Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

29 November 2015

Andreas : Seorang Rasul Kristus Yang Sejati

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Senin, 30 November 2015)


 http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22)

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5


Mengapa Andreas sampai meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus? Sungguh sesuatu hal yang drastis untuk dilakukan oleh seseorang! Apakah Andreas seorang “gelandangan” yang mempunyai banyak uang? Bukan! Ia kelihatannya hidup baik bersama saudara laki-lakinya – Simon – dalam bisnis perikanan. Namun ada sesuatu tentang Yesus yang mendorong suatu hasrat dalam hatinya, dan Andreas memperkenankan dorongan itu menjadi suatu semangat yang berkobar-kobar.

Bahkan sebelum Andreas bertemu dengan Yesus, Allah telah mempersiapkan dirinya. Andreas telah mengikuti Yohanes Pembaptis dan telah merangkul panggilan sang nabi untuk melakukan pertobatan. Bersama Yohanes Pembaptis, dia menantikan kedatangan Dia yang akan membaptis tidak dengan air, melainkan dengan Roh Kudus (lihat Yoh 1:33). Andreas mendengar Yesus memproklamasikan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:17) dan ia juga menyaksikan sendiri Kerajaan ini dalam mukjizat penangkapan ikan (lihat Luk 5:4-7). Andreas mengamati relasi pribadi Yesus dengan Bapa-Nya dan ia tahu bahwa Yesus menawarkan hidup ini kepada siapa saja yang mengikut-Nya sebagai murid. Yesus menyatakan Kerajaan Surga dengan begitu jelas sehingga ketika Andreas mengatakan kepada saudaranya Simon tentang Yesus, dengan sederhana dia berkata: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)” (Yoh 1:41).

Dengan demikian, tidak mengherankanlah bahwa ketika Yesus memanggilnya, Andreas siap untuk meninggalkan segalanya. Dan perubahan hidupnya tidak sampai di situ saja, karena Andreas telah menjadi penjala manusia dalam artian sesungguhnya. Andreas menanggapi panggilan Yesus secara langsung dan sebagai akibatnya dia menjadi seorang manusia baru.

Seperti Andreas, kita juga telah diundang untuk mengikut Yesus sebagai murid-murid-Nya. Kita telah mendengar Injil dan mengalami sentuhan Tuhan yang penuh kasih. Sekarang, dengan berjalannya waktu, Allah ingin agar kita masing-masing mengembangkan sebuah hati yang mencari. Seandainya Andreas tidak mencari sesuatu yang lebih mendalam daripada suatu kehidupan rutin dalam dunia ini, akankah dia menjadi begitu terbuka terhadap undangan Yesus? Rasa lapar dan hausnya akan sesuatu yang lebih dapat menjadi suatu contoh kuat bagi kita semua.



Martirio_de_San_Andrés,_por_Juan_Correa_de_Vivar

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita mencari Tuhan pada hari ini. Marilah kita berjaga-jaga dengan kepekaan dan kewaspadaan terhadap apa pun dorongan Roh Kudus, ke mana pun Ia ingin membawa kita. Roh Kudus dapat saja menggunakan waktu doa kita, sepotong nas Kitab Suci, seorang sahabat, suatu masalah, atau bahwa sebuah acara televisi untuk menarik kita lebih dekat lagi dengan Yesus. Bagaimana pun cara-Nya mengundang kita, kita (anda dan saya) harus menanggapinya dengan penuh semangat positif, karena kita mengetahui bahwa rahmat, sukacita dan kedekatan dengan Yesus adalah bagian kita untuk mencicipinya.

Mazmur Tanggapan
Ref. Di seluruh bumi bergemalah suara mereka.
Ayat. (Mzm 19:2-3.4-5; R:5)

  1. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
  2. Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.
DOA: 
Tuhan Yesus, aku mendengar panggilan-Mu, dan aku ingin menanggapinya. Di sinilah aku, ya Tuhan. Lalukanlah apa saja atas diriku seturut kehendak-Mu. Utuslah aku ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku hanya ingin mengikut Engkau sebagai murid-Mu yang setia. 
Amin.


28 November 2015

Jadwal Novena Pembangunan Gereja - Putaran VII





Mari Kita Sambut Kedatangan Anak Manusia

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU ADVEN I [TAHUN C] – 29 November 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:25-28.34-36)

Bacaan Pertama: Yer 33:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14; Bacaan Kedua: 1Tes 3:12-4:2
Sekali lagi, kita memulai Masa Adven ini dengan kata-kata yang memperingatkan dan juga janji dari Tuhan Yesus. Yesus menginginkan agar kita memandang dan mempertimbangkan Adven tidak sekadar sebagai suatu masa untuk menantikan kedatangan Hari Natal, melainkan juga untuk melihatnya sebagai suatu masa transformasi dan mukjizat-mukjizat.

Ada begitu banyak yang dapat terjadi dalam beberapa pekan mendatang, asal saja kita tetap peka dan waspada terhadap gerakan-gerakan Roh Kudus. Allah mungkin mau membuang sebuah fondasi khusus yang dinodai doa dalam kehidupan kita. Atau, Dia ingin menunjukkan kepada kita betapa amannya kita apabila berada di tangan-Nya. Allah mungkin ingin menyembuhkan relasi yang telah rusak, membalikkan kepedihan kita menjadi kegembiraan, atau menjawab doa dalam hati kita yang sudah lama terpendam. Apa pun yang ingin dilakukan oleh Allah, kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menerimanya apabila kita mengambil beberapa langkah sederhana setiap hari yang akan membantu kita berjaga-jaga dan menunggu:
Sediakanlah paling sedikit sepuluh menit setiap hari untuk doa pribadi di mana kita memuji dan bersyukur kepada Allah karena Dia telah mengutus Yesus untuk mengampuni diri kita dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya.
Sediakanlah sepuluh menit atau lebih untuk kegiatan membaca sabda Allah dalam Kitab Suci dan merenungkannya. Kita mohon agar Roh Kudus menulis Sabda Allah dalam hati kita.

