Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

17 Februari 2015

Renungan Ziarah Batin == Selasa, 17 Februari 2015


Pekan Biasa VI (H)

Bacaan I    : Kej. 6:5-8; 7:1-5.10
Mazmur    : 29:1a.2.3ac-4.3b.9b-10; R: 11b
Bacaan Injil    : Mrk. 8:14-21

Pada suatu hari murid-murid Yesus lupa membawa roti. Hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya, ”Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka me­reka berpikir-pikir dan seorang berkata ke­pada yang lain, ”Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus me­ngetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata, ”Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka, ”Dua belas bakul.” ”Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka, ”Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka, ”Masihkah kamu belum mengerti?”


Renungan


Seminggu sebelum terjadinya gempa dan tsunami, dua keluarga kakak beradik berlibur ke rumah orangtua di suatu pulau lain. Ketika sedang berlibur, gempa dan tsunami menghancurkan kota dimana mereka tinggal. Semua bangunan hancur berantakan dan ribuan orang tewas. Dua keluarga ini bersyukur karena terhindar dari bahaya gempa dan tsunami itu dan yakin Tuhan telah mendorong hati mereka untuk berlibur ke rumah orang tua.

Hati Nuh digerakkan Tuhan untuk menyiapkan segala-galanya sebelum terjadinya bencana alam air bah. Ketika bencana itu terjadi mereka telah mendapat tempat teduh dalam bahteranya. Ia bersama keluarga serta hewan peliharaan mereka diselamatkan. Tuhan menyayangi dan memelihara orang-orang yang setia dan taat pada hukum-hukum-Nya.
”Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”(Mrk. 8:15) 

Kapan dan di mana saja kita hidup, kita perlu berwaspada terhadap apa saja yang akan terjadi. Kejahatan dan bencana dalam segala bentuknya dapat terjadi setiap saat. Maka kita memerlukan tuntunan Tuhan yang selalu bisa kita peroleh melalui doa dan firman-Nya.


Tuhan, bukalah mata hatiku untuk selalu mendengarkan tuntunan-Mu agar hidupku selamat. Amin.

16 Februari 2015

Misteri dan Keharuan Jumat Pertama

Ada hubungan yang erat antara Devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan Misa Jumat Pertama, karena Misa Jumat Pertama merupakan salah satu bentuk Devosi kepada Hati Kudus Yesus. Berikut ini sekilas tentang Devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Misa Jumat Pertama : (silakan klik )

  • Sejarah Devosi kepada Hati Kudus Yesus:

Devosi berfokus kepada Hati Yesus yang maha kudus yang melambangkan kasih Kristus yang menebus dosa manusia. Walaupun tradisi mengatakan bahwa praktek devosi ini telah dimulai sekitar tahun 1000, atau pada jaman St. Anselmus dan St. Bernard (1050-1150) dan juga telah dianjurkan oleh banyak orang kudus di abad pertengahan, seperti St. Albertus Agung, St. Catherine dari Siena, St. Fransiskus dari Sales, dan juga para Benediktin, Dominikan dan Carthusian; namun Santa yang paling sering diasosiasikan dengan devosi Hati Kudus Yesus adalah St. Margaret Mary Alacoque (1647-1690).
St. Margaret memperoleh wahyu pribadi dari Tuhan Yesus yang menghendaki perayaan liturgis Hati Kudus Yesus dan praktek mempersembahkan silih (reparation) terhadap dosa-dosa yang dilakukan terhadap Sakramen MahaKudus, pada setiap hari Jumat pertama dalam setiap bulan.
Pada tahun 1856 Paus Pius IX menetapkan Pesta (perayaan liturgis) Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1928 Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklikMiserentissimus Redemptor tentang silih kepada Hati Kudus Yesus; sedangkan tahun 1956 Paus Pius XII mengeluarkan surat ensiklik tentang Haurietis aquas, tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus.
Devosi umumnya dilakukan menjelang perayaan Pesta Hati Kudus Yesus yang jatuh pada hari Minggu kedua setelah hari raya Pentakosta. Kemudian, devosi kepada Hati Kudus Yesus ini diadakan setiap bulan, yaitu pada hari Jumat pertama.

