Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

17 Mei 2015

Maksud Lebih Baik

Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:22)


Tak seorang pun ingin kehilangan. Tetapi setiap manusia pasti mengalami kehilangan dalam hidupnya. Harta, kesuksesan, orang yang kita kasihi, atau segala hal yang kita banggakan, bisa hilang dalam sekejap. Ketika mengalaminya, sangat wajar jika kita marah atau sedih. Bahkan kita mungkin mempertanyakan kehilangan ini pada Tuhan karena kita merasa sudah melakukan banyak hal baik untuk Tuhan sehingga tidak layak mengalami hal buruk itu. "Mengapa Engkau izinkankan semua kejadian buruk ini menimpaku? Bukankah aku sudah setia kepada-Mu?" begitu keluh kita.

Ayub mengalami kehilangan besar. Namun, apakah ia marah kepada Tuhan mengingat betapa salehnya ia telah hidup? Yang luar biasa, tidak pernah keluar sedikit pun kata-kata protes kepada Tuhan atas apa yang ia alami (ay. 22). Sebaliknya, Ayub tetap bisa bersyukur dan menyembah Tuhan dalam kehilangan yang ia alami. Mengapa demikian? Ayub mengakui kedaulatan Tuhan. Hidupnya milik Tuhan, Tuhan berhak melakukan apa pun atas hidupnya, termasuk menguji imannya. Dan, dalam semuanya itu, ia percaya bahwa saat kehilangan, ia menemukan tujuan hidup bersama Tuhan.

Tuhan tidak pernah bermaksud jahat ketika mengizinkan Iblis mengambil apa pun dari hidup kita. Sebaliknya, Tuhan sedang menyediakan maksud terbaik di balik ujian yang kita alami. Ya, supaya kita bukan lagi mengenal Tuhan dari kata orang, tetapi karena mengalami penyataan pribadi-Nya dalam hidup kita.

SAAT KITA KEHILANGAN, TUHAN SEDANG MEMBAWA KITA
MENEMUKAN TUJUAN HIDUP YANG LEBIH BAIK.