Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

20 Februari 2015

Renungan Ziarah Batin == Jum'at, 20 Februari 2015


Hari JUMAT Sesudah Rabu Abu 

Bacaan I    : Yes. 58:1-9a
Mazmur    : 51:3-4.5-6a.18-19; R:19a
Bacaan Injil    : Mat. 9:14-15

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: ”Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.


Renungan

Dalam sebuah penelitian diungkap bahwa puasa membuat pikiran menjadi lebih tenang dan juga melambat. Uniknya menurut penelitian tersebut ternyata pikiran yang melambat ini membuatnya justru bekerja lebih tajam. Hal ini juga dibuktikan dengan suatu kasus pada sekelompok mahasiswa Universitas Chicago, USA, yang diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai remarkable (luar biasa).

Praktik puasa dikenal dalam semua agama. Puasa merupakan salah satu sarana yang biasa dipakai untuk tujuan spiritual, yaitu semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan membersihkan diri dari segala kelemahan dan dosa. Saat berpuasa kita mengambil jarak dari makanan, minuman dan hiburan-hiburan jasmani, sehingga perhatian kita lebih terarah pada hal yang sifatnya rohani, terutama dalam hubungan dengan Tuhan. Pikiran menjadi tenang dan batin mudah untuk menjadi hening. 

Kegembiraan kita dalam berpuasa baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah: ”Bukanlah usaha tidak makan dan minum tetapi bertobat, memperjuangkan keadilan dan kejujuran serta rela berbagi kepada semua orang yang menderita” (bdk. Yes. 58:6-7). Dengan kata lain, mampu menghadirkan Kristus yang memperjuangkan misi keselamatan-Nya dengan: bertobat, hidup semakin dekat dengan Tuhan dalam doa dan ekaristi, bersikap adil dan jujur, dan rela memberi derma (bdk. Mat. 9:14-15)


Tuhan, pimpinlah aku dengan Roh-Mu, supaya aku mampu menjalankan masa tobat agar semakin dekat dengan-MU dan rela berbagi kasih dengan sesama. 
Amin

@@@@@@@@@@@@@

Melakukan sesuatu tetapi selalu membandingkan diri dengan orang lain, jelas akan mengurangi kualitas dari apa yang dilakukan. Bila kita melakukan sesuatu tetapi ternyata orang lain tidak melakukan seperti apa yang kita lakukan, lalu kita marah, jengkel bahkan iri, jelas itu pra-tanda bahwa kita tidak mempunya prinsip, ketulusan dan kejujuran dalam melaksanakan tugas atau kewajiban itu. Murid-murid Yohanes bertanya dan mengeluh kepada Yesus, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?" Para murid Yohanes hidup seirama air mengalir, sesuai dengan hukum dan tradisi yang diletakkan oleh Musa. Walau demikian, Musa bukanlah tuan atas Hukum Taurat.
"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa", kata Yesus. Dengan jawaban ini, Yesus menunjukkan, bahwa Ia adalah tuan atas semua hukum yang berlaku, termasuk Hukum Taurat. Makanya, ketika Ia masih ada di antara para murid-Nya, mereka diarahkan untuk mengikuti "tradisi baru" dan prinsip yang Ia letakkan, yakni "Anak manusia datang untuk melengkapi hukum Taurat."
Yesus menghendaki agar kita mempunyai komitmen dalam memegang prinsip. Tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain dalam melakukan apa yang hendak kita lakukan. Sering kita menjalankan sesuatu karena kita melihat orang melakukan itu, tetapi kalau orang lain tidak melakukan hal itu, kita lalu berhenti, malah mengeluh dan menyerang mereka. Prinsip ini mungkin penting bagi kita "Jangan pernah menggantungkan hidupmu menurut kesan orang lain, sebab itu merupakan tanda bahwa anda tidak mempunyai karakter pribadi." (fm)
  1. Apakah anda sering tergoda untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain?
  2. Apakah anda mempunyai prinsip dasar sebelum melakukan sesuatu dalam hidupmu?

19 Februari 2015

Renungan Ziarah Batin == Kamis, 19 Februari 2015


Hari Kamis Sesudah Rabu Abu (U)

Bacaan I       : Ul. 30:15-20
Mazmur        : 1:1-2.3.4.6; R:40:5a
Bacaan Injil : Luk. 9:22-25

Yesus berkata: ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”


Renungan

Dalam upacara Sakramen Krisma, biasanya menjelang doa penumpangan tangan Uskup, para peserta krisma harus mengulangi janji baptisnya. Janji itu berkisar pada dua jawaban pokok: ”percaya” kepada Allah dan karya-Nya dan ”menolak” setan serta pengaruhnya. Para peserta krisma harus mengulangi janji baptis dengan iman, sebagai tanda bahwa mereka ingin memilih kehidupan dan bukan kematian. Sebab Roh Kudus bekerja menolong manusia untuk memilih kehidupan Allah.

