Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

18 Juni 2015

Dikuduskanlah Nama-Mu

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Kamis, 18 Juni 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yan g jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15)

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8
“Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu” (Mat 5:9).
Kita selalu memulai doa kita dengan memuji Allah. Pujian menempatkan diri kita dalam relasi yang benar dengan Allah. Dengan memuji-Nya, kita menunjukkan ketertundukan kita di bawah otoritas-Nya. Allah adalah Dia yang Mahamulia, Mahakuasa, Makakekal, … Mahalain. Di lain pihak, kita adalah ciptaan-Nya yang sedang berjuang, makhluk berdosa yang tergantung kepada-Nya akan penebusan dan rahmat, iman dan pengharapan, penyelamatan dan kebenaran. Oleh karena itu, setiap kali kita mengawali “Doa Bapa kami”, Yesus mengajar kita supaya selalu mengucapkan kata-kata di atas.

Sekarang, apakah kita sungguh menghayati kata-kata yang kita ucapkan tersebut? Apakah hidup kita sungguh mengungkapkan suatu hasrat yang tulus untuk memanifestasikan kekudusan Bapa surgawi? Apakah cara hidup kita menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mencari kemuliaan-Nya. Nama Allah Bapa dikuduskan atau dimuliakan ketika kekudusan-Nya dimanifestasikan dan dimuliakan. Apabila kita memanifestasikan kekudusan-Nya dalam hidup kita, maka orang-orang lain akan melihat hal tersebut, dan kemudian memuliakan nama-Nya juga. Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan bapamu yang di surga” (Mat 5:16). Dengan memuliakan Allah Bapa lewat praktek hidup kita, maka kita pun akan melanjutkan misi Kristus sendiri untuk menjadi “kemuliaan” dalam menyatakan Bapa surgawi.

Hanya apabila kita sungguh mengasihi dan menghormati kekudusan Allah dari kedalaman hati kita, maka kita akan melakukan segala sesuatu yang mampu kita lakukan untuk memanifestasikan dan memuliakan nama-Nya. Jika kita sungguh mengasihi dan menghormati Allah dari kedalaman hati kita, maka kita akan sungguh merasa pedih karena ketiadaan rasa hormat orang-orang lain kepada-Nya. Kita merasa sakit bilamana orang-orang lain “merusak” kekudusan Allah lewat kehidupan penuh dosa mereka.

Rasa hormat kita yang mendalam kepada Allah akan ditunjukkan dalam hidup kita, menyatakan kekudusan-Nya kepada orang-orang lain, sehingga mereka pun ditarik untuk menghormati-Nya. Santo Petrus menulis,“Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (1Ptr 2:12). Dengan kata-kata ini, Petrus sebenarnya hanya mengulangi sabda Yesus dalam “Khotbah di Bukit” berikut ini: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan bapamu yang di surga” (Mat 5:16).

Perbuatan-perbuatan baik apa yang memanifestasikan Allah Bapa dengan suatu cara yang istimewa, dengan demikian menyebabkan orang-orang lain memuliakan-Nya? Perbuatan-perbuatan baik yang menunjukkan bahwa kita adalah sungguh anak-anak dari Bapa surgawi. Ini adalah pekerjaan-pekerjaan kasih yang melimpah. Yesus menggambarkan semua itu sebagai kebenaran yang mengungguli. Dia bersabda, “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). “Kebenaran yang mengungguli” ini, kasih yang berlimpah ini, mengalir ke luar dan merangkul bahkan musuh-musuh kita juga. Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45).

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kasih sedemikian dalam diri anak-anak-Nya menyatakan kasih dalam Allah, Bapa mereka. Kasih itu memanifestasikan diri-Nya sebagai Bapa, agar supaya orang-orang lain juga akan menerima dan memuliakan-Nya sebagai Bapa. Kasih sedemikian kepada para musuh mensyaratkan rasa hormat mendalam kepada Allah dan segalanya yang merupakan milik-Nya. Setiap pribadi manusia, apakah seorang pendosa atau seorang kudus, adalah milik-Nya: Dialah “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Setiap pribadi adalah sakral di mata Allah, karena adalah mutlak bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27). Jadi, apakah seorang pribadi adalah seorang kudus atau seorang pendosa, dia tetap merupakan gambar dan rupa Allah, dengan demikian harus dihormati seperti itu. Tujuan dari suatu imaji (gambaran) adalah untuk memanifestasikan yang dicitrakan/digambarkan. Setiap pribadi manusia diciptakan untuk menjadi suatu manifestasi dari Allah sendiri. Imaji itu disempurnakan hanya apabila seseorang mengasihi seperti Allah mengasihi, karena kasih pada hakekatnya adalah kodrat Allah sendiri. Di atas segala-galanya, Allah dimanifestasikan dalam kasih dan bela rasa-Nya terhadap umat-Nya.

Melalui dosa, kita mendistorsi diri kita sendiri sebagai imaji Allah. Kristus mati di kayu salib untuk memulihkan citra Allah ini dalam diri kita masing-masing, dan imaji ini dipulihkan ketika kasih Allah sendiri dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita (lihat Rm 5:5). Jadi, setiap pribadi manusia harus dihormati sebagai seorang saudari atau saudara “untuk siapa Kristus telah mati” (1Kor 8:11).

Dengan demikian, karena rasa hormat kita kepada Allah yang mengasihi semua orang tanpa kecuali, kita (anda dan saya) pun harus mengasihi orang-orang lain termasuk musuh-musuh kita. Jadi, dalam hal ini kita menunjukkan diri kita sebagai anak-anak sejati dari Bapa surgawi, dan kita memanifestasikan Bapa kepada orang-orang lain.

Jadi, setiap kali kita berdoa: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”, maka kita berdoa bahwa kita akan siap dan mampu untuk memuliakan Bapa surgawi, bahkan dengan mengasihi musuh-musuh kita. Mengapa? Karena bagaimana kita dengan tulus dapat mengatakan nama Allah untuk dikuduskan atau dimuliakan, dimanifestasikan sebagai kudus, kalau kita tidak dengan tulus mencoba untuk memanifestasikan kekudusan-Nya dengan kekudusan hidup kita sendiri?

Saudari-Saudaraku dalam Kristus, kasih kita kepada musuh-musuh kita merupakan manifestasi puncak dari kekudusan Bapa surgawi. Karena rasa hormat kita yang mendalam kepada kekudusan Bapa, kita pun tidak menyakiti orang lain, kita berbuat kebaikan bagi setiap orang, karena setiap orang adalah kudus di mata Bapa surgawi dan setiap orang adalah milik-Nya. Allah Bapa merangkul semua orang dalam kasih-Nya dan mengharapkan kita masing-masing melakukan hal yang sama.

DOA: 
Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus, ajarlah aku untuk berdoa dengan benar seturut apa yang diajarkan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.