Kita melakukan pemeriksaan batin setiap hari dan menyesali serta bertobat untuk apa pun yang telah menjauhkan diri kita dari pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah serta mencerminkan kasih itu kepada orang-orang lain.
Mempersiapkan sebuah rencana untuk pertumbuhan rohani yang mencakup pembacaan rohani dan partisipasi dalam kehidupan gereja.

Seperti juga ketika Dia memperingatkan para pengikut-Nya yang pertama, Yesus memperingatkan kita untuk tidak terlampau menyibukkan diri dengan hidup ini. Sesungguhnya, mempersiapkan segala sesuatu untuk Natal dapat menjadi sebuah full-time job kalau kita tidak berhati-hati. Kita harus memastikan diri bahwa kita memberikan kesempatan kepada Yesus untuk membuat kita surprise dengan rahmat dan kuasa-Nya. Marilah kita semua berjaga-jaga penuh kewaspadaan sambil menunggu, karena kita tahu bahwa Allah kita akan datang untuk menyelamatkan kita masing-masing: anda dan saya.

DOA: 
Bapa surgawi, tolonglah aku mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kedatangan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Aku ingin menerima rahmat yang telah dimenangkan-Nya bagiku. Dalam masa Adven yang penuh ekspektasi ini, penuhilah hatiku dengan kasih-Mu dan pikiranku dengan kebenaran-Mu. Amin.

27 November 2015

Berjaga-jaga Dan Berdoa

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Sabtu, 28 November 2015)
Keluarga Fransiskan OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam



“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36)

Bacaan Pertama: Dan 7:15-27; Mazmur Tanggapan: Dan 3:82-87

Yesus mendesak para murid-Nya supaya menjaga diri agar hati mereka masing-masing tidak dibebani oleh berbagai kenikmatan duniawi dan kekhawatiran hidup sehari-hari, melainkan supaya “berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:36). Yesus mengetahui bahwa mereka perlu berjaga-jaga dan dipenuhi dengan Roh Kudus agar supaya siap menghadapi apa yang akan datang. Yesus juga mengetahui bahwa kesibukan kita dengan tanggung jawab kehidupan sehari-hari dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap realitas-realitas rohani. Dan Ia mengetahui bahwa apabila beban menumpuk dalam hidup kita, kita dapat tergoda untuk mencari cara-cara yang tidak sehat untuk “menenangkan” hidup kita.

Nasihat Yesus pada hari terakhir dari tahun Gereja ini sungguh tepat waktu! Walaupun peringatan Yesus tentang akhir zaman ini terkait kedatangan-Nya kembali ke dunia, peringatan itu cocok juga bagi kita selagi kita mendekati Masa Adven. Gereja telah menetapkan Adven sebagai suatu masa bagi kita mempersiapkan perayaan berkaitan dengan dengan kelahiran Kristus. Pesan peringatan Yesus yang sama juga berlaku: berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa. Kita tentunya ingin sampai pada hari Natal dengan hati yang dipenuhi Roh Kudus, dengan kebenaran dan dengan kasih Allah yang dibawa kepada kita oleh kelahiran Yesus.

Hari ini adalah hari yang tepat untuk meluncurkan rencana-rencana kita untuk Adven sehingga dengan demikian kita dapat memulai dengan benar pada esok hari. Oleh karena itu, marilah kita bertanya kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada kita apa dan bagaimana cara yang terbaik untuk Hari Raya Natal mendatang. Mempersiapkan “rangkaian adven” dengan empat batang lilin? Membuat rencana waktu-waktu untuk berdoa secara pribadi atau bersama keluarga? Membuat rencana makan-minum yang akan disediakan dalam pesta Natal keluarga? Mempersiapkan kartu-kartu ucapan selamat Natal? Dll. Dlsb. Marilah kita juga tidak melupakan hal-hal yang menghalangi persiapan-persiapan di bidang rohani atau mengganggu damai-sejahtera kita selama masa Adven ini dan menentukan bagaimana caranya untuk menetralkan semua itu, sehingga dengan demikian kita tetap dapat mengalami saat keheningan selama empat pekan mendatang.

Yesus memperingatkan kita akan segala hal yang ada di depan kita: kesibukan, kekhawatiran/kecemasan dan kegiatan-kegiatan yang dapat menumpulkan dorongan dalam hati kita untuk melakukan apa yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan. Karena telah diingatkan terlebih dahulu oleh-Nya, maka kita dapat menyediakan waktu untuk berdoa dalam keheningan, dan memohon kepada-Nya agar menyatakan diri-Nya kepada kita. Kita dapat melihat kemuliaan-Nya dan kita pun diubah. Dalam masa Adven ini, kita juga harus mengambil sikap berjaga-jaga. Kita harus membuat diri kita siap menyambut Yesus, maka kita pun melihat diri kita dipenuhi Roh Kudus pada hari Natal.

