Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

22 Oktober 2015

Asal Saja Kita Mau Membuka Mata Hati Kita

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 23 Oktober 2015)
Peringatan S. Yohanes dr Capistrano
Keuskupan TNI-POLRI: Pesta S. Yohanes dr Capistrano


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59)

Bacaan Pertama: Rm 7:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94 


Dengan cara sendiri-sendiri, mereka yang ada ditengah-tengah orang banyak sebenarnya tahu bagaimana memahami dan menanggapi jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka. Awan akan mendatangkan hujan; angin selatan berarti panas terik. Dalam kedua situasi tersebut tidak sulitlah untuk mengetahui jenis pakaian apa yang akan kita kenakan atau bagaimana merencanakan kegiatan-kegiatan kita. Masalahnya adalah, bahwa orang-orang mau menanggapi dengan baik segala peristiwa alam yang berlangsung dalam hidup mereka, namun tidak mau memberikan tanggapan terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat adikodrati, beberapa di antaranya malah jauh lebih jelas dan dapat diandalkan daripada ramalan-ramalan cuaca.

Yesus bertanya mengapa mereka tidak dapat memahami “zaman ini” se-akurat seperti mereka dapat memahami hal-ikhwal cuaca atau keperluan-keperluan sehubungan dengan tindakan hukum (Luk 12:56). Ada dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘waktu’. Yang pertama adalah kronos (ingat kata kronologi) yang adalah waktu dalam arti sehari-hari. Ada lagi satu kata, yaitu kairos, yang dalam Perjanjian Baru sering dimaksudkan sebagai suatu waktu spesifik yang ditetapkan Allah sendiri. Tanda-tanda zaman ada di sekeliling orang-orang Yahudi: roti yang diperlipat-gandakan, orang lumpuh dapat berjalan, orang buta dibuat melihat lagi, para pendosa melakukan pertobatan, dan Kabar Baik juga disebar-luaskan. Yesus sendiri berdiri di tengah-tengah umat sebagai suatu manifestasi kasih dan kuasa Bapa surgawi. Bagaimana seseorang yang dikelilingi dengan tanda-tanda heran sedemikian, tidak terdorong untuk memeriksa keterbukaan dirinya terhadap karya Allah yang dilihatnya berlangsung di depan matanya? Bukankah ini kairos Tuhan?

Seperti juga pada zaman Yesus dulu, hari ini tanda-tanda yang sama ada dan berlangsung di sekeliling kita. Seluruh dunia telah ditransformasikan oleh kebangkitan Kristus dan pencurahan Roh Kudus. Tanda-tanda heran ada di sana, asal saja kita mau membuka mata (hati) kita. Mukjizat-mukjizat dan berbagai keajaiban terjadi: kesembuhan-kesembuhan batin maupun fisik terjadi manakala anak-anak Allah yang dipimpin Roh melibatkan diri, relasi-relasi yang sudah berantakan dapat dipulihkan kembali, sukacita Kristiani yang sejati terungkap dalam diri mereka yang melibatkan diri dalam karya- karya karitatif, bermunculannya dorongan-dorongan batin yang asli untuk melakukan persekutuan dengan mereka yang beriman lain dari kita. Pada tahun 2002, saya sempat menyaksikan bagaimana Bruder Severino Lee OFM dan beberapa saudara dina lain setiap hari dengan penuh sukacita melayani orang-orang miskin kota Seoul lewat “dapur umum” mereka yang bernama BETLEHEM (artinya “rumah roti”, bukan?). Samasekali bukanlah upaya “Kristenisasi”, tetapi sekadar melayani “wong cilik” dengan hati yang tulus sebagai sesama yang sederajat, seperti telah dicontohkan oleh Bapak Fransiskus. Saudara-saudariku, Allah memang terus bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Begitu banyak buktinya, asal saja kita mau melihat dan mendengarkan Dia. Inilah kairos Tuhan, jangan merasa ragu lagi!

Yesus mendesak para pendengar-Nya agar membaca tanda-tanda ini dan bertindak selagi masih ada waktu untuk itu (Luk 12:57-59). Perumpamaan tentang pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada, menunjuk kepada Allah dan penghakiman-Nya. Memperlakukan sesama kita dengan adil adalah tanggapan yang pantas terhadap apa yang dikehendaki Allah. Dengan melakukan hal itu, kita
 pun sebenarnya sedang menyiapkan diri untuk penghakiman-Nya kelak.

DOA: 

Bapa surgawi, dalam kerahiman-Mu Engkau telah menebusku dan membuka pintu surga bagiku. Oleh Roh-Mu, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda kasih dan kuasa-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana menanggapi undangan-Mu kepada kehidupan sejati.
 Amin.