Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

02 Agustus 2015

Tetap Percaya


Hasil gambar untuk believe

Pesta perkawinan di Kana adalah tempat di mana Yesus mengadakan tanda mujizat untuk pertama kalinya. Ia mengubah air menjadi anggur. Bahkan bukan anggur biasa-biasa saja. Namun di balik mujizat yang Yesus lakukan, ada seorang yang tidak menyerah dan tetap percaya bahwa Yesus yang penuh belas kasihan akan bertindak. Dia adalah Maria, Ibu Yesus sendiri.

Ketika pesta itu kekurangan anggur, ibu Yesus datang dan berkata kepada-Nya bahwa mereka kekurangan anggur. Namun Yesus pun berkata, “Mau apa engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Di situ kita bisa melihat bahwa Yesus seolah-olah tidak menanggapi permintaan ibunya. Mengapa? Maria datang pada Yesus dengan kedudukan bahwa Yesus adalah putranya dan ia adalah ibu-Nya (Yohanes 2:3).

Pernyataan Yesus pada ibunya, “Mau apa engkau dari pada-Ku, ibu?” menunjukkan bahwa saat kita menghadap Allah diperlukan lebih dari sebuah hubungan jasmani (orang Kristen). Datang pada Allah haruslah disertai dengan iman yang percaya, bahwa Allah sanggup mengubah masalah menjadi berkat. Meski ibu Yesus mendapat jawaban seperti itu, ia tidak berkecil hati dan berusaha untuk menyelesaikan masalah itu sendiri. Ia tetap “percaya” pada Yesus sehingga ia berkata pada para pelayan agar melakukan apa yang Yesus katakan (Yohanes 2:5).

Meski kita merasa bahwa Yesus menolak permintaan orang yang datang pada-Nya, namun pada akhirnya Tuhan Yesus mengabulkannya (Matius 15:21-28, Yohanes 4:47-50). Bukan hanya kita datang meminta (bukan sekedar berdoa), namun haruslah disertai iman bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Tetap percaya dan kita akan melihat kuasa-Nya dinyatakan.

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan : Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!
Yohanes 2:5

01 Agustus 2015

Minggu, 02 Agustus 2015 Hari Minggu Biasa XVIII

Hari Minggu Biasa XVIII
Kemanjuran khusus Ekaristi mengembangkan persekutuan menjadi salah satu alasan pentingnya Misa hari Minggu --- Beato Yohanes Paulus II



http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Antifon Pembuka (Mzm 70:2.6)

Ya Allah, bersegeralah menolong aku, Tuhan, perhatikanlah hamba-Mu. Engkaulah Penolong dan Pembebasku; Tuhan, janganlah berlambat. 


Doa Pagi


Ya Allah, ajarilah kami untuk menimba semangat dari ekaristi dengan berani berbagi berkat kepada sesama kami. Semoga segala pencobaan dan kesusahan yang kami alami tak pernah memisahkan kami dari kasih-Mu sendiri yang telah Kaunyatakan kepada kami dalam Diri Yesus Kristus, Putra-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.  
Amin. 

Bacaan dari Kitab Keluaran (16:2-4.12-15)
"Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu." 


Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun. Mereka berkata kepada mereka, "Ah, andaikata tadinya kami mati di tanah Mesir oleh tangan Tuhan, tatkala kami duduk menghadapi kuali penuh daging dan makan roti sepuas hati! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa, "Sesungguhnya, Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu. Maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari. Dengan cara itu Aku hendak menguji apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Aku telah mendengar orang Israel bersungut-sungut. Katakanlah kepada mereka, 'Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kami akan makan roti sampai kenyang. Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, Allahmu." Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung-burung puyuh menutupi perkemahan mereka. Pagi harinya terhamparlah embun sekeliling perkemahan. Setelah embun menguap, tampaklah pada permukaan gurun sesuatu yang halus mirip sisik, halus seperti embun yang membeku di atas tanah. Melihat itu umat Israel saling bertanya-tanya, 'Apakah ini?' Sebab mereka tidak tahu apa itu. Lalu berkatalah Musa, "Inilah roti yang diberikan Tuhan menjadi makananmu."



Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan, la = fis, 4/4, PS 846
Ref. Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Ayat. (Mzm 78:3.4bc.23-24.25.54; Ul:lh. 24b)

  1. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh para leluhur akan kami teruskan kepada angkatan yang kemudian: Puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya.
  2. Ia memberi perintah kepada awan-awan dari atas, dan membuka pintu-pintu langit; Ia akan menghujankan manna untuk mereka makan, dan memberi mereka gandum dari langit.
  3. Roti para malaikat menjadi santapan insan, bekal berlimpah disediakan oleh Allah. Dibawa-Nya mereka ke tanah-Nya yang kudus, ke gunung-gunung yang Ia rebut dengan tangan kanan-Nya.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (4:17.20-24) 
"Kenakanlah manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah."