DOA: 
Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Penuhilah diriku dengan hidup-Mu sendiri. Tolonglah aku untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. Berikanlah kepadaku hikmat dan energi guna mempersiapkan segala sesuatu, sehingga ketika Adven dimulai, aku akan siap bersama-Mu dan menerima apa saja yang Engkau ingin tunjukkan kepadaku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus. 
Amin.

Melihat Ke Depan

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 27 November 2015)
Keluarga OFM Coventual: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam 


Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33)

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:33)

Yesus seringkali berbicara tentang “akhir zaman”, artinya kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kedatangan kembali “Anak Manusia” adalah suatu suatu saat yang bersifat pribadi dalam kehidupan kita masing-masing, suatu saat di masa mendatang yang menginspirasikan baik pengharapan maupun rasa takut. Kita berupaya untuk melupakan masa depan tersebut, walaupun saat itu merupakan keniscayaan.

Raja Louis IX atau Ludovikus IX [1214-1270] dari Perancis adalah seorang kudus dan seorang raja yang dicintai rakyatnya. Raja ini adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular, dan bersama St. Elisabet dari Hungaria [1207-1231] mereka menjadi orang-orang kudus pelindung OFS. Raja ini pernah mengungkapkan rahasia keberhasilannya sebagai seorang penguasa negeri dan pada saat sama seorang Kristiani. Di tengah-tengah taman istananya, yang terlihat nyata dari dalam kamar tidurnya dan ruangan-ruangan kenegaraan lainnya, raja Louis IX membangun sebuah kapel, di dalam kapel tersebut dia menguburkan jenazah para nenek moyangnya. Jadi, setiap saat dalam satu hari, raja dapat mencari tempat di mana jenazahnya kelak dapat dikuburkan. Jadi, setiap hari dia dapat melihat wajah kematiannya sendiri.

Salah satu turunannya, Louis XIV, bertanya mengapa hal untuk mengingat-ingat yang tidak mengenakkan itu dibangun begitu dekat dengan istana. Para penasihatnya menjawab, “Ayahanda paduka raja dan buyut baginda menggunakannya untuk bermeditasi di tempat itu, tempat mereka dikuburkan. Pada suatu hari, baginda juga akan berada di sana!” Raja Louis XIV menjawab: “Hancurkanlah tempat itu. Aku tidak ingin mati! Jauhkanlah semua itu dari pandanganku!”


Akan tetapi semua pekerja menolak; mereka sangat terganggu dengan pemikiran untuk memindahkan kapel yang berisikan kuburan tersebut. Tempat itu kudus bagi seorang kudus (Louis IX) dan ia dikuburkan di kapel tersebut. Menurut mereka memindahkan kuburannya sungguh merupakan suatu sakrilegi.

Pembangkangan perintah raja ini malah semakin menakutkan raja Louis XIV. Ia kemudian memerintahkan para pembantunya untuk membangun sebuah istana baru di lokasi berbeda untuk melarikan diri dari pemikiran tentang kematian. Sejalan dengan itu, hidupnya pun dipenuhi keserakahan, ketamakan, menyedihkan, dan juga sangat berisi dengan segala hal yang menyangkut kenikmatan duniawi.

Sebaliknyalah dengan buyutnya – raja Louis IX – tempat pengingat kematian ini juga membuat sang raja menjadi seorang kudus yang dicintai oleh semua orang, seorang pendoa, seorang kepala negara yang penuh hikmat dan penderma yang baik. Santo Ignatius dari Loyala pernah memberi nasihat, “Pilihlah panggilanmu dari sudut pandang kematianmu.” Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita hidup untuk dunia yang akan datang, dan kita pun akan lebih berbahagia dalam dunia ini.

Mazmur Tanggapan
Ref. Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
Ayat. (Daniel 3:75.76.77.78.79.80.81)
* Pujilah Tuhan, hai gunung-gemunung
* Pujilah Tuhan, hai segala tumbuhan di bumi
* Pujilah Tuhan, hai segenap mata air dan bukit
* Pujilah Tuhan, hai lautan dan sungai
* Pujilah Tuhan, hai raksasa lautan dan segala yang bergerak di air
* Pujilah Tuhan, hai unggas di udara
* Pujilah Tuhan, hai segala binatang buas dan ternak di bumi

DOA: 
Tuhan Yesus, jagalah kami agar menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. 
Amin.

25 November 2015

Salah Satu Misteri Iman

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 26 November 2015)
Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam 



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/



“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.” (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 


Seorang murid muda yang memiliki keinginan tahu yang besar bertanya kepada guru agamanya tentang suatu topic/isu yang sulit. Karena guru agama tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan murid tersebut, maka dia menjawab: “Itu adalah misteri iman.” Nah, apa sih sesungguhnya “misteri” itu? Sebuah misteri bukanlah berarti kita tidak mengetahui apa-apa tentang sesuatu hal. Sesuatu hal dikatakan sebagai misteri apabila kita tidak dapat mengetahui segalanya tentang hal tersebut.

Kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya – seperti yang kita baca dalam Injil hari ini – adalah satu satu misteri tersebut. Kita tidak dapat – malah tidak akan pernah dapat – mengetahui segalanya tentang kedatangan kembali Yesus tersebut, seperti hari dan jamnya, peristiwa-peristiwa aktual yang mendahului kedatangan-Nya, dan bagaimana penghakiman terakhir akan berlangsung.

