Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

17 Juni 2015

Pentakosta dan Karunia Bahasa Roh


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/
Pencurahan roh: Pelayanan doa dalam Kebangunan Rohani Katolik Persekutuan Doa Gloria Jakarta
Fenomena bahasa roh sering dihubungkan dengan peristiwa Pentakosta.

Bahasa roh sering dihayati sebagai satu cara memperdalam relasi dengan Tuhan, entah dengan diucapkan sebagai doa (pray in The Spirit) ataupun dengan disenandungkan (singing in The Spirit). Terjemahan Indonesia kata “bahasa” (tongue = lidah, glossais = dengan lidah-lidah) dapat membingungkan, seolah setara dengan bahasa yang memenuhi kaidah-kaidah gramatikal.

Bahasa roh memang mengandung unsur suara dalam bentuk bunyi-bunyian yang melibatkan pita suara, gerakan mulut dan lidah, namun diucapkan tanpa struktur dan tanpa arti yang dapat diterjemahkan secara harafiah. Sepintas nampak sebagai gejala kesurupan, sehingga membuat orang yang melihat merasa aneh, asing, serta menakutkan. Lalu, banyak orang tidak suka terlibat dalam persekutuan doa.

Bahasa bunyi

Bahasa roh memiliki makna bagi yang mengalami secara otentik. Sebagai ilustrasi, seorang ibu terhadap bayinya tidak menggunakan bahasa formal dengan kalimat yang memuat subyek, predikat, dan obyek. Dia membangun komunikasi dan menjadi akrab melalui bahasa bunyi-bunyian. Hal yang sama, ketika para pendukung di sebuah stadion olahraga kehabisan kata-kata untuk menyalurkan rasa gembira atas kemenangan tim unggulannya, mereka melompat-lompat secara spontan sambil meneriakkan bunyi-bunyian tertentu sebagai ungkapan kekaguman. Bunyi-bunyian tersebut tak bisa diterjemahkan secara harafiah, namun semua orang yang mendengarkan dapat memahami kedekatan relasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam “komunikasi bunyi- bunyian” itu.

Berdoa atau bersenandung dalam roh adalah “bahasa bunyi-bunyian”, “bahasa cinta” yang mendekatkan orang beriman kepada Allah, melalui suatu cara yang praktis, sederhana, mudah, tanpa disertai analisis intelektual ataupun berpikir secara kritis dan ketat. Ini merupakan doa vokal yang lebih mengaktifkan otak kanan, daripada belahan otak kiri. Jika kurang berhati-hati, pada tataran ini tentu saja mudah sekali muncul berbagai akibat, seperti luapan emosional, keterpukau an kepada hal-hal sensasional, gejala histeria atau tanda-tanda yang memperlihat kan ketidakseimbangan kepribadian seseorang, dan yang lain.

Hanya perlu dicatat, bukan karena berbahasa roh, maka seseorang menjadi emo sional, tetapi ada sejumlah orang yang memiliki kecenderungan bersikap emosional atau memiliki disorder behaviour, lalu menjadi semakin tampak ketika mereka masuk ke dalam doa-doa dengan model tertentu. Karunia membeda- bedakan roh (discernment of spirits) menjadi sangat relevan dalam hal ini.

Seseorang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu sebelum ia diantar menuju pengalaman berdoa dalam roh. Kendati Roh Kudus berhembus ke mana ia mau, melakukan doa-doa pencurahan Roh Kudus secara massal dengan maksud agar memperoleh karunia bahasa roh tanpa disertai persiapan yang matang, amatlah tidak bijaksana. Dalam Pembaharuan Karismatik Katolik, ada Seminar Hidup Dalam Roh (SHDR) yang secara sistematis membantu peserta untuk memperoleh karunia berdoa dengan cara baru. Apakah itu hanya satu-satunya cara? Tentu saja tidak. Banyak orang memperolehnya di luar SHDR, misal ketika sedang berdoa Rosario atau ketika sedang merenungkan Kitab Suci, serta cara-cara yang lain. Manusia tidak dapat menentukan cara Allah membagikan karunia-karunia-Nya.

Nasihat Paulus
Mengenai karunia-karunia Roh, St Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (bab 12-14) menyebut dua macam bahasa roh. Pertama, berdoa atau menyanyi dalam roh yang berfungsi sebagai doa pribadi, sehingga tidak perlu ditafsirkan. Kedua, berkata-kata dalam roh yang berfungsi sebagai nubuat untuk membangun jemaat, dan oleh karenanya harus disertai orang yang mendapat karunia menafsirkan. Bentuk kedua amat jarang terjadi dalam persekutuan-persekutuan doa Katolik. Yang banyak dihayati dan dilakukan adalah berdoa dan bersenandung dalam roh. Meskipun merupakan karunia berdoa pribadi, jika hal tersebut dilakukan bersama-sama sebagai kesatuan yang memiliki keterarahan sejati kepada Allah, dapat menjadi sungguh harmonis dan indah. Apakah bahasa roh yang dimaksud dan dipraktikkan oleh St Paulus sama dengan bahasa roh yang kini berkembang di persekutuan-persekutuan doa Pembaharuan Karismatik Katolik? Tentang hal ini belum ada yang mengetahui.

