oktober 2015

Jadwal Petugas Liturgi Bulan Oktober 2015


Kabut Hidup

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika musim dingin tiba, maka kabut tebal akan menutupi jalanan di pegunungan. Beberapa pengendara terpaksa menepi dan bahkan berhenti hingga kabut menghilang. Jika dipaksa melalui jalan berkabut, maka bahaya akan mengancam. Tak heran jika terjadi celaka di sana-sini.

Ada begitu banyak kabut-kabut hidup yang menutup jalan kita ke surga. Kabut-kabut itu kerap menyesatkan dan juga mencelakakan orang. Mereka akan menjerumuskan kita pada lembah dosa yang begitu dalam. Oleh sebab itu jika kabut menghantui, berdiam-lah sejenak.

Kabut adalah jerat-jerat iblis yang kerap ditebar-kan di setiap jalan kehidupan kita. Ada berbagai macam tipu daya dan kesenangan palsu yang ditawarkan. Itulah sebabnya kita perlu berdiam diri sejenak dan berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk agar kita tak salah dalam memutuskan perkara.

Korupsi sangat menggiurkan, jika tak bisa menahan kabut keserakahan maka kita akan tenggelam dalam nikmat dosa dunia. Pilihan yang cukup sulit bagi orang-orang yang cinta uang, oleh sebab itu tuntunan Roh Kudus sangat penting untuk meloloskan kita dari kebinasaan.

Barangsiapa menggali lubang akan jatuh ke dalamnya, dan barangsiapa mendobrak tembok akan dipagut ular.
(Pengkhotbah 10:8)

27 Agustus 2015

Allah Memanggil Kita Untuk Melakukan Apa Yang Kudus


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 28 Agustus 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Akhirnya, Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup di dalam kekudusan dan kehormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang mengenal Allah, dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudara seimannya atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepada. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu, siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. (1 Tes 4:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12; Bacaan Injil: Mat 25:1-13
Kebanyakan orang, setelah menemukan suatu jalan kehidupan yang baru dan yang telah diperbaiki – suatu jalan yang lebih masuk akal dan dapat membuat mereka menjadi lebih berbahagia – paling sedikit akan mencoba untuk berubah dan melakukan segala sesuatu dengan menggunakan metode baru, teristimewa kalau hal tersebut juga menghasilkan penghematan dalam waktu dan uang. Bagaimana kalau kita menemukan bahwa ketidaksetiaan menyebabkan ketidakbahagiaan, perceraian, anak-anak tanpa ayah, penyakit, dan bahkan kematian? Bagaimana pula jika kita menyadari bahwa ketidaksetiaan kepada pasangan hidup kita dapat sangat mahal biayanya, khususnya kalau kita berbicara mengenai berbagai biaya di bidang hukum, kesehatan dlsb. Dengan demikian bukankah lebih bijak untuk memilih jalan hidup baru dan diperbaiki, yang ditawarkan Yesus sekitar 2.000 tahun lalu?

Keputusan-keputusan yang didasarkan pada garis pemikiran seperti ini dapat menjadi titik awal yang baik, namun tidak cukup. Sebenarnya, sekadar membaca Kitab Suci dan percaya kepada Yesus juga tidak cukup. Mengapa? Karena sekali kita mengetahui tentang rencana Allah dan hukum-Nya bagi hidup kita, maka kita perlu memohon kepada Roh Kudus agar supaya memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mentaati perintah-perintah Allah. Yesus membuat jelas bahwa Dia tidak datang ke dunia untuk menghapuskan hukum dan para nabi, melainkan untuk menggenapi semua itu (Mat 5:17-20). Penggenapan tersebut datang selagi Roh-Nya datang untuk menuliskan Hukum Allah di hati kita (Yer 31:33-34).