Akan tetapi kita dapat mengetahui beberapa hal, dan salah satunya cukup “mengganggu” perasaan dan pikiran kita: “Kerajaan Kristus baru akan menang sesudah serangan terakhir kekuatan-kekuatan jahat” (Katekismus Gereja Katolik, 680). Kitab Suci mengatakan kepada kita kedatangan kembali Yesus akan didahului oleh suatu masa pergolakan dan kekacauan yang dramatis, baik di dunia maupun dalam Gereja sendiri. Bangsa akan bangkit melawan bangsa dalam peperangan. Kita akan mengalami masa kelaparan, wabah penyakit, dan pengejaran serta penganiayaan. Pada akhirnya, orang-orang tidak akan mentaati kebenaran, tetapi mulai merangkul cerita-cerita dongeng yang dibuat-buat dan kebohongan-kebohongan dalam tingkat yang mengagetkan dan mengkhawatirkan.

Peringatan-peringatan Yesus bukanlah dimaksudkan untuk menakut-nakuti kita. Semua itu dimaksudkan guna mempersiapkan diri kita. Yesus datang dengan sebuah pesan kasih dan belaskasih, bukannya kutuk dan sejenisnya yang menakutkan. Yesus datang untuk menolong kita siap dalam menghadapi akhir zaman. Ia tidak pernah mengatakan bahwa semuanya akan mudah. Kita tidak akan berpindah dari kerajaan yang satu (dunia) ke Kerajaan lainnya (Kerajaan Allah) dengan begitu saja. Namun apabila kita melakukan persiapan baik-baik dengan mengambil langkah-langkah untuk menolong diri kita bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah dan sesama, maka kita dapat mengantisipasi sesuatu yang indah dengan Allah sepanjang masa. Santo Paulus mengutip dari Yes 64:4, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Sekarang, marilah kita tidak fokus pada persiapan penuh ketakutan akan akhir dunia yang penuh dengan kegemparan dan keributan. Sebaliknya, dengan penuh keyakinan akan kemenangan Yesus, marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambut awal penuh kemuliaan dari kehidupan kekal yang akan kita nikmati. Yang dimaksudkan adalah berjalan dalam iman, bukan keragu-raguan; dipenuhi pengharapan, bukan kecemasan; bertumbuh dalam iman, bukan ketakutan. Yesus telah memenangkan dunia. Dia telah mengalahkan dosa dan maut. Sekarang Ia sedang menantikan saat yang tepat untuk datang kembali ke dunia dan membawa kita pulang ke rumah Bapa!


Kidung Tanggapan
Ayat. (Dan 3:68.69.70.71.72.73.74)
* Pujilah Tuhan, hai embun dan salju membadai.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai es dan udara dingin.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai embun beku dan salju.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai siang dan malam.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai cahaya dan kegelapan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai halilintar dan awan gemawan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Biarlah bumi memuji Tuhan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

DOA: 

Tuhan Yesus, tolonglah aku melakukan persiapan untuk hidup kekal dengan antisipasi yang besar. Aku ingin hidup kekal bersama-Mu dan semua keluarga yang telah Kaukumpulkan bersama. 
Amin.

24 November 2015

Kalau Kamu Tetap Bertahan

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 25 November 2015)
OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati 



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67


Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi, difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

Karena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Edith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

Cerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengsihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga:“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

Mazmur Tanggapan
Ref. Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
Ayat. (Dan 3:62.63.64.65.66.67)
  1. Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan
  2. Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit
  3. Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun
  4. Pujilah Tuhan, hai segala angin
  5. Pujilah Tuhan, hai api dan panas terik
  6. Pujilah Tuhan, hai hawa yang dingin dan kebekuan

DOA: 
Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau. 
Amin.

23 November 2015

Tidak;Berarti Kesudahannya Akan Datang Segera

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir – Selasa, 24 November 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61

“Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” (Luk 21:9)

Kata-kata Yesus kepada para murid-Nya dapat terdengar seperti headlines di koran-koran hari ini. Kelihatannya, kemana saja kita melihat, kita akan menemukan laporan-laporan atau reportase tentang peperangan, kelaparan, kebingungan dan gejolak sosial. (Pada detik ini juga – ketika saya sedang mengetik di laptop saya – ada berita CNN tentang terjadinya penyerangan terhadap sebuah hotel di Mali, Afrika Barat oleh teroris.). Apabila kita menempatkan potongan-potongan berita tersebut secara benar, maka kita akan dibimbing dan sampai pada kesimpulan bahwa kita sungguh hidup dalam zaman akhir.

Namun Yesus sangat berhati-hati mengatakan kepada para murid-Nya agar tidak hanya mencari tanda-tanda yang dapat “meramalkan” kapan akhir zaman itu akan tiba. Kita melihat dari sejarah bahwa berabad-abad lalu keadaannya jauh lebih buruk dari zaman sekarang, dan akhir zaman belum tiba juga. Dalam artian tertentu, kita hidup dalam zaman akhir sejak hari Yesus naik ke surga. Yesus dapat kembali setiap saat, dan bagaimana pun kerasnya kita mencoba untuk memprediksi kedatangan-Nya, kita tidak pernah akan tahu.