St Paulus memberikan nasihat kepada jemaat di Korintus untuk berusaha memperoleh karunia-karunia yang paling utama. St Paulus menunjukkan jalan yang lebih utama lagi, yaitu kasih (1 Kor 13). Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap, kasih tidak berkesudahan.

Berhadapan dengan kasih, semua karunia akan mati apabila dikejar demi kepentingan diri sendiri. Menjadikan bahasa roh sebagai indikasi kesucian melebihi orang lain adalah melawan cinta kasih. Hidup suci bukan merupakan hasil usaha atau rekayasa manusia, namun dengan sakramen Baptis sudah merupakan rahmat dari Allah yang memungkinkan kita ambil bagian dalam hidup adikodrati.

Ajakan berdoa

Sejak menerima Sakramen Baptis, Roh Kudus sudah bersemayam dalam diri setiap orang beriman, yang diteguhkan juga melalui Sakramen Krisma. Istilah “baptis dalam Roh” yang dipakai dalam Pembaharuan Karismatik Katolik kadang menimbulkan salah paham. Orang mengira ia harus dibaptis kembali untuk memperoleh karunia bahasa roh. Kini, istilah “baptis dalam Roh” sering digantikan dengan istilah “pencurahan Roh Kudus” atau “doa memohon pencurahan Roh Kudus”.

Maka, “pencurahan Roh Kudus” lebih merupakan ajakan untuk berdoa memohon agar Allah sudi hadir untuk menyentuh kembali dan menganugerahkan keterbu kaan hati serta pertobatan yang lebih mendalam, agar seseorang dapat membiar kan Roh Kudus lebih berkarya dalam hidupnya. Inilah inti pembaharuan hidup rohani; perjumpaan pribadi dengan Allah yang membimbing setiap orang kepada pertobatan terus-menerus (on going conversion), bukan ia sudah memperoleh bahasa roh atau belum.

Lantaran bukan Sakramen Baptis maupun Sakramen Krisma, maka doa mohon pencurahan Roh Kudus boleh diikuti berkali-kali. Banyak yang memberi kesaksian bahwa mereka terbantu mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah melalui doa-doa pencurahan Roh Kudus. Buah-buah positifnya, antara lain penghayatan terhadap sakramen-sakramen yang semakin menggairahkan hidup beriman, kerinduan mendalami Kitab Suci, atau komitmen untuk turut mewartakan Kabar Baik yang terus bertumbuh.Semoga hal-hal tersebut menjadi jawaban atas kerinduan Gereja akan pengalaman Pentakosta baru. Kita dipanggil untuk bertekun dalam upaya menyuburkan karunia-karunia yang bermanfaat bagi pembangunan Tubuh Kristus. Rasul Paulus menekankan dua hal yang perlu diusahakan jemaat di Korintus pada saat terkena virus perpecahan akibat saling berlomba mengunggulkan karisma masing-masing, yaitu pengendalian diri dan kasih.

Pentakosta

Pengalaman berbahasa roh sering dihubungkan dengan peristiwa Pentakosta yang dicatat dalam K
isah Rasul (2:1-13). Penginjil Lukas merefleksikan peristiwa Pentakosta dan mencatatnya baru sekitar lima puluh tahun kemudian. Sehingga tulisan dia dalam Kisah Para Rasul tentang Pentakosta bukanlah melulu laporan atas fakta-fakta harafiah. Ada sejumlah makna dan pendalaman simbolis juga.

Kita diajak mengagumi karya Roh Allah yang membuat pewartaan Injil oleh sedikit orang, yakni beberapa rasul dari Galilea, namun berhasil menjangkau begitu banyak orang dan telah menjadi terang bagi bangsa-bangsa sekitarnya. Mukjizat bahasa dalam peristiwa Pentakosta dapat dihayati dalam arti para rasul dimampukan untuk berbicara dalam bahasa semua orang, sehingga karya keselamatan Allah telah melintas batas suku bangsa, lapisan, dan golongan. Itulah daya kekuatan Roh Kudus yang dilukiskan sebagai “lidah-lidah api yang bertebaran dan hinggap di atas tiap-tiap rasul”. Mereka menerima pencurahan Roh Kudus secara pribadi dan sekaligus pencurahan atas semua secara bersama-sama sebagai jemaat yang bersatu padu.

Pentakosta yang memiliki dimensi eklesial dari hidup beriman tidak boleh direduksi menjadi urusan penonjolan karunia-karunia pribadi atau segolongan orang saja. Pentakosta adalah peristiwa untuk menghidupkan terus-menerus keterbukaan seluruh Gereja terhadap karya pewartaan Kabar Baik yang sangat kaya dan dinamis berkat daya Roh Kudus. Dialah jiwa Gereja dan agen utama evangelisasi.