Saudara-saudara, di dalam Tuhan aku menegaskan hal ini kepadamu: Jangan lagi hidup dengan pikiran yang sia-sia, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu jangan hidup secara demikian! Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia, dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus. Maka, sehubungan dengan kehidupanmu yang dahulu, kamu harus menanggalkan manusia - lama yang menemui kebinasaan oleh karena nafsu yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu. Hendaklah kamu mengenakan manusia - baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah; hendaklah kamu hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Bait Pengantar Injil, do = f, kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 4:4b)
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. 


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:24-35)
"Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi."


Di seberang Danau Galilea, ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan
Makanan merupakan kebutuhan primer kita untuk bisa hidup, dan bukan untuk sekedar bertahan hidup saja tetapi juga memberi kekuatan untuk bekerja/beraktivitas demi memberi makna pada hidup kita. Supaya kekuatan itu terus kita dapatkan, kita tidak hanya makan 1x lalu sudah, tetapi setiap hari 3x atau sesuai ritme masing-masing. Namun yang jelas ada kontinyuitas. Injil Minggu ini berbicara tentang Yesus sebagai roti hidup. "Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, Ia tidak akan lapar lagi" Sabda-Nya ini merupakan undangan agar kita datang kepada-Nya secara kontinyu, rutin/ajeg, tidak hanya sekali atau sesekali, agar kita tidak pernah kelaparan secara rohani. Setiap hari, Ia selalu menyediakan bagi kita santapan sabda dan tubuh-Nya. Sabda-Nya dapat setiap hari, bahkan setiap saat kita makan (=baca), kita kunyah (=renungkan) dan kita telan (=resapkan dalam hati) sehingga menjadi sumber energi (=inspirasi hidup). Tubuh-Nya juga bisa kita sambut setiap hari melalui Ekaristi harian, namun bagi yang tidak bisa mengikutinya, cukup seminggu sekali dalam Ekaristi Mingguan. Marilah kita datang kepada-Nya secara kontinyu (terus-menerus) dan rutin. Tuhan selalu merindukan kita, marilah kita juga selalu merindukan-Nya.

Doa: 
Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami senantiasa rindu datang kepada-Mu sebagaimana Engkau juga selalu merindukan kami. Amin. -agawpr.net-


Antifon Komuni (Keb 16:20)

Tuhan, Engkau telah memberi kami roti surgawi yang lezat dan nikmat.

Memahami Lebih Jauh Jalan-Jalan Tuhan

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/
“Setetah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya …. pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka” 
(Matius 11:1).

Dia datang ke tempat Dia memerintahkan kita pergi.

Jika Allah mengatakan “Pergi,” Anda tetap diam karena Anda sedemikian “sibuk” dengan anggota keluarga Anda sendiri dirumah, maka dalam hal ini Anda sesungguhnya merampas mereka dari ajaran Yesus Kristus.

Bila Anda taat dan membiarkan semua konsekwensinya kepada Allah, Tuhan pergi ke kota tempat Anda untuk mengajar. Akan tetapi, selama Anda tidak taat, Anda merintangi jalan-Nya.

Waspadalah saat Anda mulai berdalih pada-Nya dan menjadikan apa yang Anda sebut “tugas kewajiban Anda” sebagai saingan perintah-Nya. Jika Anda berkata, “Aku tahu Dia menyuruhku pergi, tetapi kewajibanku ialah tinggal di sini,” itu berarti Anda tidak mempercayai kesungguhan ucapan-Nya.

Dia mengajar di tempat Dia melarang kita mengajar.
“Guru .. .biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah … “ (Lukas 9:33).

Apakah kita sedang berusaha mencoba memainkan peranan Allah dalam kehidupan orang lain – menjadi pengatur rohani amatir bagi mereka? Apakah kita sedemikian hebohnya memberi petunjuk pengajaran kepada orang lain sehingga Allah tidak dapat mendekati mereka?

Kita harus belajar menutup mulut kita dan membiarkan roh kita berjaga-jaga, dengar-dengaran pada Tuhan. Allah ingin mengajar kita tentang Anak-Nya, dan Dia ingin mengubahkan waktu doa kita menjadi “gunung kemuliaan” (dimana Dia hadir). Bila kita merasa pasti bahwa Allah akan bekerja menurut cara tertentu (yang kita pikirkan), Dia takkan pernah bekerja dengan cara itu lagi.

Dia bekerja di tempat mana Dia menyuruh kita menanti.
Kamu harus tinggal ….. sampai... ” (Lukas 24:49).

Nantikanlah Tuhan, maka Ia akan bekerja (lih. Mazmur 37:34). Akan tetapi, jangan menanti sambil bersungut-sungut, hanya karena Anda tidak melihat apa yang akan terjadi ”dekat sekali” di depan Anda, seperti yang kita pikirkan!

Apakah kita sudah melepaskan emosi kita sendiri dan berdiam diri dihadapan Tuhan dan menantikan Dia dengan sabar? (lih. Mazmur 37:7). Menanti bukan berarti duduk sambil berpangku tangan, melainkan belajar melakukan yang diperintahkan-Nya kepada kita. Inilah sebagian dari faset atau segi jalan-Nya yang jarang kita kenali.