Jadi, bagaimana kita tetap siap untuk menghadapi suatu peristiwa yang mungkin saja terjadi setelah kita meninggal dunia? Jawabannya sama sederhananya pada hari ini seperti 2000 tahun lalu, yaitu untuk tetap berada dekat dengan Yesus. Saudari dan Saudara yang berstatus menikah tentunya masih ingat saat-saat mereka jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ke mana-mana mereka selalu berdua, seakan ada perekat yang menyatukan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menarik perhatian seorang dari mereka berdua selain daripada kekasihnya itu, demikian pula sebaliknya. Jalan Yesus juga dapat dikatakan serupa. Yesus ingin menjadi kekasih kita. Ia ingin memenuhi imajinasi kita sehingga kita tidak menginginkan apa-apa lagi kecuali “beristirahat” dalam kasih-Nya dan menjadi bejana-bejana murni dari kasih-Nya kepada dunia di sekitar kita. Selagi ini terjadi, kita dapat menjadi yakin bahwa apa pun yang terjadi dalam dunia, Allah tetap memegang kendali/kontrol.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

AKU MENYEMBAH ENGKAU

Ada contoh dalam sejarah: Fransiskus dari Assisi selalu asyik dengan Yesus karena begitu dekat relasinya dengan Dia: “Ia selalu asyik dengan Yesus: Yesus di dalam hatinya. Yesus di dalam mulutnya, Yesus di dalam telinganya, Yesus di dalam matanya, Yesus di dalam tangannya. Yesus di dalam anggota-anggotanya yang lain. … Seringkali kalau dia di tengah perjalanan berpikir atau bernyanyi tentang Yesus, ia lupa bahwa dia sedang dalam perjalanan. Lalu dia berhenti dan mengajak orang-orang segala umur untuk memuji Yesus. Dan karena dalam cinta kasihnya yang menakjubkan ia selalu mendukung dan menyimpan Yesus yang tersalib di dalam hatinya, maka di atas semua orang, ia ditandai secara amat mulia dengan tanda-Nya” (2 Celano 115).

Selagi kita berdoa setiap hari dan membaca serta merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, walaupun hanya untuk lima atau sepuluh menit lamanya, kesulitan-kesulitan kita akan menyusut dan kita akan jatuh cinta dengan Yesus. Lalu, apakah Yesus datang kembali pada hari ini atau dalam sepuluh ribu tahun lagi, kita tetap akan siap untuk bertemu dengan-Nya dengan tangan-tangan terbuka.

Kidung Tanggapan
Ref. Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
Ayat. (Dan 3:57.58.59.60.61)
  1. Pujilah Tuhan, hai segala karya Tuhan.
  2. Pujilah Tuhan, hai segala malaikat Tuhan.
  3. Pujilah Tuhan, hai segenap langit.
  4. Pujilah Tuhan, hai segala air di atas langit.
  5. Pujilah Tuhan, segenap bala tentara Tuhan.
DOA: 
Tuhan Yesus, Engkau mengenal diriku dan mengasihiku secara total dan lengkap sehingga tidak apa atau siapa pun yang harus kutakuti. Penuhilah diriku dengan diri-Mu sehingga dengan demikian pengharapanku beristirahat dalam damai-Mu, bukan dalam peristiwa-peristiwa dalam dunia. 
Amin.

Makna Sesungguhnya Dari Apa Yang Kita Berikan Mangalir Dari Hati

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 23 November 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4)

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu” (Luk 21:3).

Guna memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus di sini, maka bergunalah bagi kita untuk mengetahui betapa rendah/kecilnya nilai dua uang tembaga tersebut. Dalam bahasa Yunani, uang logam tembaga dikenal sebagai lepta; uang Yunani dengan denominasi paling kecil, yang ada dalam peredaran pada masa itu. Satu denarius – upah seorang pekerja untuk satu hari – terdiri dari 128 lepta. Artinya, sang janda miskin memberi sumbangan kepada perbendaharaan Bait Allah hanya sebanyak 1/64 dari upah harian rata-rata seorang buruh. Jumlah yang sedikit saja, bukan?

Jadi, mengapa Yesus mengatakan bahwa sang janda miskin telah memberi lebih banyak daripada semua orang (beberapa di antaranya adalah orang-orang kaya)? Sebagaimana biasanya, keprihatinan Yesus adalah bahwa tindakan-tindakan eksternal seseorang mencerminkan hatinya terhadap Allah. Sang janda miskin tentunya sangat mengasihi Allah sehingga dia ikhlas mempersembahkan segala yang dimilikinya untuk melanjutkan hidupnya. Baginya Allah jauh lebih berharga ketimbang uang-uang logam terakhir yang dimilikinya, uang yang ada antara dirinya dan rasa lapar. Di lain pihak, cerita dari Injil Lukas ini juga tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa Yesus tidak menghargai uang persembahan yang telah diberikan orang-orang kaya tersebut. Namun Yesus mengetahui hati mereka dan Ia pun sangat tahu bahwa mereka memberikan uang persembahan mereka dari surplus/kelebihan uang mereka, sedangkan sang janda memberikan uang persembahannya dari kemiskinannya, demi kasihnya kepada Allah.

Makna sesungguhnya dari apa yang kita berikan mengalir dari hati. Apakah kita memberikan waktu kita, energi kita, dan karunia-karunia lainnya karena kasih, atau karena dengan demiian kita merasa lebih baik atau kelihatan lebih baik di depan orang-orang lain?

Allah menciptakan kita bagi diri-Nya sendiri. Karena Allah sedemikian mengasihi dunia, Yesus diutus ke tengah dunia. Dia mati sehingga kita-manusia dapat ditebus/diampuni dan memperoleh hidup kekal. Roh Kudus telah datang untuk memberikan hidup baru bagi kita dan mengajar kita, memimpin kita serta membimbing kita kepada Bapa surgawi. Dalam keheningan kita dapat merenungkan betapa besar kasih Alah dicerminkan dalam karya Tritunggal Mahakudus dalam hidup kita. Segala sesuatu yang kita butuhkan telah disediakan. Apabila kita percaya akan Allah, maka kita tidak akan merasa ragu dan bimbang untuk menaruh kepercayaan kita pada-Nya dan melayani Dia tanpa reserve.

