Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

16 September 2015

Jadilah Tenang

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Daniel (Beltsazar) adalah salah satu tokoh Alkitab yang luar biasa. Dalam pembuangan, ia justru bersinar. Di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Allah, ia berani tampil beda. Di Babel, ia adalah orang asing, tetapi karena Allah menyertai dia, ia menjadi orang penting selama masa pemerintahan tiga orang raja.

Keberhasilan Daniel ini tidak serta-merta disukai semua orang. Ada orang-orang Babel yang iri dan tidak menyukai keberadaannya. Bayangkan kalau salah satu penguasa (orang penting) di Indonesia ternyata bukan orang Indonesia. Dapatkah kita dengan mudah menerimanya?

Demi menyingkirkan Daniel, para petinggi dan wakil raja membuat siasat jahat. Mereka menyanjung-nyanjung raja, menghasutnya sedemikian rupa, sehingga ia membuat ketetapan supaya dalam tiga puluh hari rakyat tidak menyembah ataupun memohon kepada dewa dan manusia manapun, selain kepada raja. Mereka melakukannya karena mereka tahu kebiasaan Daniel yang berdoa tiga kali sehari kepada Allah. Perhatikan kawan; sebuah undang-undang disusun dan diterapkan di seluruh penjuru negeri, hanya untuk melenyapkan satu orang, yaitu Daniel.

Tapi, di luar dugaan kita, Daniel tenang-tenang saja. Ketika mendengar ketetapan itu, dia tetap berdoa dan memuji Allah di kamarnya. Prajurit bergegas menangkap basah Daniel yang sedang berdoa, lalu melemparkannya ke gua singa. Di luar dugaan juga, justru raja-lah yang kalang kabut. Kasihnya kepada Daniel membuatnya sedih dan tidak bisa tidur nyenyak; dialah yang kelimpungan kesana-kemari mencari jalan untuk menyelamatkan Daniel; dia bahkan berpuasa untuknya (Daniel 6:15-21). Dan setelah selamat dari mulut singa-singa, siapa yang “heboh”” Bukan Daniel! Yang “heboh” itu justru raja (Daniel 6:24). Tetapi Daniel tenang-tenang saja!

Ketika roh kita dekat dan percaya kepada Tuhan seperti halnya roh Daniel, kita akan selalu tenang; tidak ada situasi apapun yang dapat membuat kita terlalu “heboh” atau sebaliknya terlalu panik. Karena kita tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi ada dalam kuasa Allah, kita merasa tenang.

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari padaNya-lah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.
(Mazmur 62:6-8)