Dalam perjalanan menuju tanah terjanji, Musa ingin memperbarui kembali komitmen bangsanya, agar mereka tidak melupakan Allah yang telah membebaskan mereka dari penjajahan Mesir. Pilihan setia dan taat kepada Allah adalah pilihan kehidupan.

Sebagai pengikut Kristus, kita juga disebut umat terpilih, namun demikian kita tidak bisa terhindar dari perjalanan salib di padang gurun kehidupan ini. Salib Yesus bukan kutukan melainkan kehidupan, sebab dengan salib itu Yesus telah menebus dosa dunia. Dengan menerima salib Yesus, kita turut serta dalam karya keselamatan dunia dan diri kita sendiri. Apapun tantangannya pilihan itu harus diterima sebagai kebenaran iman. Iman akan Allah itu menyelamatkan.


Tuhan, bebaskan aku dari keinginan untuk menghindar dari perjalanan salib, sebab aku ingin memilih kehidupan yang berasal dari pada-Mu. Amin.

=====================

Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.


Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. KataNya kepada mereka semua, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?"

---ooOoo---

Ketika menghadapi kesulitan, banyak orang Kristiani berkata, "Penderitaanku tidak lebih berat dari salib yang dipikul oleh Yesus." Yang lain berkata, "Ini salib yang harus saya pikul, tetapi kalau saya memikulnya bersama Yesus, akan terasa ringan". Ungkapan ini merujuk ke perkataan Yesus, ketika berbicara tentang penderitaan-Nya dan syarat-syarat mengikuti Dia. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya".

Dengan perkataan itu, Yesus berusaha menyadarkan para murid, bahwa mengikuti Dia tidak membebaskan orang dari penderitaan. Sebaliknya akan ada banyak tantangan yang menghadang. Itulah salib. Namun menghadapi salib ini orang perlu bersikap tenang, tabah dan tetap berharap pada Yesus, yang telah lebih dahulu memikul salib sampai ke puncak Golgota. Ia tidak membuang salib dan melarikan diri-Nya, karena Ia tahu bahwa salib Golgota akan menghantarNya ke Paskah, di mana kuasa maut dikalahkan.

Dalam hidup ini kita menghadapi berbagai bentuk salib. Jika kita tabah menanggung semuanya, kita menjadi semakin matang, kuat dan bijaksana dalam hidup. Tetapi kalau kita cengeng, marah dan beralih menjadi benci terhadap salib, kita membuang salib itu dan tak akan menjadi pribadi yang kuat, matang dan bijak di dalam hidup. 

  1. Apakah anda sering tergoda untuk melarikan diri dari tantangan dan persoalan yang anda hadapi?
  2. Apa prinsip yang anda pegang dalam menghadapi tantangan dan persoalan yang anda alami?

18 Februari 2015

JADUAL PENUGASAN TATA TERTIB Lingkungan Sta. Theresia pada kegiatan Pra Paskah 2015



Renungan Ziarah Batin == Rabu, 18 Februari 2015


Rabu ABU (U) – Puasa dan Pantang

Bacaan I      : Yl. 2:12-18
Mazmur       : 51:3-4.5-6a.12-13.14.17; R:3a
Bacaan II     : 2Kor. 5:20-6:2
Bacaan Injil : Mat. 6:1-6.16-18

Dalam khotbah di Bukit, Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”


Renungan

Dalam suatu upacara doa persiapan pengakuan dosa, seorang Suster menghantar umat dengan renungan tobat, dan doa-doa pertobatan yang sangat menyentuh hati. Usai mendengar pengakuan dosa, para imam dapat menyaksikan ekspresi kegembiraan umat karena merasakan suasana pertobatan yang dalam sehingga dapat mengaku dosa dengan baik dan mengalami damai.

Hari ini kita memasuki masa puasa, masa penuh rahmat untuk berbalik kepada Tuhan dan membarui hidup. Melalui Nabi Yoel Allah meminta agar semua orang berbalik kepada-Nya membarui batin dengan menyesali dosa, sambil berpuasa (bdk. Yl. 2: 12-13). Sebab sekecil apa pun dosa, ia dapat merusak seluruh kepribadian manusia hingga menjadi hamba dosa. Dosa menciptakan permusuhan dengan Allah. Keadaan ini harus dipulihkan dengan sesal dan tobat, mengaku dosa sambil berpuasa, berpantang, berdoa dan rela berbagi. Sesal, tobat, serta perbuatan-perbuatan baik itu akan membantu kita bisa memperbaiki diri, berdamai dengan Tuhan dan memperoleh kekudusan. Tuhan Yesus menegaskan:”Kita berpuasa bukan supaya dilihat orang”(Mat. 6:1), tetapi supaya sungguh-sungguh menyesali dosa, bertobat, mengakuinya dan mendapat pengampunan.


