Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

03 Oktober 2015

Hidup sebagai Orang Kristen


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Jika saya menoleh dan melihat beberapa bulan terakhir kehidupan saya, saya sadar bahwa ada banyak hal yang perlu saya perbaiki. Masa-masa itu adalah masa-masa yang cukup sulit, khususnya dalam hal finansial. Tanpa terasa, waktu-waktu itu sempat mengubah saya menjadi orang yang sangat keras, tidak hanya kepada diri saya sendiri, tetapi juga kepada orang lain termasuk Tuhan. Saya mulai menghitung, berapa yang perlu saya keluarkan untuk kebutuhan saya pribadi, untuk pekerjaan Tuhan, dan untuk orang lain, sampai akhirnya saya mulai merasa lelah.

Terlalu fokus pada diri sendiri akan mengubah kita menjadi orang yang egois. Terlalu fokus pada orang lain akan membuat kita tidak pernah merasa puas, karena apa yang mereka punya tidak kita punya. Terlalu fokus pada keadaan seringkali akan membuat kita cemas dan tidak bisa melihat pekerjaan Allah. Inilah yang diinginkan dunia, kekalahan kita. Dan inilah yang diketahui dunia, bahwa hati manusia sangat lemah dan mudah diperdaya.

Ketika kita tidak fokus pada apa yang tidak kita miliki, serta mensyukuri segala yang telah Allah berikan kepada kita, maka kita akan merasakan damai sejahtera. Ketika kita menyadari bahwa hidup ini bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, maka kita akan bahagia. Uang kita mungkin hanya lima ribu rupiah, tetapi di tangan bapak-bapak tua yang mengayuh becak uang itu sangatlah berharga. Sarapan, makan siang, dan makan malam kita mungkin hanya nasi, tempe goreng, dan sayur bening, tetapi di hadapan ibu-ibu tua yang harus menjajakan jamu gendong keliling bekal itu sangatlah nikmat. Jajanan kita mungkin hanya 2 potong pisang, tetapi di lidah dan perut bapak-bapak tua yang berkeliling memikul cobek batu untuk dijual makanan itu sudah lebih dari cukup. Saat kita sudah mengerti pentingnya memberi hidup bagi orang lain, kita sudah menjadi orang Kristen yang sesungguhnya.

Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.


(Efesus 5:2)


02 Oktober 2015

Aku Bersyukur Kepada-Mu, Bapa, Tuhan Langit dan Bumi

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 3 Oktober 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:33-37


Lukas menggambarkan kegembiraan Yesus pada waktu para murid-Nya kembali dari misi mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bagaimana seharusnya mereka memuji-muji Bapa-Nya di surga. Lalu kita pun dapat melihat sekilas lintas gaya doa Yesus: pujian penuh sukacita dalam Roh Kudus kepada Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, ……” (Luk 10:21).

Doa yang paling sejati adalah doa pujian dan syukur; ini adalah bentuk komunikasi yang paling meluas. Hal ini benar dalam relasi kita satu sama lain. Suatu sikap memuji, sikap menghargai, sikap mengasihi yang ditujukan kepada orang lain, adalah yang paling sehat bagi ke dua belah pihak dalam berkomunikasi. Lebih benar lagi adalah sikap kita terhadap Allah. Kita berkomunikasi secara paling baik jika kita mengenal orang lain dengan siapa kita berkomunikasi dan juga siapa kita ini. Allah adalah segalanya yang besar, agung dan indah. Yesus adalah yang paling besar dan agung! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi dengan Dia yang paling nyata dan alamiah. Puji-pujian mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan juga dalam mendengarkan Dia. Kita tidak boleh lupa bahwa “mendengarkan” sudah merupakan separuh (yang lebih baik) dari komunikasi yang kita lakukan. Mendengarkan dengan puji-pujian dan rasa syukur kepada Tuhan!

Puji-pujian dapat mengambil banyak bentuk, bahkan dalam keheningan maupun lagu pujian. Lagu pujian membuka diri kita terhadap Allah dan juga perasaan-perasaan kita yang paling dalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian dalam Kitab Suci, Buku Doa Allah, dan banyak dari doa-doa itu adalah dalam bentuk lagu.

