Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

23 Oktober 2015

Pertobatan

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 24 Oktober 2015) 

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9).

Bacaan Pertama: Rm 18:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Yesus melanjutkan pengajaran-Nya tentang tema “pertobatan” dan memerintahkan para pendengar-Nya supaya mengindahkan peringatan-Nya tentang urgency dari tugas yang harus mereka lakukan, yaitu melakukan pertobatan sebelum terlambat. Beberapa dari orang banyak yang hadir menceritakan kepada-Nya suatu peristiwa yang mungkin terjadi pada waktu-waktu di sekitar hari raya Paskah, di mana sejumlah orang Galilea dibunuh selagi mereka mempersembahkan kurban.

Tidak ada sumber lain kecuali Injil Lukas yang membuktikan nilai kesejarahan dari peristiwa yang mengejutkan ini. Namun, jika kita sungguh mengetahui betapa bencinya Pilatus terhadap orang-orang Yahudi, dan jika kita sungguh mengetahui catatan tentang intensitas dan bobot perlawanan orang-orang Galilea dalam perjuangan mereka melawan orang-orang Romawi, maka peristiwa itu sangat mungkin merupakan peristiwa yang memang sungguh terjadi. Pilatus biasanya mengirim pasukannya yang menyaru dengan mengenakan jubah-jubah panjang. Mereka menyelusup ke tengah-tengah umat Yahudi yang sedang berkumpul. Dengan demikian, jika mulai ada tanda-tanda yang mencurigakan, maka massa dapat dibubarkan dengan menggunakan pentungan. Sejarawan Yosefus memberi kesaksian tentang efisiensi yang penuh keganasan dari para serdadu di bawah komando Pilatus. Memang Yosefus tidak menyebutkan peristiwa yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, namun pesannya sungguh selaras, sedikitnya tidak bertentangan.

Akan tetapi, dalam hal ini kita pun tidak boleh mengabaikan bahwa orang-orang yang membawa kabar tersebut mungkin saja membuat-buat cerita untuk men-tes tanggapan Yesus terhadap pendudukan negeri mereka oleh Kekaisaran Roma dan mungkin-tidaknya Dia mengambil inisiatif untuk memulai gerakan revolusioner secara besar-besaran. Apa pun motif yang melatar-belakangi tindakan orang-orang tersebut melaporkan peristiwa tersebut kepada Yesus, Ia menggunakan saat itu untuk mengajarkan kepada mereka tentang “pertobatan”.



Yesus kemudian mensyeringkan refleksi-Nya sendiri tentang suatu insiden di mana 18 orang mati ditimpa menara di dekat Siloam. Yesus mengatakan bahwa para korban kecelakaan tersebut tidak lebih buruk daripada orang-orang Galilea lain dalam hal kedosaan. Dengan tegas Yesus menolak pandangan kuno yang menyamakan antara kedosaan dan penderitaan. Bencana dan kecelakaan bukanlah ditimpakan oleh Allah atas diri orang sebagai hukuman atas dosa orang itu. Kalau begitu halnya, maka orang dapat berkesimpulan bahwa orang yang hidup adalah kurang berdosa. Lebih penting lagi, Yesus menolak imaji Allah yang memiliki pandangan khusus seperti itu. Yesus membuat jelas bahwa Allah yang diwartakan-Nya tidak menjalin relasi dengan umat-Nya melalui peristiwa bencana dan kecelakaan, juga Allah tidak membuktikan diri-Nya Allah dengan menyusun “liturgi sadisme” di mana Ia sungguh akan diakui sebagai Allah.

Allah yang diperkenalkan oleh Yesus adalah Allah yang tidak memiliki kharisma untuk menimbulkan kekacau-balauan. Ia adalah Allah yang ingin agar supaya umat-Nya kembali kepada-Nya dan menemukan diri mereka sendiri yang sebenarnya. Yesus mengatakan bahwa setiap orang memiliki keserupaan dasar dengan orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus dan 18 orang yang menjadi korban kecelakaan di dekat Siloam: setiap orang adalah orang berdosa yang perlu/harus melakukan pertobatan. Namun sebaliknya dari orang-orang itu, generasi sekarang ini telah diberitahukan jauh-jauh hari sebelumnya agar supaya dapat mempersiapkan diri dengan baik. Yesus bersabda: “… jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:5).