Roti Kehidupan

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [TAHUN B] – 2 Agustus 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24
Dari abad ke abad, Allah terus saja mengajar umat-Nya pelajaran-pelajaran yang sama. Dengan memberimanna dari surga setiap hari pada waktu orang-orang Yahudi berada di padang gurun dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji, Dia mengajar mereka untuk menggantungkan diri kepada-Nya hari lepas hari (Kel 16:4). Berabad-abad kemudian, kita melihat Yesus mengajarkan kepada orang-orang yang mengikuti-Nya suatu pelajaran serupa: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu” (Yoh 6:27). Ia (Yesus) tidak ingin mereka membatasi ekspektasi-ekspektasi mereka pada tanda-tanda ajaib dari Allah, namun yang tak tahan lama. Dia ingin membuang rasa bersalah mereka dan memenuhi diri mereka dengan kasih yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Ketika orang-orang itu bertanya kepada-Nya tentang pekerjaan-pekerjaan yang harus mereka lakukan agar dapat menyenangkan Allah, Yesus memberikan sebuah jawaban sederhana kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Tidak ada yang menyenangkan Bapa surgawi lebih daripada rasa percaya anak-anak-Nya dan ketaatan mereka kepada Yesus.


Bahkan sekarangpun Yesus masih terus mengajarkan kepada kita pelajaran-pelajaran yang sama. Yesus tidak ingin melihat kita kelaparan; Ia ingin agar kita datang kepada-Nya dan dipuaskan. Ia bersabda: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Yesus mengetahui bahwa hanya Dia-lah yang dapat memuaskan rasa lapar dan haus kita akan makna dan rasa aman. Suatu relasi hidup secara harian dengan Dia adalah jawaban kita satu-satunya.

Mengapa kita merasa sulit sekali untuk datang kepada Yesus? Barangkali karena kita mempunyai pandangan yang terbatas akan Allah dan merasa takut Ia tidak akan memuaskan rasa lapar dan haus kita. Barangkali kita berpikir bahwa bagaimanapun kita harus terlebih dahulu berbuat segala sesuatu yang benar guna memperoleh kasih-Nya. Atau barangkali kita telah pernah dikecewakan dalam relasi-relasi di atas bumi dan sungguh merasa sulit untuk percaya bahwa Bapa surgawi mengasihi kita seperti apa adanya diri kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, Bapa surgawi lebih tertarik akan keintiman dalam relasi-Nya dengan kita (anda dan saya), daripada prestasi/kinerja kita, karena Dia tahu bahwa semakin banyak kita mengenal kasih-Nya, semakin banyak pula kita merasa didesak untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Oleh karena itu, marilah kita datang kepada-Nya dalam iman, percaya bahwa hanya Dia-lah yang dapat memuaskan hasrat mendalam dari hati kita.

DOA: 
Tuhan Yesus, Engkau adalah sang ROTI KEHIDUPAN. Penuhilah diri kami dengan kasih-Mu sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah menginginkan apa pun yang lain. Ajarlah kami untuk datang menghadap-Mu setiap hari guna menerima makanan yang akan menopang kami sampai ke hidup yang kekal. Terpujilah nama-Mu selalu. 
Amin.

Suap


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Suap atau korupsi yang sudah mengakar di dalam pemerintahan suatu negara sangatlah susah untuk dibasmi sampai habis. Perlu waktu dan keberanian untuk menghapus tindakan tersebut. Dibutuhkan orang-orang yang jujur dan tegas untuk menghilangkan tindakan yang merugikan negara.

Namun pada kenyataannya, suap ternyata telah terjadi pada zaman dahulu. Tatkala Petrus dan Yohanes pergi ke tanah Samaria untuk mendoakan orang-orang itu agar memperoleh Roh Kudus, datanglah tukang sihir yang juga bertobat yang bernama Simon. Simon melihat bahwa kuasa (Allah) yang dimiliki oleh Petrus dan Yohanes sangatlah besar sehingga Roh Kudus turun atas orang-orang di Samaria. Dan Simon hendak menyuap Petrus dengan uang yang dimilikinya agar Petrus mau memberikan juga kuasa Allah.

Namun dengan tegas Petrus menolak dan mengatakan bahwa kuasa Allah tidaklah diperjualbelikan. Itu adalah anugerah bagi setiap orang yang mau percaya dan bertobat. Simon memang telah bertobat, akan tetapi pertobatan Simon hanyalah secara jasmani namun secara rohaninya ia masih berpikir seperti tukang sihir (masih membawa manusia lamanya). Ia mengira dapat memiliki “ilmu ajaib” dengan membelinya. Seolah dengan uang yang dimiliki, ia bisa melakukan apapun yang dikehendaki.

Sudah menjadi bagian dari hidup kita untuk memiliki hati yang lurus di hadapan Allah agar tidak terjerat dari segala bentuk kejahatan yang dibenci Allah. Pertobatan yang sejati haruslah secara radikal. Bukan hanya mengaku dengan mulut untuk percaya kepada Allah namun juga memiliki kehidupan iman yang terus bertumbuh.


Tetapi Petrus berkata kepadanya : “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.

(Kisah Para Rasul 8:20)