Baiklah bagi kita kalau sungguh menikmati lagu-lagu pujian dan menyanyikan lagu-lagu itu juga. Berdoa dengan menyanyikan lagu pujian adalah berkomunikasi dengan Tuhan, mengatakan kepada-Nya apa yang kita rasakan tentang diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang membuat kita mengasihi Dia dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, serta membuat Dia sebagai pusat kehidupan kita. Doa yang berbentuk lagu, jika kita masuk ke dalamnya dengan sikap ini, meluaskan kita dan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Doa-lagu seperti ini menyelamatkan kita dari bentuk doa yang sempit dan terasa sekadar mohon ini-itu, menggunakan Allah sebagai seorang sugar-Daddy atau Sinterklas yang harus memberikan kepada kita apa saja yang kita minta. Dengan doa permohonan yang terlalu bersifat sepihak, sepertinya kita bertransaksi dengan Allah. Kita melakukan tawar-menawar yang sungguh tidak sehat. Doa yang jauh lebih bijak adalah doa pujian. “Biar bagaimana pun juga, puji Tuhan! Apapun yang terjadi, marilah kita memuji Tuhan” adalah motto yang hebat. Motto ini mengajar kita bagaimana membalikkan setiap hal menjadi suatu berkat bagi hidup kita.

DOA: 

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 
Amin.

Materi Sosialisasi ARDAS KAJ 2016-2020 Bisa Diunduh Disini



Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Atas dorongan Roh Kudus, berlandaskan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus, serta semangat Gembala Baik dan Murah Hati, umat Keuskupan Agung Jakarta berupaya menyelenggarakan tata-pelayanan pastoral-evangelisasi agar semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif, dan berbelarasa terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Melalui tata-pelayanan pastoral-evangelisasi yang sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkomitmen untuk:
Mengembangkan pastoral keluarga yang utuh dan terpadu.
Meningkatkan kualitas pelayan pastoral dan kader awam.
Meningkatkan katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan.
Meningkatkan belarasa melalui dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang adil, toleran dan manusiawi khususnya untuk mereka yang miskin, menderita dan tersisih.
Meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.
Semoga Allah Yang Maha Rahim, yang telah memulai pekerjaan baik dalam diri kita, berkenan menyempurnakannya dan Bunda Maria menyertai, menuntun serta meneguhkan upaya-upaya kita.



Untuk mempermudah umat dalam proses sosialisasi Arah Dasar KAJ 2016-2020 maka berikut ini kami berikan tautan untuk mengunduh melalui media kita ini.

Dokumentasi-dokumen ARAH DASAR 2016-2020, sebagai berikut :
  1. Teks fInal Arah Dasar KAJ 2016-2020
  2. Ardas KAJ 2016-2020: Buah Penegasan Bersama; tulisan Bapak Uskup seputar penjelasan gagasan-gagasan yang melandasi Ardas KAJ 2016-2020 dan proses pengolahannya pada Tepas 2015 
  3. Proses Penyusunan Ardas sampai dengan Implementasinya 
  4. Ardas KAJ 2016-2020 dan Pengantar Sasaran Prioritas; materi standar/baku sosialisasi Ardas KAJ 2016-2020 
  5. Renstra KAJ 2016-2020: implementasi Ardas KAJ 2016-2020 pada perencanaan program pelayanan meliputi tujuan, sasaran prioritas, indikator, target, pihak terkait, waktu; dalam lingkup KAJ; sebagai panduan perencanaan program prioritas paroki tahun 2016 
  6. Catatan proses Temu Sosialisasi Ardas KAJ 2016-2020 untuk wakil-wakil Pengurus Dewan Paroki 
Untuk mengunduh silahkan klik tautan berikut :
Mari kita bersama-sama mempelajari dan menghayatinya. Tuhan memberkati Saudara-saudari/Bapak/Ibu sekeluarga beserta usaha dan pelayanannya. 
Amin

01 Oktober 2015

Untuk Menjaga Engkau Di Segala Jalanmu

(Bacaan Mazmur Misa Kudus, Pesta Para Malaikat Pelindung – Jumat, 2 Oktober 2015)
http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku & kubu pertahanan-ku, Allahku, yang kupercayai.”

Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat perangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

Dengan kepak-Nya Ia akan melindungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.

Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,

terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;

sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. (Mzm 91:1-6,10-11)

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23; Bacaan Injil: Mat 18:1-5,10
“Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu” (Mzm 91:10-11).

Pada hari ini Gereja memperingati “Para Malaikat Pelindung”. Katekismus Gereja Katolik menyatakan hal berikut ini: “sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan. ‘Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarkannya kepada kehidupan’. Sejak di didunia ini, dalam iman, kehidupan Kristiani mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah”.

Iman-kepercayaan Kristiani yang Katolik tidaklah terbatas pada pengakuan akan keberadaan makhluk-makhluk spiritual pemberian Allah kepada kita yang bertugas untuk menjaga serta melindungi kita, melainkan lebih dari itu, yaitu kepastian mutlak bahwa setiap orang mempunyai malaikat pelindung. Juga merupakan suatu kepercayaan Katolik yang bersifat universal bahwa setiap orang yang hidup di atas bumi, apakah Kristiani atau non-Kristiani, berada dalam rahmat atau dalam dosa, sebenarnya sepanjang hidupnya di jaga oleh “seorang” malaikat pelindung yang bertugas khusus untuk dia. Dalam Injil hari ini kita mendengar Yesus bersabda: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10).