Sekarang, kita akan menyoroti bagian kedua bacaan Injil ini, yaitu “perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9). Pesan dari perumpamaan Yesus ini adalah, bahwa masih ada waktu untuk perubahan. Imaji Allah yang disampaikan oleh Yesus di sini adalah “seorang” Allah yang sabar, yang bersedia atau mau untuk menunggu. Namun apabila Allah memiliki segala waktu di dalam dunia, tidak demikian halnya dengan manusia. Per definisi, waktu membatasi tindak-tanduk manusia, dan Yesus mendesak agar supaya para pendengar-Nya menggunakan waktu yang mereka miliki untuk melakukan pertobatan. Kedosaan dari seseorang yang direncanakan-Nya untuk menjadi seorang manusia baik, sama saja artinya dengan ketidakmampuan untuk berbuah dari sebatang pohon yang diciptakan untuk menghasilkan buah. Yesus menginginkan agar orang-orang sungguh-sungguh berupaya untuk melakukan pertobatan.



DOA: 
Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku, terimalah pengakuan dosa-dosaku yang selama ini menjadi beban yang menindih diriku. Perkenankanlah aku menjadi seorang murid-Mu yang setia. 
Amin.

Betapa Luar Biasanya Allah

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Professor Stephen Hawking adalah seorang kosmolog dan ahli fisika yang cerdas, sayangnya ia adalah satu dari beberapa orang terkenal lain yang tidak percaya adanya Tuhan. Sebuah review yang dilakukan di terhadap puluhan studi tentang hubungan antara kecerdasan dan kereligiusan seseorang (Personality and Social Psychology Review) menemukan bahwa ateisme tersebar luas di kalangan orang-orang pintar. Mengapa? Karena orang-orang cerdas diduga cenderung realistis dan logis; mereka tidak menyakini sesuatu yang tidak dapat diuji dan berdasarkan pada keyakinan saja. Wah, kalau hal ini memang benar, sayang sekali ya… karena itu artinya mereka tidak dapat mengenal, menerima Yesus dan kuasa-Nya.


Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang kaya raya namun dibenci oleh orang-orang sebangsanya karena dianggap sebagai penghianat, pencuri, orang yang mengambil keuntungan dari orang-orang sebangsanya demi orang asing dengan cara yang tidak jujur, ketika mendengar bahwa Yesus datang ke Yerikho memutuskan untuk melihat bagaimana Yesus itu. Karena ia pendek, pandangannya kepada Yesus terhalang oleh orang banyak, hingga akhirnya ia mencari jalan dengan naik ke atas pohon (Lukas 19:1-10).

Seperti Zakheus, pandangan kita kepada Yesus kadang terhalang oleh hal-hal seperti pandangan kita pribadi, pandangan dan pendapat orang, dan ketidakpercayaan. Apakah ilmu pengetahuan memang menolak keberadaan Allah? Kebenarannya, Allah adalah sumber segala pengetahuan. Tetapi kalau manusia menyelami pengetahuan dengan mengandalkan akal dan hikmatnya sendiri, maka ia pasti akan salah arah. Jangan lihat Yesus dengan hikmat manusiamu sendiri karena Ia terlalu besar untuk dipahami dengan otak kita yang kecil ini; hikmat-Nya jauh lebih besar dari seluruh alam semesta ini.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya & sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
(Roma 11:33)

22 Oktober 2015

Asal Saja Kita Mau Membuka Mata Hati Kita

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 23 Oktober 2015)
Peringatan S. Yohanes dr Capistrano
Keuskupan TNI-POLRI: Pesta S. Yohanes dr Capistrano


