Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

25 Juli 2015

Hidup Kudus

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Seperti apakah hidup kudus itu? Ada beberapa orang yang mengakui telah berhasil hidup secara kudus, namun pada kenyataannya mereka masih hidup dalam kedagingan. Hidup kudus harus dapat melakukan 4 hal yaitu, kerendahan hati, ketaatan, kasih dan juga penyerahan diri.

Kerendahan hati adalah sifat dimana kita bisa menekan kesombongan yang selama ini telah melekat dalam kehidupan kita. Mungkin secara tidak sadar, kita ingin orang lain tahu tentang kehebatan kita. Ada juga rasa ingin menjatuhkan orang lain. Jika kita telah melakukan hal tersebut, maka kita gagal dalam ujian kerendahan hati.

Taat kepada Tuhan juga merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Menghindari hal-hal yang begitu menyenangkan dan menguntungkan di dunia merupakan ujian terberat. Ketika kita lengah, maka kita sama halnya masuk dalam jerat dosa.

Berikutnya adalah kasih. Kasih merupakan satu kata yang sangat mudah untuk diucapkan namun sangat berat untuk dilakukan. Kita berpikir bahwa seseorang yang telah jahat pada kita sangatlah tidak pantas unutuk kita kasihi. Sedangkan Yesus, Dia telah mengorbankan Diri-Nya untuk menebus orang-orang yang telah melakukan dosa dimana dosa tersebut telah mendukakan hatinya.

Hal terakhir adalah penyerahan diri. Bisakah kita berserah penuh kepada Tuhan? Bisakah kita melepaskan semua keraguan kita? Ketika kita masih kuatir akan kehidupan yang sedang kita jalani, itu sama halnya kita meragukan penyertaan Tuhan.

Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

(Imamat 20:7)

Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. (Yoh 6,6).

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

2Raj. 4:42-44; Mzm. 145:10-11,15-16,17-18; Ef. 4:1-6; Yoh. 6:1-15
Tuhan mahatahu. Bahkan, Ia tidak hanya tahu, tetapi juga selalu menyediakan apa yang kita butuhkan itu. Ia tahu apa yang harus dilakukan-Nya untuk kita. Namun, Ia juga sangat menghargai kita. Ia tidak mau memanjakan kita tetapi menginginkan agar kita juga berpikir, berinisiatif dan berusaha. Karena dengan cara demikian, kita akan berkembang dalam seluruh aspek kehidupan kita. Itulah salah satu hal yang dapat kita petik dari kisah penggandaan roti seperti dikisahkan oleh Yohanes ini. Ia bisa membuat mukjizat secara langsung untuk memberi makan sekian banyak orang yang mengikuti-Nya, sebagaimana halnya Ia telah membuat banyak mukjizat penyembuhan, pengusiran setan, membangkitkan orang mati, meredakan angin ribut, dll.

Namun, mengapa kini Ia tidak langsung saja menyediakan makakan bagi banyak orang itu? Jawabannya: Ia ingin mengajak para murid dan orang banyak yang ada di situ untuk mengambil bagian dalam karya-Nya. Maka, tampilkan Filipus yang secara implisit mengatakan bahwa hanya ada uang 200 dinar dan pasti tidak cukup. Lalu Andreas, masih dengan nada pesimis mengatakan bahwa ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan. Dua usulan cukup lah.

Yesus tidak memakai usulan Filipus untuk membeli roti dengan 200 dinar yang mereka miliki. Sebenarnya ini jumlah yang cukup besar. Kalau 1 dinar itu standar upah pekerja sehari maka 200 dinar bisa untuk membeli roti yang cukup banyak. Yesus justru menggunakan usulan Andreas, yakni dengan mengambil, memberkati dan melipatgandakan 5 roti dan 2 ikan yang dibawa seorang anak kecil. Mengapa? Ada beberapa alasan.

Pertama, roti dan ikan itu sudah tersedia sehingga tidak perlu membeli. Artinya, Yesus menggunakan apa yang sudah ada dan sudah kita punya, bukan yang belum kita punya.
Kedua, roti dan ikan itu tidak berasal dari Yesus sendiri, juga tidak dari para murid tetapi berasal dari seorang anak kecil yang merupakan bagian dari atau salah satu dari orang banyak. Artinya, dalam berkarya, Yesus ingin melibatkan bukan hanya para murid yang dipilih-Nya secara khusus tetapi juga orang-orang kebanyakan.
Ketiga, roti dan ikan itu berasal dari seorang anak kecil. Artinya, bahkan seorang yang kecil saja diberi-Nya kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya; Ia berkenan menerima dan memakai persembahan dari orang yang kecil. Di tempat lain, kita tahu, Yesus memuji persembahan janda miskin.