Tuhan, bantulah aku untuk berbalik dari jalan yang salah kepada jalan yang benar. Amin.

==========================

Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjari engkau.
Dalam kotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-muridNya, "Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. 
Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
---ooOoo---
Suatu hari Rabu Abu saya melayani di paroki Midleton, Irlandia Selatan. Di hari Selasa sore, saya berlatih dengan para misdinar. Seorang anak kelas 3 SD berlari mendekati saya dan berkata, "Father, besok hari Rabu Abu kan? kata ibuku, pada hari itu kita tak boleh bicara kotor, tak boleh melawan orang tua, tidak malas belajar, berdoa dan ke gereja, menghormati orang yang lebih tua, dan memberi sedekah. Dan lagi kata ibuku, tidak boleh banyak makan. Jadi mulai besok, saya ingin hidup menurut nasehat ibu dan tidak mau makan KFC di Tesco (mall terkenal di Irlandia) selama masa Prapaskah." Ternyata pendidikan spiritual si ibu disambut baik.
Yesus menyadarkan orang agar tidak bersikap demonstratif dalam memberi sedekah. Kalau berpuasa, bersikaplah yang wajar. Tidak perlu demonstratif dengan membuat muka muram dan sedih. Peringatan Yesus ini mengandung harapan, agar para murid tidak terperangkap dalam pola hidup kaum Farisi yang cenderung demonstratif dalam melakukan perbuatan baik. Yesus paham, bahwa ada kecenderungan psikologis bagi setiap orang untuk mendapat pengakuan atas apa yang ia lakukan bagi orang lain. Bagi Yesus, kecenderungan ini merupakan pintu menuju kesombongan. Kita perlu belajar dari anak kecil dari Midleton yang mau mendengarkan nasehat dan berusaha untuk melaksanakan apa yang dinasehatkan oleh ibunya.
  1. Apakah anda mempunyai niat untuk memperbaharui hidup di masa puasa ini?
  2. Apakah anda mampu mengatasi godaan terhadap kesetiaan dalam masa puasa ini?