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59)

Bacaan Pertama: Rm 7:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94 


Dengan cara sendiri-sendiri, mereka yang ada ditengah-tengah orang banyak sebenarnya tahu bagaimana memahami dan menanggapi jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka. Awan akan mendatangkan hujan; angin selatan berarti panas terik. Dalam kedua situasi tersebut tidak sulitlah untuk mengetahui jenis pakaian apa yang akan kita kenakan atau bagaimana merencanakan kegiatan-kegiatan kita. Masalahnya adalah, bahwa orang-orang mau menanggapi dengan baik segala peristiwa alam yang berlangsung dalam hidup mereka, namun tidak mau memberikan tanggapan terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat adikodrati, beberapa di antaranya malah jauh lebih jelas dan dapat diandalkan daripada ramalan-ramalan cuaca.

Yesus bertanya mengapa mereka tidak dapat memahami “zaman ini” se-akurat seperti mereka dapat memahami hal-ikhwal cuaca atau keperluan-keperluan sehubungan dengan tindakan hukum (Luk 12:56). Ada dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘waktu’. Yang pertama adalah kronos (ingat kata kronologi) yang adalah waktu dalam arti sehari-hari. Ada lagi satu kata, yaitu kairos, yang dalam Perjanjian Baru sering dimaksudkan sebagai suatu waktu spesifik yang ditetapkan Allah sendiri. Tanda-tanda zaman ada di sekeliling orang-orang Yahudi: roti yang diperlipat-gandakan, orang lumpuh dapat berjalan, orang buta dibuat melihat lagi, para pendosa melakukan pertobatan, dan Kabar Baik juga disebar-luaskan. Yesus sendiri berdiri di tengah-tengah umat sebagai suatu manifestasi kasih dan kuasa Bapa surgawi. Bagaimana seseorang yang dikelilingi dengan tanda-tanda heran sedemikian, tidak terdorong untuk memeriksa keterbukaan dirinya terhadap karya Allah yang dilihatnya berlangsung di depan matanya? Bukankah ini kairos Tuhan?

Seperti juga pada zaman Yesus dulu, hari ini tanda-tanda yang sama ada dan berlangsung di sekeliling kita. Seluruh dunia telah ditransformasikan oleh kebangkitan Kristus dan pencurahan Roh Kudus. Tanda-tanda heran ada di sana, asal saja kita mau membuka mata (hati) kita. Mukjizat-mukjizat dan berbagai keajaiban terjadi: kesembuhan-kesembuhan batin maupun fisik terjadi manakala anak-anak Allah yang dipimpin Roh melibatkan diri, relasi-relasi yang sudah berantakan dapat dipulihkan kembali, sukacita Kristiani yang sejati terungkap dalam diri mereka yang melibatkan diri dalam karya- karya karitatif, bermunculannya dorongan-dorongan batin yang asli untuk melakukan persekutuan dengan mereka yang beriman lain dari kita. Pada tahun 2002, saya sempat menyaksikan bagaimana Bruder Severino Lee OFM dan beberapa saudara dina lain setiap hari dengan penuh sukacita melayani orang-orang miskin kota Seoul lewat “dapur umum” mereka yang bernama BETLEHEM (artinya “rumah roti”, bukan?). Samasekali bukanlah upaya “Kristenisasi”, tetapi sekadar melayani “wong cilik” dengan hati yang tulus sebagai sesama yang sederajat, seperti telah dicontohkan oleh Bapak Fransiskus. Saudara-saudariku, Allah memang terus bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Begitu banyak buktinya, asal saja kita mau melihat dan mendengarkan Dia. Inilah kairos Tuhan, jangan merasa ragu lagi!

