Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

17 Oktober 2015

Dapatkah Kamu Meminum Cawan Yang Harus Kuminum?


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXIX [TAHUN B] – 18 Oktober 2015)
Hari Minggu Evangelisasi


http://theresia-patria-jaya.blogspot.co.id/

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?” Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.” Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk 10:35-45)

Bacaan Pertama: Yes 53:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16


Yesus sama sekali tidak menegur dengan keras Yakobus dan Yohanes ketika mereka minta kepada-Nya untuk menjadi tokoh-tokoh penting yang masing-masing akan duduk di sisi kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya. Yesus hanya mengatakan bahwa kedua orang murid-Nya itu tidak tahu apa yang mereka minta. Kemudian, Yesus menantang mereka: “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?” (Mrk 10:38). Dengan mensejajarkan ambisi dua orang murid-Nya dengan kerendahan hati-Nya sendiri, Yesus mengoreksi semangat bergebu-gebu mereka untuk memperoleh kemuliaan dengan mengajar mereka untuk mengindahkan panggilan Allah kepada pelayanan yang dilakukan dengan kerendahan hati.

Kerendahan hati Yesus berasal dari cintakasih-Nya kepada Bapa dan dunia. Yesus mau menanggung apa saja – malah kematian sekali pun – guna menyelamatkan umat manusia. Kerendahan hati macam inilah yang melepaskan kasih Allah bagi dunia dan memajukan Kerajaan-Nya. Kerendahan hati macam inilah yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya, ketika Dia berkata: “Siapa saja yang menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44).

Jangan salah! Yesus tidak mencari murid-murid yang seperti tanaman “puteri malu”. Itu bukanlah macam kerendahan hati yang dicari oleh-Nya. Dia mencari orang-orang seperti diri-Nya sendiri yang akan menanggung kesedihan Bapa atas penderitaan dalam dunia. Dia mencari orang-orang yang akan bekerja dengan diri-Nya agar dunia dapat dibebas-merdekakan dari dosa. Jadi, Yesus tidak menegur dan memarahi Yakobus dan Yohanes untuk ambisi mereka yang salah-arah. Sebaliknya, Yesus justru menyalurkan ambisi mereka sehingga mau merangkul kehendak Bapa: “Kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima” (Mrk 10:39).

Jika kita tidak sampai menciut, pentinglah untuk memahami bahwa cawan pengorbanan ini juga merupakan suatu keintiman dengan Allah. Setiap tindakan kematian terhadap diri sendiri demi Kerajaan Allah akan membawa kita lebih dekat lagi dengan Yesus. Semakin penuh kita minum dari cawan ini, semakin penuh pula kita belajar bahwa Yesus tidak pernah meminta atau menuntut lebih dari diri kita daripada pemberdayaan yang telah dilakukan-Nya atas diri kita untuk mampu memberikan sesuatu. Yesus selalu mengundang kita untuk “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (Ibr 4:16).


DOA:
Tuhan Yesus, kami mengkomit diri kami kepada-Mu untuk saling melayani dengan kerendahan hati, sebagaimana Engkau telah mengasihi dan melayani kami.
 Amin.