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Apakah orang Kristiani harus sedemikian sempurna-nya? Tidak, tetapi kita harus berjuang keras untuk hidup untuk Yesus dan melalui Yesus, dan hal ini berarti mengikuti perintah-perintah-Nya – termasuk seruan-Nya agar kita hidup murni. Kita telah menerima Roh Kudus guna memberdayakan kita untuk taat kepada Allah . Demikian pula Roh yang sama diberikan kepada kita untuk melayani belas kasih Allah dan penyembuhan-Nya pada saat kita jatuh. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita tetap dekat pada-Nya pada saat-saat penuh godaan, dan sekalipun kita jatuh, kita harus cepat-cepat berlari kepada-Nya dan mengakui dosa-dosa kita.

Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa seksualitas adalah sesuatu yang suci. Melalui hal itu, pasutri-pasutri mengungkapkan cinta kasih mereka dan bertumbuh dalam persatuan satu sama lain. Hubungan seksual di luar perkawinan dilarang oleh Allah. Mengapa? Karena ada cara yang lebih baik – suatu cara yang tidak akan menyakiti kita. Allah memberikan kepada kita hukum-hukum guna membangun kehidupan kita, bukan kehidupan-Nya. Tugas kita adalah untuk memperdalam iman kita kepada Yesus dan membuka hati kita bagi Roh-Nya. Marilah kita (anda dan saya) selalu meminta bimbingan dari Roh Kudus selagi kita berjuang untuk mengikuti jejak Kristus setiap hari.

DOA: 
Roh Kudus Allah, aku mengasihi Engkau dan bertobat serta mohon ampun karena seringkali mengkompromikan standar-standar yang telah Kautetapkan. Salibkanlah nafsu-nafsu tak beraturan dan hal-hal buruk lainnya dalam diriku. Aku sungguh mengasihi Engkau dan rindu untuk hidup dalam kemurnian-Mu. 
Amin.

Si Untung dan Si Buntung


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Ada dua orang anak dengan nama Untung dan Buntung. Ketika kecil, mereka kerap menjadi bahan ejekan. Si Untung selalu dikaitkan dengan keberuntungan dan si Buntung dikaitkan dengan kesialan yang bertubi-tubi. Si Buntung kerap mendapatkan penolakan kala berteman.

Seiring berjalannya waktu, Si Buntung ingin mengubah pandangan orang bahwa nama tak mempengaruhi kualitas kehidupan. Dengan kerja keras, Si Buntung pun menjadi pengusaha sukses, sedangkan Si Untung yang hanya mengandalkan keberuntungan menjadi sangat berkekurangan dalam hidupnya.

Sikap yang tepat dapat memutuskan rantai keburukan dan juga kutuk. Saat niat untuk berubah itu tidak tergoda oleh kemalasan, situasi paling buruk-pun dapat berubah menjadi kelimpahan. Tidak ada untung atau-pun buntung sebab semua tergantung pada tindakan yang kita ambil.

Jangan percaya akan ramalan manusia yang menjanjikan keberuntungan hidup. Berkat Tuhan yang sediakan. Yang menjadi permasalahannya adalah, apakah kita mau berbuat untuk menjemput bola? Menjemput berkat?

Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.
(Ulangan 11:26-28)

26 Agustus 2015

24 Jam Hidupku


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Menurut pakar kesehatan, dalam sehari ada 3 kelompok aktivitas yang akan dilakukan oleh tubuh jika ingin sehat, yaitu :
  • 8 jam bekerja keras
  • 8 jam bekerja ringan
  • 8 jam tidur
Tapi saya mempunyai versi sendiri dalam mengatur 24 jam dalam hidup saya, yaitu :
  • 2 jam saat teduh
  • 7 jam bekerja keras
  • 7 jam bekerja ringan
  • 8 jam tidur
  • dan dalam 24 jam di atas selalu mengucap syukur
Dapat disimpulkan bahwa, begitu banyak waktu yang kita gunakan untuk kepentingan diri sendiri seperti bekerja, bersenang-senang, dan istirahat. Lalu kapan kita akan bersekutu dengan Tuhan? Lantas kapan terakhir kita mengucap syukur? Jika kita melupakan persekutuan doa dengan Tuhan dan mengucap syukur, maka kehidupan rohani kita akan "sakit".