Keempat, roti dan ikan dari anak kecil itu besar kemungkinannya merupakan bekal yang diberikan orangtuanya. Jadi bukan milik atau bikinan anak itu sendiri. Artinya, di sini terjadi rantai persembahan mulai dari orangtua yang memberi bekal pada anaknya, si anak yang rela memberikan bekalnya, Andreas yang mengantar anak itu kepada Tuhan, dan yang utama adalah Yesus yang menerima persembahan itu kemudian mengucap syukur dan berkat lalu membagi-baginya. Begitulah terjadi di sini sebuah mukjizat karena keterlibatan banyak orang. 

Kelima, jumlah 5 roti dan 2 ikan itu tentu lebih sedikit dibanding dengan jumlah roti yang dapat dibeli dengan 200 dinar. Artinya, sekecil dan sesedikit apa pun yang kita persembahkan kepada Tuhan, Ia akan memberkatinya sehingga menjadi berlipat ganda dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:
 Tuhan, semoga kami senantiasa mengambil bagian dalam karya-Mu, meskipun hanya kecil dan sedikit yang dapat kami persembahkan kepada-Mu, karena sekecil apa pun persembahan kami, Engkau akan memberkatinya sehingga menjadi berlipat ganda dan menjadi berkat bagi banyak orang. 
Amin.

24 Juli 2015

Pentingnya Mitra


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak (Keluaran 17:12)

Salah seorang teman, pebisnis yang cukup sukses di bidang makanan, mendadak jatuh sakit. Terlalu sibuk mengerjakan ini-itu, ia rupanya sering lupa makan sehingga terkena maag akut. Ketika menjenguk, saya melihat beberapa karyawannya. "Kok kamu bisa sakit begini? Bukankah anak buahmu banyak?" Aku sulit memercayakan pekerjaan pada orang-orang ini. Aku maunya benar-benar sempurna (perfeksionis).

Kita masing-masing tentu punya beban pekerjaan yang berbeda-beda. Bangsa Israel dalam bacaan kita untuk pertama kalinya harus melawan musuh sendiri. Tuhan menunjukkan suatu pelajaran menarik pada umat-Nya. Dalam pertempuran, kehadiran mitra sangat diperlukan. Pemimpin seperti Musa sekalipun memerlukan dukungan Harun dan Hur. Kita tahu bahwa Harun bukanlah sosok pemimpin yang sempurna. Toh hal itu bukan menjadi pengalang baginya untuk menjadi penolong Musa.

Tuhan menunjukkan pada Israel pentingnya kehadiran mitra. Terbukti, Israel menang dalam pertempuran pertama tersebut. Barangkali kita sering merasa atau bahkan menyaksikan pekerjaan dapat selesai dengan tuntas dan sangat cepat ketika dikerjakan sendiri oleh orang yang kompeten. Namun, ada saatnya sukses tercapai ketika kita bisa bekerja bersama dalam tim, sekalipun terdiri atas orang-orang yang masing-masing punya kelemahan. Ada hal-hal yang memang harus dikerjakan sendiri; namun, saat memerlukan dukungan mitra, jangan malu meminta pertolongan mereka. 

JIKA INGIN BEPERGIAN CEPAT, PERGILAH SEORANG DIRI.
JIKA INGIN BEPERGIAN JAUH, PERGILAH BERSAMA-SAMA. 


Perkenankanlah Diri Kita Dilucuti

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Sabtu, 25 Juli 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.
Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28
Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes dan anak dari Zebedeus, dan merupakan salah seorang murid Yesus pertama yang mati sebagai seorang martir Kristus (Kis 12:2). Pada waktu dipanggil oleh Yesus, Yakobus dan Yohanes – yang berprofesi sebagai nelayan – sedang membereskan jala di dalam perahu. Kakak beradik itu meninggalkan ayah mereka, Zebedeus, di dalam perahu bersama-sama orang-orang upahannya, lalu mengikuti Yesus (lihat Mrk 1:19-20). Pekerjaan nelayan yang membutuhkan kerja fisik yang keras barangkali yang membuat Yakobus tangguh secara fisik dan juga temperamennya.

Melihat ketetapan hati dan hasratnya untuk melayani Allah, Yesus pun memasukkan Yakobus sebagai salah seorang dari tiga orang sahabat terdekat-Nya (di samping Petrus dan Yohanes). Yakobus dan Yohanes hadir di tempat kediaman Petrus dan Andreas di mana ibu mertua Petrus disembuhkan dari sakit demamnya oleh Yesus (Mrk 1:29-31); bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus hadir ketika Yesus membangkitkan puteri Yairus dari kematian (Mrk 5:37); bersama Petrus dan Yohanes, rasul ini juga menyaksikan transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi (Mrk 9:2); dan dia juga bersama Petrus dan Yohanes berada di dekat Yesus dalam taman Getsemani (Mrk 14:33).

