Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

08 Juni 2015

Mereka Yang Berbahagia

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Senin, 8 Juni 2015)
OFMCap.: Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan harus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:1-12) 

Bacaan Pertama: 2Kor 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9
Apakah artinya menjadi seorang kudus? Untuk itu marilah kita mendengarkan ajaran Yesus dalam bacaan Injil hari ini.

Orang-orang yang terberkati – yang berbahagia – adalah orang-orang yang miskin dalam roh (terjemahan LAI: miskin di hadapan Allah). Orang-orang yang terberkati – yang berbahagia – adalah orang-orang yang berdukacita atas ketidaktaatan manusia terhadap Hukum Allah. Orang-orang yang terberkati – yang berbahagia – adalah orang-orang yang membawa damai ke tengah para sahabat dan anggota keluarga mereka. Orang-orang yang terberkati – yang sungguh berbahagia – adalah orang-orang yang menderita demi kebenaran, iman dan kasih. Mereka berbahagia dan dipuaskan walaupun betapa berat rasa sakit yang mereka tanggung, karena mereka senantiasa merasa lapar akan Allah dan hal-hal yang menyangkut Allah.

Kepada orang-orang seperti itu, apabila kita adalah orang-orang seperti itu, Kristus berkata, “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12). Orang-orang sedemikian akan menemukan kebahagiaan sejati karena hidup mereka dipusatkan pada Allah dan sesama demi Allah. Mereka adalah orang-orang yang bukan self-centered (berpusat pada diri sendiri).

Menjadi seorang kudus berarti mengambil suatu keputusan bagi Kristus. Apabila kita mempelajari atau membaca riwayat hidup orang-orang kudus pelindung kita, maka pasti kita menemukan bahwa pada sebuah tempat tertentu, pada suatu saat tertentu dalam hidup mereka, mereka mengambil suatu keputusan yang teguh bagi Kristus, untuk menjadi pembawa damai dalam nama Kristus, untuk menjadi miskin seperti Kristus, untuk menjadi rendah hati (dina) dan jujur seperti Kristus.

Saudari dan Saudaraku, apakah kita (anda dan saya) telah membuat komitmen sedemikian? Apakah kita telah mengambil suatu keputusan yang teguh bagi Kristus? Apakah yang paling penting dalam hidup kita?

Apabila pikiran kita masih bercabang-cabang, misalnya memikirkan harta kekayaan karena pengaruh ajaran para motivator, nabi palsu dlsb., masih memikirkan kebutuhan materiil, apabila kita masih memikirkan kepentingan diri sendiri, bukannya berbelas kasih kepada sesama yang memerlukan pertolongan, bukannya membawa damai tetapi membawa perpecahan, maka sesungguhnya kita belum menjadi murid Kristus yang sejati.

Dalam “Sabda-Sabda Bahagia” Yesus Kristus telah memberikan pengajaran-Nya, berbagai resep untuk memperoleh kebahagiaan, untuk mencapai kekudusan sejati. Tidak ada jalan lain bagi kita untuk dipertobatkan, untuk benar-benar berkomitmen pada suatu hidup kekudusan.

DOA: 

Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Berikanlah kepada kami suatu hasrat yang baru untuk menjadi seperti Engkau dalam “Sabda-sabda Bahagia”. Mampukanlah kami untuk mengetahui bahwa Engkau akan memberikan segalanya yang kami butuhkan. 
Amin.