Mengenang Yesus, Monika Dan Sang Janda Dari Nain

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Kamis, 27 Agustus 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 1 Tes 3:7-13; Mazmur Tanggapan: 90:3-2,12-14,17
“Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13).

Sebagai seorang pribadi dengan latar belakang profesi sebagai seorang dokter/tabib, Santo Lukas tentunya adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur separuh baya. Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda (lihat Luk 7:13 dsj.).

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya berkaitan dengan bela rasa dan penuh-pengertian Yesus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori.

Seperti sang janda dari Nain itu, Santa Monika yang kita peringati pada hari ini, sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil. Yesus berkata kepada janda itu untuk tidak menangis (Luk 7:13). Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda. Dalam keheningan doa-doa penuh air mata dari Monika yang memohon agar jiwa Augustinus diselamatkan, kiranya Tuhan Yesus pun berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Rahmat-Nya bekerja, dan kita pun mempunyai salah seorang kudus besar tokoh Gereja yang dihormati juga oleh saudari-saudara kita Kristiani yang Protestan.

DOA: 
Bapa surgawi, Allah Yang Maha pengasih, kuduslah nama-Mu. Engkau adalah Penghibur orang yang berdukacita. Dengan penuh belas kasihan Engkau telah menerima ungkapan kasih dan air mata Santa Monika demi bertobat puteranya, Santo Augustinus dari Hippo. Terinspirasi oleh dua orang kudus itu, perkenankanlah kami menangisi segala dosa kami dan memperoleh kasih sayang rahmat-Mu. Kami berdoa demi nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. 
Amin.


Sekarang Juga


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

May membaca sebuah poster berisi tentang sebuah kompetisi. May tergiur untuk mendapatkan hadiah kompetisi tersebut. May sungguh yakin bahwa ia memiliki bakat untuk bisa Mencoba kemampuannya dan bersaing dengan peserta lain. Sayangnya May, melihat kegagalan yang membayangi. Ia merasa kalah sebelum mencoba bertanding.

Ada banyak orang yang tidak mau mencoba dan mengambil resiko. Mereka hanya bisa bertahan pada batas impian saja tanpa mulai bergerak untuk mengerjakan sesuatu yang mengubah kehidupannya. Impian hanya terkubur sia-sia tanpa langkah pasti.

Cara pemikiran yang demikian tak akan pernah bisa diandalkan untuk memperbaiki kehidupan. Terus mencoba di atas segala kegagalan adalah sama halnya tengah mempertajam pedang sebelum pada akhirnya telah siap untuk dipergunakan dalam peperangan.

Lakukan sekarang juga jika ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Kehidupan kita bukan ditentukan dari kocokan dadu ataupun undian. Baik atau buruknya diri kita, ditentukan oleh sikap hidup yang kita miliki.

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.
(Amsal 24:14)

25 Agustus 2015

Kasih Kristuslah Yang Mendorong Paulus

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Rabu, 26 Agustus 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. Kamulah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliann-Nya.

Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. (1Tes 2:9-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12; Bacaan Injil: Mat 23:27-32
“Kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah” (1Tes 2:13).

Apakah yang memotivasi Paulus untuk bekerja tanpa lelah mewartakan Injil? Tentunya bukan demi keuntungan pribadi bagi dirinya! Oleh karena itu, agar tidak membebani orang-orang lain, maka Paulus mendukung dirinya dan para misionaris lainnya dalam hal keuangan lewat bekerja dengan tangan-tangannya sendiri sebagai seorang pembuat tenda. Kita dapat membayangkan bagaimana Paulus berkhotbah dengan semangat yang berkobar-kobar oleh kuasa Roh Kudus dengan tangan dan jari-jari kasar karena kerja kerasnya yang dengan mudah terlihat oleh para pendengarnya.