Selama dia bersama Yesus sekitar tiga tahun itu, Yakobus mengalami suatu “pelucutan” progresif dari hidup lamanya yang mengandalkan pada kekuatannya sendiri, sehingga dengan demikian dia dapat menerima dari Yesus hidup baru dalam Roh. Misalnya, ketika sebuah kota di Samaria menolak kunjungan Yesus, Yakobus dan Yohanes ingin agar api turun dari langit untuk membinasakan penduduk kota itu (lihat Luk 9:54). Kedua orang bersaudara itu pun ditegur oleh Yesus (Luk 9:55). Sikap keras kakak beradik tersebut barangkali merupakan alasan mengapa mereka dipanggil dengan nama Boanerges yang berarti anak-anak guruh (lihat Mrk 3:17).

Dalam kesempatan lain, ketika dengan beraninya Yakobus (bersama Yohanes) meminta kedudukan-kedudukan terhormat dalam Kerajaan, Yesus mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepada dua orang murid-Nya ini betapa pemikiran-Nya bertolak belakang dengan sifat dari kemuridan (Mrk 10:35-45). Pada akhirnya, proses pelucutan hidup lama Yakobus berarti kehilangan nyawanya sendiri. Sementara itu, dengan keikhlasan seorang murid, Yakobus merangkul hidup Kristus dan bersedia memberikan segalanya untuk memuliakan Guru dan Sahabatnya. Di awal-awal sejarah Gereja Perdana, Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Raja menyuruh membunuh Yakobus dengan pedang (lihat Kis 12:1-2).

Seperti yang dilakukan-Nya atas diri Yakobus, Yesus ini melucuti diri kita dari cinta-diri kita. Melalui perhatian kita pada sabda Allah dan keterbukaan terhadap sakramen Rekonsiliasi dan sakramen Ekaristi, kita dapat membuat diri kita sendiri tersedia bagi Yesus dan menperkenankan Dia untuk membentuk kita kembali agar semakin serupa dengan diri-Nya. Mungkin kita tidak akan mati sebagai martir, namun kita akan melihat diri kita secara progresif dibebaskan dari cengkeraman dosa dan kegelapan. Yesus akan semakin memerintah dalam hati kita, dan Ia akan memenuhi diri kita lebih dan lebih lagi dengan hikmat dan kuat-kuasa-Nya.

Sekarang, marilah kita masing-masing meminta kepada Yesus agar menunjukkan kepada kita di area-area mana dalam hidup kita ada hal-hal yang harus dilucuti, sehingga kita menjadi semakin kecil dan Dia menjadi semakin besar (bdk. Yoh 3:30). Marilah kita bergembira penuh sukacita sebagai para pewaris Kerajaan-Nya.
DOA: 

Tuhan Yesus, jagalah kami agar tetap setia kepada-Mu selagi Engkau membuang dari diriku semua yang bukan dari-Mu. Aku bersukacita dalam kuat-kuasa salib-Mu yang telah membebaskan aku dari kuasa maut. 
Amin.

Sebuah Pilihan

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/



Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, tentunya kita akan memilih yang terbaik dan yang menguntungkan bagi kehidupan kita. Namun ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan untuk mengampuni, tentu kita akan mempertimbangkannya terlebih dahulu pada siapa pengampunan itu layak untuk kita lepaskan.

Ketika belajar tentang kasih, maka orang akan lebih pintar untuk memberikan contoh tentang bagaimana cara untuk mengasihi tapi pada kenyataannya tidak banyak orang yang berhasil melakukannya. Tindakan tidak semudah apa yang dikatakan. Sedangkan kita tahu bahwa kasih itu adalah mengampuni.

Pilihan adalah tentang kerajaan surga atau neraka. Ketika kita memilih kerajaan surga maka kita harus sudah siap untuk melakukan apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan. Jika kita memilih untuk masuk ke dalam neraka, caranya cukup mudah, abaikan saja perintah Tuhan. Dan saya yakin bahwa tidak ada yang untuk tinggal dalam neraka.

Taat pada Tuhan adalah salah satu jalan menuju kerajaan surga. Taat akan firman Tuhan merupakan cara terbaik dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari, salah satunya adalah tentang kasih dan kasih itu adalah mengampuni. Apakah kita sudah memilih?

Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
(1 Petrus 2:17)