DOA: 

Ya Tuhanku dan Allahku, ampunilah diriku untu cara-caraku membatasi kasihku dan pelayanan kepada-Mu serta memberi hanya dari kelebihanku. Tolonglah aku agar mau dan mampu menjadi seperti sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini, yang memberi persembahan karena cintakasihnya kepada Engkau. 
Amin.

Berita Kalvari - Minggu 22 Nopember 2015








Jadwal Petugas Hias Altar


21 November 2015

Kejahatan

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Tetapi teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang.” (1 Mak 6, 12)

SALAH satu trending topik dalam media sosial adalah “Dahulu mama minta pulsa, sekarang papa minta saham.” “Mama minta pulsa” merupakan sindikat penipuan dengan menggunakan pesan singkat yang dikirim melalui tilpun seluler. Mereka tidak hanya meminta pulsa, tetapi juga memberikan informasi tentang kecelakaan fiktif, yang ujung-ujungnya minta kiriman uang.

Polisi telah menangkap sekian banyak orang yang tergabung dalam sindikat ini. Mama minta pulsa tentu akan berbeda dengan papa minta saham. Bagaimanapun juga, kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa bentuk kejahatan rupanya semakin berkembang, seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman.

Raja Antiokhus pun terkenal jahatnya. Dia memang tidak minta pulsa atau saham, melainkan mengambil secara paksa perkakas emas dan perak di kuil, Bait Suci atau di kota lain. Antiokhus menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya; memaksa orang untuk menyerahkan hartanya; untuk meminta sesuatu yang dia inginkan dan harapkan. Bahkan dengan kekuasaan yang dimiliki, Antiokhus juga melakukan tindak kekerasan, yakni menumpas banyak orang dengan sewenang-wenang. Banyak kejahatan telah dilakukan.

Antiokhus baru menyadari semua kejahatannya, setelah dirinya berbaring di tempat tidur dan menderita sakit. Kesadaran akan tindakan jahatnya baru muncul pada saat dirinya berhadapan dengan kematian yang akan menjemputnya.

Bentuk-bentuk kejahatan macam apa yang selama ini pernah kulakukan, karena aku tidak mampu mengendalikan diri dalam hal keinginan, harapan dan pemenuhan kebutuhan hidup? Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kerajaan-Ku Bukan Dari Dunia Ini


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA – Minggu, 22 November 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Pilatus masuk kembali ke dalam istana gubernur, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yoh 18:33-37) 

Bacaan Pertama: Dan 7:13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5; Bacaan Kedua: Why 1:5-8

“TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, ……”  (Mzm 93:1)

Pilatus bertanya kepada Yesus: “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Setelah itu terjadilah tanya-jawab singkat antara keduanya, Yesus menyatakan yang berikut ini: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini: jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh 18:36).

Ketika mengatakan kebenaran ini, Yesus membuat jelas bahwa para warga Kerajaan-Nya – anda dan saya – tidak perlu menyerahkan bagian mana pun dari hidup kita kepada klaim-klaim palsu kerajaan dunia ini. Akan tetapi, seringkali kita dilanda oleh rasa takut terhadap “para tuan tanah palsu” yang ingin merampok kita. Satu-satunya cara untuk keluar dari rasa takut ini adalah melalui persatuan yang lebih erat lagi dengan Raja kita yang sejati, Yesus Kristus. Bagaimana kita dapat mengenal Raja kita yang sejati itu secara lebih dekat lagi? Dengan hidup dalam kebenaran dan dengan melangkah ke luar dan masuk ke tengah dunia, dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah milik “dunia” yang lain.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/ 

Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa seluruh realitas baru ke dalam dunia: sukacita karena menjadi warga surga dan pewaris Kerajaan Allah. Sekarang, kita masing-masing dipanggil untuk menjadi saksi-saksi dari kasih yang ditawarkan secara gratis kepada setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Raja mereka.

Yesus pasti akan kembali lagi dalam kepenuhan kemuliaan Kerajaan-Nya, dan Ia telah mengutus Roh Kudus-Nya guna menolong kita mempersiapkan dunia untuk menyambut-Nya ketika Dia datang kembali kelak. Ketika kita mewartakan Injil Yesus Kristus lewat kata-kata dan perbuatan-perbuatan baik kita, maka sebenarnya kita ikut serta membuat dunia siap untuk menyambut-Nya. Sebuah senyum yang keluar dari hati, atau sapaan “halo, apa kabar” yang tulus, atau kata-kata yang memberi semangat dari Kitab Suci, atau janji yang bukan asal janji untuk mendoakan seseorang – semua ini dapat menyatakan kebenaran kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita.

Roh Kudus ingin bekerja melalui diri kita masing-masing supaya membawa dunia lebih dekat lagi kepada Kerajaan yang telah diaugurasikan oleh Yesus lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Ketika kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga”, sebenarnya kita menggabungkan diri dengan Yesus untuk menghantar orang-orang dan menyatakan kepada mereka Kerajaan yang dimaksudkan sebagai tujuan untuk mana kita semua dilahirkan.