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Pelayanan para malaikat pelindung ini mencakup hal-hal yang disebutkan berikut ini: 
  1. melindungi manusia yang dilayaninya dari bahaya-bahaya tubuh, jiwa dan roh; 
  2. mencegah Iblis mengusulkan pemikiran-pemikiran jahat, dan membuang peristiwa-peristiwa dosa dan menolong kita untuk mengatasi godaan; 
  3. mencerahkan dan memberikan instruksi kepada kita dan membantu perkembangan pemikiran-pemikiran suci dan hasrat-hasrat saleh; 
  4. mempersembahkan doa-doa kita kepada Allah dan mendoakan syafaat bagi kita; 
  5. mengoreksi kita apabila kita berdosa; 
  6. menolong kita ketika mengalami sakratul maut, memperkuat dan menghibur kita; 
  7. menghantar jiwa dan roh kita ke dalam surga, atau ke dalam “api pencucian” guna menghibur kita di sana. 
Jadi, para malaikat pelindung-lah yang memperhatikan kita, menjaga kita, memimpin kita. Mereka melihat dalam tugas mereka, jiwa-jiwa yang tak ternilai harganya karena ditebus oleh darah Kristus.

Walaupun para malaikat tidak dapat melakukan penetrasi ke hati kita yang terdalam, bagian di mana Allah menyediakan tempat bagi diri-Nya sendiri, mereka melakukan apa pun yang biasa dilakukan guna menolong kita. Sungguh layak dan pantaslah jika kita memandang para malaikat pelindung itu sebagai sahabat-sahabat kita.

Sang pemazmur dalam Bacaan Mazmur hari ini ingin menyatakan kebaikan Allah kepada umat-Nya, lewat perlindungan-Nya, pembelaan-Nya dst. Allah bahkan akan memerintahkan para malaikat untuk menjaga kita (Mzm 91:10-11). Mazmur 91 secara penuh merupakan bacaan Mazmur pada Ibadat Penutup hari Minggu. Memang di akhir hari tidak ada mazmur yang dapat lebih mengangkat diri dan menghibur kita daripada mazmur ini. Mengapa? Karena mazmur ini memberi jaminan kepada kita semua bahwa dalam segala pencobaan hidup, Allah senantiasa dekat dengan kita, dan perhatian-Nya sebagai seorang ibu tidak pernah meninggalkan kita, juga bahwa para malaikat-Nya juga hadir di sisi kita masing-masing.

DOA: 

Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memberikan kepada kami masing-masing “seorang” malaikat pelindung untuk menjaga kami. Melalui bimbingan Roh Kudus-Mu, jadikanlah kami murid-murid Yesus yang baik, yang senantiasa menjalin hubungan baik dengan para malaikat pelindung kami. 
Amin.

Kekristenan adalah Pengorbanan

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Saya mengenal satu keluarga muda yang sekarang sangat aktif bekerja di ladang pelayanan di sebuah gereja lokal. Mereka adalah keluarga sederhana; si istri bekerja sebagai buruh, pekerjaan suaminya lebih ke serabutan, dengan satu orang anak yang baru saja masuk TK. Karena belum memiliki rumah sendiri, mereka harus tinggal dengan keluarga besar mereka. Akan tetapi, dengan kondisi yang demikian, saya bisa melihat karya mereka bagi Tuhan setiap harinya; tidak berkurang, tetapi justru semakin bertambah. Mereka juga selalu murah hati dalam hal pemberian-pemberian kepada kami, rekan-rekan sepelayanan mereka.

Pelayanan memang seringkali berhubungan dengan pengorbanan. Orang-orang yang telah jatuh hati terhadap pekerjaan Tuhan tidak akan memandang setiap usaha, doa, daya, dan dana sebagai suatu hal yang perlu diperhitungkan. Mereka akan melakukannya dengan senang hati, semata-mata karena hati mereka dipenuhi dengan sukacita karena keselamatan yang sudah Allah kerjakan dalam hidup mereka.

Pencarian terbesar dalam hidup kita orang percaya haruslah mengenal Allah secara intim dari hari ke hari, mengenal dan memakai kuasa kebangkitan-Nya untuk menaklukkan dunia dan segala yang ada di dalamnya, mengenal persekutuan dalam penderitaan-Nya sebagaimana Kristus telah menderita untuk menyelamatkan dan melayani orang lain, serta menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (kematian terhadap segala keinginan daging dan keangkuhan hidup) semata-mata untuk melakukan kehendak Allah. Inilah yang seharusnya orang Kristen lakukan; menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus (Lukas 9:23).
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
(Filipi 3:11-13)