Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

10 Oktober 2015

Jalan Kemurahan Allah

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/
Kisah Elia dan janda Sarfat adalah salah satu cerita populer sekolah minggu. Kejadian ketika Allah mengutus Elia kepada seorang janda dengan tujuan untuk memelihara hidupnya selamat tiga setengah tahun kelaparan itu diangkat oleh Yesus ketika Ia menghadapi penolakan orang-orang Kapernaum. Suatu kisah yang menarik memang karena Alkitab menuliskan bahwa Elia diutus Allah kepada seorang janda di tempat asing, Sidon, dan bukan kepada janda-janda yang ada di Israel. Mengapa demikian?

Seperti halnya Yesus ditolak oleh orang-orang di tempat asalnya, hal yang sama terjadi juga kepada Elia. Orang Israel menolak Elia dan pesan Allah yang dibawanya. Mereka sudah terbiasa dengan siapa Elia dan kesehariannya sehingga mereka sulit untuk menerima bahwa Allah mengirimkan pesan lewat orang sepertinya. Cara Allah untuk menentukan siapa yang akan menjadi pembawa pesan-Nya (contoh: Elia) dan kepada siapa Ia mau berkarya (janda Sarfat, dan bukan kepada salah satu janda di Israel) adalah hak prerogatif-Nya.Sejarah terbukti mencatat bahwa kala itu mujizat dinyatakan di tempat lain dan bukan di Israel. Janda Sarfat yang diperkirakan sebagai ibu Yunus (nabi yang diutus Allah ke Niniwe) itu pun disebut-sebut orang Israel sebagai yang paling layak, berhak, benar di antara seluruh generasi yang hidup zaman itu untuk menerima anugerah Allah.


Hati dan pikiran Allah memang terlalu dalam untuk dipahami. Kita tidak akan pernah bisa memperkirakan ke mana Ia bekerja kecuali kita mengenal-Nya secara pribadi. Kalau kita hidup dekat dengan-Nya, berusaha mengetahui isi hati-Nya, kita akan tahu bahwa pekerjaan-Nya adalah selalu untuk kebaikan orang-orang percaya, orang-orang yang mengasihi-Nya. Ia juga menghendaki pertobatan dan keselamatan semua orang; itulah mengapa Ia mengutus para nabi bahkan Anak Tunggal-Nya sendiri, itulah mengapa Ia rela menjadi menusia dan mati bagi kita.


Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah nenuntun engkau kepada pertobatan?
(Roma 2:4)