Seandainya Paulus bekerja demi ambisi pribadi dan kemashyuran nama, sangat mungkinlah dengan cepat dia meninggalkan pekerjaan misionernya. Akan tetapi ada “sesuatu yang lebih dalam” sedang terjadi, dan itulah sebabnya mengapa pesan Paulus sangat mengesankan orang-orang di mana saja dia berkhotbah. Ada orang-orang yang menerima pewartaan Injil Paulus dengan keterbukaan hati dan pikiran, sementara ada juga orang-orang yang bereaksi keras terhadap pewartaannya. Tidak jarang Paulus harus lari dari kota yang satu dan pergi ke kota yang lain karena ancaman-ancaman riil atas dirinya.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Dengan demikian, apakah sebenarnya yang memotivasi Paulus untuk menanggung risiko ancaman terhadap hidupnya sendiri demi Injil Yesus Kristus? …… Kasih Kristus telah menangkap hatinya dan kasih ini begitu menular … tak terbendung, tak dapat dipegang untuk dirinya sendiri (lihat 2Kor 5:14). Injil – bahkan seluruh Kitab Suci – sesungguhnya adalah surat cinta Allah kepada dunia. Kitab Suci adalah Sabda hidup yang mengungkapkan belas kasih dan penyelamatan Allah yang tanpa batas. Ini adalah karunia atau anugerah yang sungguh luar biasa. Namun demikian ada begitu banyak orang di sekeliling kita yang tidak pernah mendengar Injil atau telah menerima penjelasan tentang Injil itu. Kita tidak pernah mengetahui bahwa mungkin saja kita merupakan saluran satu-satunya bagi mereka untuk mendengar Kabar Baik Yesus Kristus dan kasih-Nya yang menebus.

Kita adalah duta-duta Yesus Kristus (lihat 2 Kor 5:20). Kita adalah tangan-tangan-Nya dan kaki-kaki-Nya, mata-Nya dan telinga-Nya bagi dunia. Kemungkinan besar kita belum/tidak pernah belajar teologi atau ahli dalam hal Kitab Suci, namun kepada kita telah diberikan karunia yang luar biasa, yaitu sabda Allah sendiri. Barangkali sepatah kata sederhana atau kesaksian sederhana atau sebuah undangan kepada orang lain untuk menghadiri pertemuan pendalaman Kitab Suci atau persekutuan doa merupakan satu-satunya yang diperlukan untuk menyulut percikan iman dalam diri orang lain.

Apa yang biasanya menahan diri kita untuk berbagi (sharing) dengan orang-orang lain adalah rasa takut. Barangkali saja mereka akan merasa terganggu atau tidak menyukai testimoni kita. Doa dan kasih adalah penyembuhan Allah. Selagi kita mengasihi orang lain, maka akan timbul keinginan dalam diri kita untuk berbagi dengan mereka kasih dan sukacita yang kita miliki dalam Kristus. Kasih senantiasa mencmukan suatu jalan untuk mencapai hati dari orang yang kita kasihi.

DOA: 
Tuhan Yesus, aku mohon kepada-Mu agar dianugerahi sukacita dan keberanian untuk berbagi sabda-Mu dengan orang-orang lain. 
Amin.

Melayani Bukan Mencari Untung


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Salah satu teman saja ada yang bekerja di sebuah restoran menjadi pelayan. Dia menjelaskan bahwa tugas pelayan adalah melayani dengan baik. Pelayanan terbaik kepada pelanggan dan juga tuannya tanpa mengeluh atau bahkan mencari keuntungan sendiri. Teman saya tidak bisa bertindak sesuka hati demi memuaskan egonya.

Lalu bagaimana posisi kita sebagai pelayan Tuhan? Ada banyak orang yang pada akhirnya tidak bisa melayani dengan tulus. Mereka memakai kedok pelayanan untuk memuaskan keinginannya sendiri. Di sinilah fungsi pelayan menjadi sumber kekecawaan orang banyak.

Pelayan bertugas untuk melayani Tuhan dan juga sesama tanpa menonjolkan keinginan diri sendiri terlebih dahulu. Kerendahan hati dan juga kasih harus bisa dikuasai sebelum memutuskan untuk menjadi pelayan.

Sebaik-baiknya kita melayani, yang Tuhan lihat adalah ketulusan hati. Jika niat kita untuk melayani telah cacat di hadapan Tuhan, maka semua yang telah kita lakukan tidaklah Tuhan perhitungkan.

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.