Ref. Tuhan rajaku, agunglah nama-Mu. Alam raya dan makhluk-Mu kagum memandang-Mu.
 
Ayat. (Mzm 93:1ab.1c-2.5)

  1. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, Tuhan adalah Raja, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
  2. Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah! Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
  3. Peraturan-Mu sangat teguh, ya Tuhan yang abadi. Bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan, sepanjang masa.

DOA:  
Yesus, Rajaku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat ikut ambil bagian dalam membawa Kerajaan-Mu ke tengah dunia secara lebih penuh. Engkau adalah kebenaran yang membuat hidupku lengkap. Perkenankanlah aku menjadi seorang saksi dari kebenaran ini. 
Amin.

Minggu, 22 November 2015

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam
 
Kerajaan Kristus sudah Ada dalam Gereja, namun belum diselesaikan oleh kedatangan Raja di bumi "dengan segala kekuasaan dan kemuliaan" (Luk 21:27) Bdk. Mat 25:31.. Ia masih diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat Bdk. 2 Tes 2:7., walaupun mereka sebenarnya sudah dikalahkan oleh Paskah Kristus. Sampai segala sesuatu ditaklukkan kepada-Nya Bdk. 1 Kor 15:28., "sampai nanti terwujudkan langit baru dan bumi baru, yang diwarnai keadilan, Gereja yang tengah mengembara, dalam Sakramen-sakramen serta lembaga-lembaganya yang termasuk zaman ini, mengemban citra zaman sekarang yang akan lalu. Gereja berada di tengah alam tercipta, yang hingga kini berkeluh-kesah dan menanggung sakit bersalin, serta merindukan saat anak-anak Allah dinyatakan" (LG 48). Oleh karena itu orang Kristen berdoa, terutama dalam perayaan Ekaristi Bdk. 1 Kor 11:26., supaya kedatangan kembali Kristus Bdk. 2 Ptr 3:11-12. dipercepat, dengan berseru: "Datanglah Tuhan" (1 Kor 16:22; Why 22:17.20). 

Antifon Pembuka (Why. 5:12, 1:6)
Pantaslah Anak Domba yang disembelih itu menerima kuasa dan kekayaan, hikmat, kekuatan, dan hormat. Bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.

 
Doa Pagi

 
Allah Yang Mahakuasa dan kekal, Engkau berkenan membarui segala sesuatu dalam diri Putra-Mu terkasih, Raja Semesta Alam. Semoga segala makhluk yang telah dibebaskan dari perbudakan berhamba pada kebesaran-Mu dan tanpa henti memuji-muji Engkau. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Bacaan dari Nubuat Daniel (7:13-14)
 
"Kekuasaan-Nya kekal adanya."
 
Aku, Daniel, melihat dalam penglihatan waktu malam: Nampak seorang seperti anak manusia datang dari langit bersama awan-gemawan. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya, dan diantar ke hadapan-Nya. Kepada yang serupa anak manusia itu diserahkan kekuasaan, kehormatan dan kuasa sebagai raja. Dan segala bangsa, suku bahasa dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal adanya, dan kerajaan-Nya takkan binasa.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 837
Ref. Tuhan rajaku, agunglah nama-Mu. Alam raya dan makhluk-Mu kagum memandang-Mu.
Ayat. (Mzm 93:1ab.1c-2.5)

  1. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, Tuhan adalah Raja, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
  2. Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah! Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
  3. Peraturan-Mu sangat teguh, ya Tuhan yang abadi. Bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan, sepanjang masa.
Bacaan dari Kitab Wahyu (1:5-8)
 
"Ia yang berkuasa atas raja-raja di bumi telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah."

 
Yesus Kristus adalah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Dia mengasihi kita, dan berkat darah-Nya Ia telah melepaskan kita dari dosa kita. Dia telah membuat kita menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya. Bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin. Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, Amin. “Aku adalah Alfa dan Omega,” firman Tuhan Allah, “yang kini ada, yang dahulu sudah ada, dan yang akan tetap ada, Yang Mahakuasa.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, Kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mrk 11:9b.10a)
Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Diberkatilah Kerajaan yang telah tiba, Kerajaan bapa kita Daud.

 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (18:33b-37)

"Seperti yang kaukatakan, Aku adalah raja."
Ketika Yesus dihadapkan ke pengadilan, bertanyalah Pilatus kepada-Nya, “Engkaukah raja orang Yahudi? Jawab Yesus, “Dari hatimu sendirikah engkau katakan hal itu? Atau adakah orang lain yang mengatakan kepadamu tentang Aku?” Kata Pilatus, “Orang Yahudikah aku! Bangsamu sendiri dan imam-imam kepala telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini! Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini!” Maka kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi Engkau adalah Raja?” Jawab Yesus, “Seperti yang kaukatakan, Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dunia ini, yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan 


Hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi ini kita rayakan sebagai Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan Injil mengisahkan pewahyuan diri Yesus di hadapan Pilatus. Yesus tidak menyangkal bahwa Ia adalah Raja Orang Yahudi. Orang-orang Yahudi mengharapkan kedatangan sosok keturunan Daud yang akan datang sebagai raja yang memerintah mereka seperti Daud bapa leluhurnya, yang bisa menjaga keamanan negeri dengan mengalahkan musuh-musuhnya. Sang Mesias yang juga disebut Raja Orang Yahudi juga diharapkan menampilkan peran yang sama. Yesus tidak menyangkal bahwa Ia adalah raja orang Yahudi, hanya saja Ia menjelaskan bahwa kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini dan bahwa kerajaan-Nya adalah kerajaan kebenaran. Yesuslah yang oleh penulis kitab Wahyu disebut sebagai saksi Allah yang setia, yang pertama bangkit dari mati, yang melepaskan kita dari dosa berkat darah-Nya, dan membangun kita bersama menjadi satu kerajaan. Dialah raja yang diberi kekuasaan, kehormatan dan kerajaan.