Yesus mendesak para pendengar-Nya agar membaca tanda-tanda ini dan bertindak selagi masih ada waktu untuk itu (Luk 12:57-59). Perumpamaan tentang pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada, menunjuk kepada Allah dan penghakiman-Nya. Memperlakukan sesama kita dengan adil adalah tanggapan yang pantas terhadap apa yang dikehendaki Allah. Dengan melakukan hal itu, kita
 pun sebenarnya sedang menyiapkan diri untuk penghakiman-Nya kelak.

DOA: 

Bapa surgawi, dalam kerahiman-Mu Engkau telah menebusku dan membuka pintu surga bagiku. Oleh Roh-Mu, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda kasih dan kuasa-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana menanggapi undangan-Mu kepada kehidupan sejati.
 Amin.

Tdak Ada Yang Mustahil



Situasi perang memaksa sebuah keluarga kecil hidup terpisah. Sang suami harus pergi meninggalkan istri dan putranya tanpa mengetahui bahwa istrinya tengah mengandung anak kedua mereka. Satu ketika, setelah anak kedua mereka lahir, sang istri dan kedua anaknya tertangkap oleh tentara dan dimasukkan ke dalam sebuah gerbong kereta penuh berisi tahanan sipil. Karena sakit keras, si ibu akhirnya meninggal. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anak pertamanya untuk menjaga adiknya. Perang berakhir dan kedua anak itu akhirnya tinggal di sebuah panti asuhan.

Sang suami yang mengira bahwa istri dan anaknya telah meninggal akhirnya menikah lagi, sayangnya istri keduanya mandul. Suatu saat istrinya meminta izin untuk pergi ke sebuah panti asuhan dan mengadopsi seorang anak. Di sana seorang gadis kecil mendatanginya dan pertemuan mereka sangat berkesan baginya. Tetapi, ketika ia meminta gadis kecil itu untuk tinggal dengannya ia menolak. “Aku tinggal dengan kakakku, jadi aku tidak mau pergi tanpa kakakku,” jawabnya.

Wanita itu pulang, menceritakan kejadian itu, dan mendesak suaminya untuk setidaknya melihat anak itu dan kakaknya. Melihat besarnya keinginan istrinya untuk memiliki anak, ia pun pergi ke panti asuhan dan mengurus administrasi adopsinya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nama anak-anak itu dan nama ibu kandung mereka, karena ternyata mereka adalah anak kandungnya sendiri.

Mujizat kadang tidak pernah kita duga dan tidak pernah kita sangka. Apa yang kita pikir mustahil tidaklah mustahil bagi Tuhan. Dari sekian ribu anak wanita itu justru memilih kakak beradik yang ternyata adalah anak kandung suaminya… orang mungkin menganggapnya kebetulan, tetapi dalam rencana Allah tidak ada yang kebetulan. Di dalam Tuhan ada segala kemungkinan bagi Anda dan saya. Percayalah!

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
(Lukas 1:37)

21 Oktober 2015

Aku Datang Untuk Melemparkan Api Ke Bumi

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 22 Oktober 2015)
Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus




“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Luk 12:49-53)

Bacaan Pertama: Rm 6:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6


Selagi Yesus dengan penuh keyakinan melakukan perjalanan menuju kematian-Nya di Yerusalem, Ia berbicara mengenai “melemparkan api ke bumi”. Dalam pengertian alkitabiah, api dimaknai sebagai “pemurnian dan penghakiman”; membersihkan dan menyiapkan kita untuk membalikkan hati kita sepenuhnya kepada Allah dalam kasih. Api yang dimaksudkan Yesus adalah api yang sama seperti yang dijanjikan oleh Yohanes Pembaptis, ketika dia berkata: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16). Gambaran Roh Kudus dan api mengindikasikan bahwa apabila kita mengikuti Allah, maka kita dapat mengharapkan untuk mengalami pembersihan dan penghakiman. Hal ini menyangkut perjuangan, penderitaan, dan bahkan pengejaran serta penganiayaan atas diri mereka yang mencari Allah.