(1 Petrus 5:2)

Bersih Di Dalam

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Selasa, 25 Agustus 2015)
Keluarga Besar Fransiskan dan khusus OFS: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX, Raja – OFS (Orang Kudus Pelindung laki-laki dari OFS)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26)

Bacaan Pertama: 1 Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-6
Bacaan Injil hari ini memuat dua cercaan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sehubungan dengan kemunafikan mereka. Pertama-tama Yesus menyerang ajaran para tokoh/pemuka agama Yahudi ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23). Hal-hal yang kecil-kecil diikuti dengan teliti dan ketat, sementara hal-hal yang yang lebih penting seperti keadilan dan belas kasih diabaikan! Yesus lalu menambahkan sebuah contoh yang memang terdengar keras: “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Mat 23:24).

LEGALISME dapat menyesatkan dan menjerumuskan orang ke dalam detil-detil kecil sehingga orang lupa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling penting: pertanyaan-pertanyaan tentang kewajaran, keadilan, kesopanan, kasih. Tidak ada hukum apa pun harus membuat kita bersikap dan berperilaku tidak adil atau melawan keadilan.

Cercaan kedua adalah sehubungan dengan tindakan pembersihan dan pembasuhan seremonial secara tradisional seturut tradisi dan hukum Yahudi. Yesus tidak menyalahkan tindakan-tindakan seremonial ini. Yang dicerca-Nya adalah ekstrimisme dengan mana mereka kadang-kadang mentaati hal tersebut tanpa banyak acuan terhadap makna dan simbolisme semua itu. Cawan, pinggan, ini adalah metafora dari pribadi orangnya. Cercaan keras Yesus ditujukan kepada sikap dan perilaku yang lebih mementingkan “kebenaran-tepat” atau ketepatan yang bersifat eksternal tanpa banyak memikirkan disposisi batiniah yang mau dilambangkan dan diwujudkannya.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Yesus bersabda: “…, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26). Tentunya, yang dimaksudkan oleh Yesus, adalah bahwa bila disposisi batiniah kita baik, utuh, sungguh Kristiani dan berorientasi pada Injil Yesus Kristus, maka bagian luar kita yang kelihatan oleh orang lain, hidup kita, tindakan-tindakan kita, kontak-kontak kita dengan sesama kita juga akan sungguh Kristiani.

Tidak ada banyak gunanya kita baik secara lahiriah, sopan, “beradab”, kalau segalanya yang batiniah tidak sungguh-sungguh menjadi asal-usul dan dasar dari tindakan-tindakan kita. Kalau tidak demikian halnya, maka semuanya adalah kemunafikan, dan kita tidak lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jujur terhadap diri sendiri tidak hanya merupakan good mental health, melainkan juga menandakan bahwa kita adalah orang Kristiani dalam artian sebenarnya.

DOA: 
Tuhan Yesus, pandanglah hati kami sedalam-dalamnya. Engkau mengetahui rancangan-Mu atas diri kami masing-masing. Bersihkanlah kami dari segalanya yang bukan berasal dari-Mu. 
Amin.

24 Agustus 2015

Sungguh Mustahil!


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sungguh mustahil! Mustahil! ; banyak orang meneriakkan kalimat tersebut di tengah-tengah perekonomian yang terus melemah. Mereka mendapati fakta bahwa kehidupan mereka sangat terancam, bahkan untuk makan hari besok-pun tak mampu lagi untuk mereka pikirkan.

Banyak yang menjadi takut untuk menghadapi kenyataan terlebih lagi dalam posisi yang sangat sulit. Melakukan tindakan bodoh bahkan kriminal-pun menjadi menu sehari-hari, yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara untuk bisa segera keluar dari hal buruk.

Situasi yang lebih buruk jika kita pikirkan adalah ketika Yesus berhadapan dengan lima ribu orang kelaparan. Apa yang bisa diperbuat dengan 5 roti dan dua ikan? Hal yang sangat mustahil untuk bisa mengenyangkan ribuan orang. Mustahil!

Tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Tidak ada yang mustahil! Semua sangatlah mungkin. Kunci utama adalah tetap bersyukur dan percaya. Tidak ada satu hal-pun yang mampu menghadang kekuatan iman. Saat kita percaya dan saat kita telah melakukan yang terbaik, maka mujizat akan turun dalam kehidupan kita. Jangan pernah meragukan kekuasaan Tuhan kita!

Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

(Yeremia 32:17)

Bermain Di Bibir Jurang


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Ada seorang anak yang bermain bersama teman-temannya tepat pada bibir jurang. Mereka hanya ingin tahu apa yang ada pada jurang itu. Salah satu orang tua mereka sudah memperingatkan berulang kali namun diacuhkan.

Alhasil merekapun terperosok ke dalam jurang tersebut karena kecerobohannya. Mereka menyesal karena telah mengacuhkan apa kata orang tuanya. Dan mereka harus menanggung derita atas perbuatannya sendiri.

Kita mempunyai telinga hendaklah dipergunakan untuk mendengar. Sebuah larangan, perintah ataupun kritik janganlah dilewatkan begitu saja sebab perkataan itulah yang akan meloloskan kita dari kebinasaan.

Jurang : adalah dosa. Jangan pernah ada niatan untuk mengintip atau mencicipinya. Saat kita tidak mau mendengar larangan Tuhan, maka kita akan terjatuh di dalamnya. Ada begitu banyak larangan dan juga perintah yang harus kita lakukan, yaitu pada Firman Tuhan.

Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.
(Amsal 23:12)


Berita Kalvari - Minggu 23 Agustus 2015




 





23 Agustus 2015

Seperti Natanael, Marilah Kita Berbalik kepada Yesus

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Senin, 24 Agustus 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:45-51)

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18
Sedikit sekali yang diketahui tentang rasul Bartolomeus. Pada umumnya para pakar setuju dan percaya bahwa Bartolomeus adalah Natanael dalam Injil Yohanes. Tradisi-tradisi dan legenda-legenda populer menceritakan bahwa Natanael mewartakan Injil di sejumlah negeri yang paling keras menentang penyebaran agama Kristiani di Timur, seperti India, Etiopia dan Persia – dan pada akhirnya Armenia di mana rasul ini mati sebagai martir Kristus. Apakah yang membuat Natanael tetap tegar dalam menghadapi berbagai pengejaran, penganiayaan dlsb. selagi melayani Tuhan dan Gurunya?

Bagi Natanael dan sebagian besar orang-orang Yahudi yang hidup di abad pertama, gelar “Anak Allah” tidak sama dengan apa yang kita pahami pada hari ini. Bagi mereka, “Anak Allah” berarti seseorang yang diurapi atau yang dipilih, orang yang sungguh istimewa di antara umat Israel. Pengakuan Natanael yang spontan itu memang hebat (Yoh 1:50), namun seperti Yesus sendiri berjanji, itu hanyalah awal. Ia akan melihat “langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51).

Pada kayu salib Yesus membuka “pintu air” surga dan dengan demikian membuat mungkin adanya suatu persekutuan hidup antara surga dan bumi. Apa yang diproklamasikan oleh Natanael karena rasa hormat/respek kepada Yesus menjadi suatu pernyataan iman yang didasarkan pada perwahyuan Roh Kudus – perwahyuan yang mendesaknya untuk memberikan keseluruhan hidupnya bagi Tuhan.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kabar baiknya adalah bahwa janji Yesus untuk membuka pintu surga adalah untuk semua orang – seperti Natanael – yang berbalik kepada-Nya. Ketika surga terbuka dan kita menerima perwahyuan dari Roh Kudus, maka kita “melihat” kemuliaan dan keagungan Yesus dalam hati kita. Kita berlutut dan bersembah sujud dan menyerahkan hidup kita kepada aturan-aturan-Nya dan pemerintahan-Nya. Selagi rahmat-Nya dan belas kasih-Nya memenuhi hati kita, kita dibebaskan dari upaya keras untuk hidup berdasarkan peraturan hidup yang kita susun sendiri. Dengan berdiam-Nya Roh Kudus dalam diri kita, maka kita menjadi diberdayakan guna menjalani hidup Kristiani kita yang dimotivasikan oleh kasih dan diisi dengan kasih.