Sabda ini mengajak untuk melihat lagi kenyataan hidup kita. Apakah Yesus masih menjadi raja yang bertakhta dan berkuasa dalam diri kita masing-masing, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan di tengah-tengah hidup semesta ini? Ketika ada banyak kekuasaan yang menarik-narik kita, masihkah kita setia menempatkan Yesus di tempat terbaik dalam hati kita sebagai takhta tempat Dia bersemayam? Masihkah kita menyediakan waktu terbaik dalam hidup sehari-hari kita bagi Yesus Sang Junjungan? Tidak jarang Yesus terabaikan dalam hidup kita sehari-hari. Ia memang raja yang bersemayam dalam diri kita, tetapi sering tidak kita sapa, tidak kita pedulikan, tidak kita mohon nasihat dan pertimbangan-Nya. Kita ingin berkuasa atas diri kita sendiri sehingga melupakan Yesus yang senyatanya adalah raja yang berkuasa atas diri kita. Maka, tidak salahlah kita sekali lagi mencermati kenyataan hidup kita dan menempatkan diri di bawah Sang Raja Semesta Alam agar Ia meraja dan berkuasa atas seluruh hidup kita. 

Antifon Komuni (Mzm 29:10-11)
 
Tuhan akan bertakhta sebagai Raja untuk selamanya. Tuhan akan memberkati umat-Nya damai.

20 November 2015

Mereka Adalah Anak-Anak Allah, Karena Mereka Telah Dibangkitkan

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Sabtu, 21 November 2015)


Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40)

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Orang-orang Saduki adalah sebuah kelompok pemuka agama yang – seperti juga orang-orang Farisi – menentang Yesus. Namun tidak seperti orang-orang Farisi, mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati dan mereka juga berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai sumber otoritas mereka satu-satunya. Orang-orang Saduki ini adalah kelompok yang lebih kaku-keras-ketat daripada orang-orang Farisi. Jadi, tidak mengherankanlah apabila mereka merasa tersinggung oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatannya radikal dan juga penerimaan oleh orang banyak atas ajaran-Nya.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang guna menjebak Yesus dan mempermalukan Dia dan ajaran-Nya. Persoalan hipotetis tentang perempuan yang tidak beranak dan kawin berturut-turut dengan saudara laki-laki suaminya yang meninggal seturut hukum Levirat adalah umpan agar Yesus dapat terjerat. Apakah ada kebangkitan setelah seseorang meninggal dunia? Kalau begitu jadinya, bagaimana ajaran Musa dapat diterapkan dalam situasi yang mengandung teka-teki tersebut?

Yesus mengetahui apa yang ada di belakang pertanyaan “nakal” orang-orang Saduki tersebut. Mula-mula Yesus menjawab pertanyaan mereka berdasarkan pengertian mereka sendiri, namun pada saat sama Dia berupaya meningkatkan pikiran mereka ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, – seperti juga yang secara tradisional dilakukan oleh para rabi – Yesus pertama-tama menyajikan suatu ringkasan dari ajaran-ajaran-Nya. Guna mendukung ajaran-ajaran-Nya, Yesus memetik dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Luk 20:37), satu-satunya otoritas yang dapat diterima oleh orang-orang Saduki.

Namun kita harus mencatat bahwa Yesus ingin melakukan lebih daripada sekadar membuktikan siapa diri-Nya. Sementara bentuk tanggapan Yesus sejalan dengan tradisi mereka, isi pesan-Nya menunjukkan suatu perbedaan yang radikal. Orang-orang benar tidak hanya dibangkitkan ke dalam kehidupan, melainkan juga mereka adalah “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36). Bapa surgawi tidak hanya memberikan kehidupan di atas bumi, melainkan juga Dia menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan melampaui kubur. Karena kematian dikalahkan, anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; mereka semua hidup di hadapan-Nya” (Luk 20:36,38) dalam suatu kehidupan baru yang lengkap, mengatasi kehidupan yang mereka kenal di atas bumi.

Dengan demikian jawaban Yesus sungguh melampaui pertanyaan-pertanyaan orang-orang Saduki untuk menyatakan kasih dan rahmat Bapa. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita (anda dan saya) dapat mengalami kehidupan seperti hidup Yesus sendiri, bebas dari maut dan hidup bagi Allah (Rm 6:5-11). Jika kita bersatu dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengenal kebebasan dan mengalami kebebasan dari dosa dan maut, buah pertama dari hidup surgawi yang menantikan kita.


Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, aku bergembira atas kemenangan-Mu.
Ayat. (Mzm 9:2-3.4.6.16b.19)
  1. Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau bermazmur bagi nama-Mu, ya yang Mahatinggi.
  2. Sebab musuhku telah mundur, tersandung jatuh, dan binasa di hadapan-Mu. Engkau menghardik bangsa-bangsa, dan telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya.
  3. Kakinya terperangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.
DOA: 
Bapa surgawi, Engkau adalah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu hidup yang ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami agar senantiasa setia selagi kami mengantisipasi sukacita hidup kekal-abadi. 
Amin.