Sepanjang sejarah Gereja, ada banyak sekali orang, baik perempuan maupun laki-laki yang – karena iman-kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus – mengalami penderitaan, malah sampai kepada kematian. Seorang tokoh awam yang patut dicontoh adalah Thomas More. Sebagai seorang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus di negeri Inggris, Thomas More adalah tanda-lawan pada zamannya. Kehidupan-saleh yang dijalaninya, kesetiaannya kepada Gereja yang tak tergoyahkan; dan semuanya itu dibayar dengan darahnya sendiri. Kehidupannya seharusnya menjadi teladan bagi para awam Kristiani yang berkiprah di dunia sosial-politik. Ia adalah putera dari seorang ksatria dan sejak kecil sudah hidup saleh.

Karir Thomas More sebagai negarawan dimulai pada tahun 1510, karir ini terus menanjak dengan pesat sampai mencapai puncaknya pada tahun 1529 ketika dia diangkat menjadi Lord High Chancellormenggantikan Kardinal Wolsey. Meskipun sudah menjadi pejabat negara puncak, dia masih menjalankan hidup rohaninya seperti sediakala. Sementara itu raja Henry VIII sudah merasa bosan dengan permaisurinya yang sah (Katarina dari Aragon) dan dia berahi pada salah seorang dayang-dayang di istana (sudah menikah) yang ber-nama Anna Boleyn dan ingin menikahinya. Henry VIII sudah mencoba mendapatkan izin dari Sri Paus agar dia boleh menceraikan permaisurinya dan menikah dengan Anna Boleyn. Sri Paus tidak setuju. Takhta Suci dengan benar menghukum Henry VIII itu, namun sang raja malah memperburuk hubungannya dengan Takhta Suci dan mengangkat dirinya menjadi kepala dari Church of England (Gereja Inggris = Anglikan). Persetujuan atas undang-undang yang mengatur pengangkatan raja sebagai kepala Gereja Inggris dimungkinkan karena parlemen yang lemah. Para uskup dan imam harus mengangkat sumpah untuk mengakui sang raja sebagai atasan mereka. Siapa saja yang tidak setuju dengan keputusan raja ini akan dihukum mati. Orang pertama yang menentang raja adalah pejabat tinggi negara yang selama ini sangat setia kepada raja, Thomas More.

Thomas More yakin dan percaya, bahwa tidak seorang pun pemimpin negara yang dapat mempunyai yurisdiksi atas Gereja Kristus. Hal inilah yang menjadi “biaya kemuridan” bagi dirinya dalam mengikuti jejak sang Guru, Yesus Kristus. Meskipun berhadapan dengan raja sebagai penguasa tertinggi negeri Inggris yang juga menguasai parlemen yang lemah, sebagai pejabat tinggi negara Thomas More dengan gigih menolak memberi persetujuan-nya atas perceraian raja Henry VIII. Ia juga tidak mau mengakui Henry VIII sebagai kepala Gereja Inggris yang memutuskan hubungan dengan Takhta Suci di Roma dan menolak Sri Paus sebagai pemimpin Gereja, padahal banyak sekali uskup dan imam memberi per-setujuan mereka …… karena takut mati. Dia setia kepada Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja. Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus; sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhir-nya kematian. Thomas More adalah contoh dari seseorang yang memperkenankan api Kristus membakar dirinya. Seorang saksi (martir) Kristus yang sejati!


DOA: 

Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk mengasihi-Mu dengan benar, dan untuk berani menyingkirkan segala hasratku akan kenyamanan dan kenikmatan dunia, serta hasrat agar selalu dapat diterima oleh orang-orang lain walaupun dengan mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran iman. Ajarlah aku juga untuk dapat tetap sabar dan penuh sukacita dalam menghadapi berbagai tentangan, tantangan dan serangan dari siapa saja yang tidak menyukai aku oleh karena Engkau-lah yang aku imani, sebagai Tuhan dan Juruselamat-ku. Buatlah agar aku dapat berjuang dengan tekun dan berani selagi turut mengambil bagian dalam menegakkan kerajaan-Mu di dunia ini. 
Amin.