Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

29 Januari 2015

Renungan Ziarah Batin == Kamis, 29 Januari 2015




Pekan Biasa III (H)
St. Joshep Freinademetz;
B. Arkanjela Girlani,
Bacaan I: Ibr. 10:19-25
Mazmur: 24:1-2.3-4ab.5-6; R: 6
Bacaan Injil: Mrk. 4:21-25
Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Orang membawa pe­lita bukan supaya ditem­patkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi, ”Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk meng­ukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”
Renungan
Ada pepatah Jawa: ”Becik ketitik, olo ketoro”—artinya,” Kebaikan itu tidak akan hilang dan kejahatan itu tidak bisa ditutupi.” Pepatah ini berbicara tentang otentisitas atau kesejatian. Kesejatian itu seperti emas yang mahal harganya dan kemurniannya harus diuji. Untuk bisa lolos dari ujian perlu ada komitmen.
Pada suatu hari ada seorang ibu mau ke gereja dengan naik taxi. Misa segera dimulai maka ketika turun dari taxi, dia sangat tergesa-gesa. Alangkah terkejutnya ketika mau ambil uang untuk kolekte, dompetnya tidak ada! Dia yakin tertinggal di taxi tadi. Ia berkeringat dingin dan gemetar. ”Pasti hilang!” pikirnya. Setelah Misa selesai, dia keluar gereja dengan pucat dan bingung. Di tengah kegalauan itu ada seorang bapak yang mendekatinya dan mengulurkan sebuah dompet. Ibu itu langsung menyahut dompet miliknya itu. Dia buka, masih utuh isinya. Saking senangnya dia ambil lembaran merah dan diulurkan kepada si tukang taxi tadi, tapi tidak diterimanya dan sopir taxi itu berkata: ”Terima kasih ibu, saya sudah dimuliakan oleh suara hatiku untuk tetap jujur, jangan sampai saya dicemarkan oleh uang seratus ribu!” Ternyata, si sopir taxi itu umat Katolik yang sama-sama ikut Misa di gereja itu.
Tuhan Yesus bersabda: ” ...pelita harus ditaruh di atas kaki dian!” Orang Katolik adalah terang dan garam dunia. Otentisitas atau jati diri kita adalah terang. Terang itu harus ditampakkan. Supir taxi tadi menunjukkan jati dirinya sebagai orang Katolik. Walau ada kesempatan untuk mengambil dompet tadi, dia tetap mengikuti suara hatinya dan menghormati milik orang lain. Hidup dalam jati diri berarti hidup dalam dorongan Roh. Ini tidak mudah, membutuhkan komitmen, tetapi buahnya melegakan dan menenteramkan hati.

Tuhan Yesus, puji syukur kepada-Mu karena telah Kaucurahkan Roh Kudus kepadaku. Kuatkanlah aku dengan rahmat-Mu agar aku tetap hidup dalam otentisitas diri! Amin.

________________________________________________________
Bacaan   : Rut 4:1-17
Setahun  : Keluaran 35-37
Nats       : Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi 
                 isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia
                 TUHAN perempuan itu
 mengandung, lalu melahirkan 
                 seorang anak laki-laki. (Rut 4:13)

MELIHAT KULIT LUAR

Ketika ia berusia 7 tahun, keluarganya diusir dari rumah karena masalah hukum. Pada usia 9 tahun, ibunya meninggal. Ia kehilangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan pada usia 22 tahun. Empat tahun kemudian, ia terjerat utang besar karena bermitra dengan orang yang salah. Pada umur 41 tahun, pernikahannya berantakan, bahkan anak laki-lakinya yang masih kecil meninggal. Ketika usianya memasuki hampir setengah abad, ia mencalonkan diri sebagai anggota senat untuk kesekian kalinya, dan lagi-lagi gagal. Tetapi, pada akhirnya, Amerika Serikat mengangkatnya menjadi Presiden. Ia tidak lain adalah Abraham Lincoln.

Kebanyakan orang hanya melihat lapisan luar. Mereka kagum atau bahkan iri akan kesuksesan seseorang. Dan jarang melacak proses menuju puncak itu. Air mata. Perlakuan tidak adil. Kesepian. Rasa sakit. Hal itu tidak diperhitungkan. Apakah kita menganggap Rut sebagai perempuan paling beruntung sedunia karena dinikahi Boas, seorang pengusaha kaya raya? Mungkin kita berpikir, "Alangkah bahagianya dia, seorang janda namun dipinang oleh perjaka. Rut pasti senang bukan main, hidupnya yang kekurangan berubah jadi berkelimpahan." Kita lupa dengan kesetiaannya mengikut Naomi. Kita tidak memperhatikan keuletannya dalam bertahan hidup. Kita tidak menghitung berapa banyak air mata yang berlelehan.

Hari ini kalau kita melihat keberhasilan seseorang, jangan buru-buru cemburu. Lihatlah lebih dalam. Perhatikan dengan saksama. Belajarlah dari proses yang dialaminya. 

JIKA RUMPUT DI HALAMAN TETANGGA KITA TERLIHAT LEBIH HIJAU,
PASTILAH BIAYA PERAWATANNYA LEBIH BESAR.