Namun, janganlah kita memakai waktu kita sepanjang hari untuk mencari sekadar pengetahuan intelektual tentang Yesus. Marilah kita memuat resolusi untuk memakai waktu dengan Dia dalam keheningan dan meminta kepada-Nya agar membuka surga bagi kita. Allah sungguh memiliki begitu banyak hal bagi orang-orang yang sungguh berharap kepada-Nya. Selagi Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita akan terbakar dengan kasih kepada-Nya dan kita pun akan memiliki suatu hasrat mendalam untuk membawa orang-orang lain kepada-Nya.

DOA: 
Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah semesta langit. Kasih-Mu yang penuh gairah menyentuh semua orang yang menyerukan nama-Mu dari dalam hati. Engkau adalah kemuliaan dari kekuatan kami. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Mu. 
Amin.

22 Agustus 2015

Roh-lah Yang Memberi Hidup


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [Tahun B] – 23 Agustus 2015)
Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69)

Bacaan Pertama: Yos 24:1-2,15-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-23; Bacaan Kedua: Ef 5:21-32
Kata-kata Yesus tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya terlalu keras bagi sebagian dari murid-murid-Nya. Sebagai akibatnya, banyak dari mereka pergi dan tidak lagi mengikuti-Nya. Hal ini mendorong Yesus untuk bertanya kepada kedua belas murid-Nya apakah mereka juga meninggalkan diri-Nya. Petrus berbicara untuk mayoritas para murid ketika dia menjawab pertanyaan Yesus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

Dasar dari proklamasi iman Petrus itu adalah bahwa Bapa surgawi telah menyatakan kepada dirinya bahwa Yesus adalah Kristus (Mat 16:16-17). Pada saat itu, Petrus barangkali tidak memahami secara lebih mendalam tentang kedalaman apa yang dikatakan Yesus ketimbang para murid lainnya. Akan tetapi, Petrus tahu bahwa kata-kata Yesus membawa kehidupan bagi dirinya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh apa/siapa pun sebelumnya. Petrus tahu bahwa dia dapat mempercayakan hidupnya kepada Yesus secara penuh-lengkap-total. Petrus tidak mengatakan bahwa dia mengikuti Yesus karena sudah tidak ada lagi pilihan/opsi lainnya. Bapa surgawi telah memampukan dirinya untuk melihat bahwa Yesuslah Dia dan satu-satunya sumber kehidupan sejati dan kasih yang sejati.

Bapa surgawi juga ingin menolong kita untuk berkata seperti Petrus: “Tuhan, Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” Allah telah mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri kita dan mengajar kita kebenaran ini. Roh Kudus ingin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias).

Yesus bersabda: “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna” (Yoh 6:63). Yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa kita tidak akan mampu memahami Siapa diri Yesus sesungguhnya dan makna dari kata yang disabdakan-Nya kepada kita kalau kita menggunakan pikiran kita semata. Kita membutuhkan pencerahan ilahi dari Roh Kudus. Inilah yang tidak dimiliki oleh para murid yang pergi meninggalkan Yesus, malah dengan mengatakan bahwa kata-kata-Nya “terlalu sulit/keras”. Ini pula yang dapat menjadi tanggapan kita, jikalau kita tidak memperkenankan Roh Kudus untuk mengajarkan kita kebenaran tentang Yesus dan sabda-Nya.

DOA: 
Allah yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana. Di hadapan hadirat-Mu aku menyatakan bahwa aku belum pernah menemukan kehidupan yang sejati dan tahan lama dari siapa/apa pun juga yang ada di dalam dunia ini. Aku mengakui bahwa kehidupan sejati hanya ada di dalam surga. Aku juga menyadari bahwa Engkau sungguh rindu untuk membuktikan bahwa hanya Engkaulah yang dapat memberikan kehidupan kepadaku. Terima kasih Bapa, terima kasih Yesus Kristus, dan terima kasih Roh Kudus. 
Amin.