Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

24 November 2015

Kalau Kamu Tetap Bertahan

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 25 November 2015)
OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati 



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67


Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi, difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

Karena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Edith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

Cerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengsihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga:“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

Mazmur Tanggapan
Ref. Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
Ayat. (Dan 3:62.63.64.65.66.67)
  1. Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan
  2. Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit
  3. Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun
  4. Pujilah Tuhan, hai segala angin
  5. Pujilah Tuhan, hai api dan panas terik
  6. Pujilah Tuhan, hai hawa yang dingin dan kebekuan

DOA: 
Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau. 
Amin.