17 Februari 2015

LIMA PRINSIP KEPEMIMPINAN ROHANI

Banyak gereja mengeluh kesulitan mendapatkan pemimpin untuk menjadi gembala di gereja mereka. Tamatan sarjana Alkitab atau Teologi banyak, tetapi mendapatkan pemimpin rohani sangat sulit. Tentu mencari akar penyebabnya tidak mudah. Namun banyak yang menunjuk “pabrik”nya yaitu sekolah teologi. Sekolah teologi atau seminari sering dijadikan sasaran atau kambing hitam atas kesulitan mendapatkan pemimpin rohani. Pada satu sisi mungkin saja benar di mana pembinaan di sekolah teologi hanya berfokus kepada persoalan intelektual belaka dan tidak melakukan pendidikan yang sungguh-sungguh mengikuti teladan yang Yesus berikan secara nyata. Masalahnya bagaimana menciptakan pemimpin rohani? Sekolah teologi bukan satu-satunya yang harus ditimpakan kesalahan. Namun semua pihak bertanggung jawab, dalam hal ini diri pribadi pemimpin orang itu, gereja di mana dia menjadi anggota dan mengutusnya, dan juga tentunya sekolah teologi. Bila pemimpin itu sendiri tidak mau dibentuk oleh Kristus dan Firman, maka sulit bagi kita untuk mendapatkan kualitas pemimpin rohani yang diharapkan. Gereja juga bertanggung jawab melakukan pembinaan dan melatih dalam melayani dan tidak memberikan rekomendasi bila calon ini masih diragukan komitmen pelayanannya. Dan akhirnya sekolah teologi bertanggung jawab membentuk calon pemimpin secara menyeluruh dan bukan hanya intelektualnya saja belajar tentang Tuhan.
Namun pemimpin rohani itu sebenarnya seperti apa? Tentu jawabannya kompleks dan banyak. Namun khusus dalam bagian ini penulis akan memaparkan secara singkat lima prinsip pemimpin yang rohani dan yang harus dihidupi pemimpin. Ini ditulis oleh Chris Larson, di mana menurut penulis kelima prinsip pemimpin rohani ini terinspirasidari kehidupan seorang tokoh hamba Tuhan yang sangat dikenal di dunia yaitu Dr. John MacArthur (teolog, pengkotbah dari tradisi Reformed Injili). Kelima prinsip pemimpin rohani itu adalah:
  1. Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin dan menuntun kehidupan orang lain dengan Firman Tuhan, yaitu yang menjadikan Alkitab adalah Firman Tuhan. Dia menolak bentuk-bentuk kepemimpinan yang memakai berbagai bentuk tekanan dan pengaruh yang bukan dari Firman Tuhan. Dia tidak memakai cara kasar dan kotor untuk memimpin. Perhatiannya adalah mengajarkan Firman Tuhan secara akurat, dan memperlihatkan kehidupan yang tunduk kepada otoritas Firman Tuhan.
  2. Pemimpin rohani menginspirsasikan kasih sayang kepada orang yang dipimpinnya karena mereka belajar Kristus dari sang pemimpin dan melihat Kristus di dalam pemimpinnya. Mereka mengikuti dia karena dia mengikuti Kristus. Dan mereka mengasihi dia karena dia mengasihi mereka di dalam Kristus. Rasul Paulus menyimpulkan roh dari pemimpin yang benar ketika dia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Kor 11:1). Versi NKJV mengatakan: “Imitate me, just as I also imitate Christ”. Di sini Paulus sebagai pemimpin minta pengikutnya meniru dia sebagaimana dia meniru Kristus. Dan jangan pernah ragu akan apa yang Firman Tuhan katakan untuk ditiru. Banyak bagian Alkitab menjadikan Kristus sebagai teladan untuk diikuti, di mana penekanannya kepada kerendahan hati.
  3. Pemimpin rohani siap menjadi pemimpin yang tidak populer. Dari sejak raja Israel yaitu Ahab yang menuduh Elia dengan mengatakan: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?", membuktikan bahwa kesetiaan kepada Firman Tuhan seperti Elia tidak akan membawa popularitas bagi mayoritas pengikut.Dr. MacArthur secara jelas mengatakan, ‘You cannot be faithful and popular, so take your pick (Kamu tidak bisa bersamaan setia dan populer, pilihlah).’ Pencarian terhadap popularitas adalah sesuatu yang bersifat jangka pendek dan tidak berusia lama. Sukses itu bukan kekayaan, kuasa, kemapanan, popularitas, dan semua hal yang dunia sebutkan tentang sukses. Sukses sejati adalah melakukan kehendak Allah walaupun ada harga yang harus dibayar.
  4. Pemimpin rohani harus bangkit dan memiliki kesadaran akan adanya bahaya zaman. Tidak semua pemimpin Kristen memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami zaman seperti yang diberikan kepada Bani Isakhar. Firman Tuhan berkata: “Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik (understanding of the times), sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel” (1 Taw 12:32). Ada dalam periode sejarah gereja di mana pemimpin melakukan kesalahan serius dalam bagaimana Kristus diberitakan. Ada juga tanda-tanda zaman yang salah dibaca, sehingga melahirkan pemimpin yang keliru dalam memahami akhir zaman ini. Ada pula pemimpin yang membiarkan pengajarannya menjadi sangat sekuler dan mengikuti prinsip-prinsip dunia dengan alasan mengikuti tren zaman. Pemimpin rohani yang sejati akan bangkit memberikan tuntunan yang Allah berikan.
  5. Pemimpin rohani tidak akan menuntun pengikutnya untuk fokus kepada dirinya sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, dia sendiri secara pribadi berhutang segalanya kepada Kristus. Sebagai seorang berdosa, dia melihat ada suatu kebutuhan untuk hidup dalam roh pertobatan dalam seluruh kehidupannya. Dia menyadari ada jarak dan kontras apa yang ada dalam dirinya dan berita yang dikotbahkannya. Itu sebabnya pemimpin harus menyadari bahwa kalaupun dia berhasil, itu karena Tuhan. Paulus berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami “ (2 Kor 4:7). Terpilihnya seseorang menjadi pemimpin, itu karena Allah memilih kita dan itu semata-mata atas dasar kedaulatan-Nya dalam memilih, sehingga Dialah yang harus menerima hormat dan kemuliaan. Dia memilih kita yang lemah sehingga tidak ada pemimpin yang bisa membanggakan diri, tetapi membanggakan Tuhan, di mana kita adalah hanya alatNya.
Akhirnya, pemimpin rohani yang sejati adalah mereka yang memimpin orang lain dengan satu filosofi dasar dalam kepemimpinannya: “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Maz 115:1). Kiranya lewat lima prinsip ini akan lahir pemimpin rohani sejati yang dapat sangat dirindukan gereja masa kini.

Bagian ini disadur dari “5 Principles for Evangelical Leadership” oleh Chris Larson diambil dihttp://www.ligonier.org/blog/5-principles-evangelical-leadership/.