Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

31 Juli 2015

Bukankah Ini Anak Tukang Kayu ?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam – Jumat, 31 Juli 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58)

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11 


Dia hanyalah seorang tukang kayu.” “Kita kenal keluarga-Nya; tidak ada yang istimewa tentang diri-Nya!” Dan seterusnya. Dan lain sebagainya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita membaca bahwa Yesus “pulang kampung” namun disambut dengan dingin oleh orang-orang tempat kelahiran-Nya setelah Dia berkhotbah di hadapan orang banyak yang pada mulanya membuat mereka takjub. Namun setelah Dia melakukan begitu banyak mukjizat dan tanda heran lainnya di tempat-tempat lain, tidak seorang pun di Nazaret mengelu-elukan Yesus sebagai seorang Raja atau Mesias. Sebaliknya mereka tidak memandang sebelah mata sang Rabi yang datang dari kota mereka sendiri. Yesus berhasil membuat sedikit mukjizat, tetapi tidak seorang pun percaya bahwa Dia adalah seorang nabi, apalagi Putera Allah.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Mengapa terdapat ketiadaan iman seperti itu? Karena orang-orang Nazaret memilih pemahaman mereka sendiri tentang Yesus, bukannya berpaling kepada Roh Kudus agar diberikan pernyataan/pewahyuan dan wawasan ilahi. Sekarang, bagaimana dengan kita sendiri? Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah. Kita percaya hal itu; kita menyatakannya setiap hari Minggu ketika merayakan Misa Kudus (dalam Credo). Namun demikian, sampai berapa seringkah kita – seperti orang-orang Nazaret dahulu memperlakukan Yesus hanya sebagai sekadar seorang tukang kayu yang berniat baik? Apakah kita berdoa setiap pagi dengan ekspektasi bahwa kita akan diangkat ke surga dan menyentuh hati dan pikiran Allah? Apakah kita datang ke Misa Kudus dengan ekspektasi bahwa kemuliaan-Nya dinyatakan kepada kita melalui Ekaristi? Satu kebenaran yang tidak pernah kita abaikan atau sangkal adalah bahwa kita tidak dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan kita sendiri untuk menghadirkan iman yang mentransformasikan hidup kita. Secara sederhana, kita harus mengandalkan Allah untuk memberikan kepada kita pernyataan/perwahyuan ilahi oleh Roh Kudus-Nya.

Kabar baiknya adalah ketika kita sungguh-sungguh memohon pertolongan Roh Kudus, maka kita disadarkan bahwa Roh Kudus itu sungguh ingin menyatakan Yesus Kristus kepada kita. Roh Kudus sungguh ingin mengubah hati kita, merobek hati kita itu dengan kasih Kristus dengan cara yang mentransformasikan kita untuk semakin serupa dengan diri-Nya. Selagi kita semakin mengenal siapa Yesus ini, maka seperti Petrus, hati kita pun akan terdorong untuk memerdekakan : “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Seperti Tomas kita pun akan bersembah sujud di hadapan-Nya dan berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Dan seperti Yohanes kita akan bertemu dengan realitas yang mengubah hidup, bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Semakin Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, semakin banyak pula kita dapat mulai memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef 3:18). Tidak ada yang lebih penting daripada mengenal Yesus. Pernyataan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya pantas dan layak untuk diupayakan dengan sangat, sangat serius.

DOA: 
Tuhan Yesus, aku ingin sungguh mengenal Engkau. Lebih daripada apa saja, aku mohon kepada-Mu untuk menyatakan diri-Mu kepadaku dengan lebih mendalam lagi daripada sebelum-sebelumnya. Terpujilah nama-Mu selalu. 
Amin.