  • Pengantar kepada devosi Hati Kudus Yesus

Kasih kepada Yesus Kristuslah yang seharusnya menjadi dasar devosi dari umat Katolik. Kurangnya devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi sebab bagi jatuhnya seseorang kepada dosa yang serius, sebab ia tidak memberikan perhatian yang cukup dan tidak cukup terdorong untuk mempunyai kasih kepada Kristus, padahal kasih inilah yang mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan…. Kita tidak akan sungguh dibentuk menjadi gambaran Tuhan, atau bahkan menginginkan untuk dibentuk menjadi serupa dengan-Nya, jika kita tidak merenungkan kasih yang telah ditunjukkan oleh Kristus.
Untuk maksud inilah maka Tuhan Yesus menyatakan kehendak-Nya kepada St. Margaret Mary Alacoque, agar devosi dan perayaan Hati Kudus Yesus diadakan dan disebarluaskan di Gereja. Melalui devosi ini yaitu melalui adorasi dan doa, umat beriman membuat silih bagi segala luka yang diterima oleh Hati Kudus Yesus karena umat manusia yang tidak berterimakasih dan menghina Sakramen Maha Kudus.
“Lihatlah Hati itu”, seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada St. Margaret, “yang telah mengasihi umat manusia dan memberikan segala- galanya kepada mereka, bahkan menyerahkan dirinya sediri sebagai jaminan kasih-Nya, tetapi menerima dari sebagian besar umat manusia, bukan balasan kasih, melainkan rasa tidak berterimakasih, dan penghinaan kepada Sakramen Kasih.”
Maka devosi Hati Kudus tidak lain adalah ekspresi kasih kepada Penyelamat kita. Obyek dari devosi ini adalah Hati Yesus yang menyala oleh karena kasih kepada semua umat manusia.

  • Hari Jumat Pertama

Adalah menjadi kerinduan Tuhan Yesus, seperti yang dinyatakan kepada St. Margaret, bahwa setiap hari Jumat pertama setiap bulan dikhususkan untuk devosi dan adorasi kepada Hati Kudus Yesus. Untuk mempersiapkannya, adalah baik jika pada malam sebelumnya kita membaca tentang devosi ini, atau Jalan Salib / Kisah sengsara Tuhan Yesus dan untuk mengunjungi Sakramen Maha Kudus. Pada hari Jumat tersebut, begitu bangun tidur, kita mempersembahkan diri kita dan meng-konsekrasikan, seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan kita kepada Tuhan Yesus, agar Hati Kudus-Nya dapat dihormati dan dimuliakan. Kita mengunjungi gereja, berlutut di hadapan-Nya yang hadir di tabernakel, agar kita dapat membangkitkan di dalam jiwa kita rasa duka cita (deep sorrow) atas begitu banyaknya penghinaan/ perlawanan yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya di dalam Sakramen Maha Kudus, dan kemudian mengikuti Misa Kudus. 
Tidaklah sulit untuk melakukan hal ini jika kita memiliki sedikit saja kasih kepada Kristus. Jika kita menjadi suam- suam kuku, mari mengingat kembali begitu banyaknya alasan yang kita miliki untuk memberikan hati kita kepada Kristus. Setelah itu, kita harus mengakui segala kesalahan kita atas kekurangan hormat kita di dalam hadirat Allah dalam Sakramen Maha Kudus, atau melalui kelalaian kita untuk mengunjungi dan menerima Dia di dalam Komuni kudus.
Komuni pada hari itu dipersembahkan untuk membuat silih terhadap segala bentuk penghinaan yang diterima Kristus dalam Sakramen Maha Kudus, dan semangat kasih yang sama harus menghidupkan segala tindakan kita sepanjang hari.
Meskipun devosi ini diadakan sekali sebulan (pada hari Jumat Pertama) namun latihan-latihan rohani ini tidak terbatas hanya sebulan sekali pada hari itu. Yesus layak dihormati setiap saat. Dengan demikian mereka yang terhalang untuk merayakan devosi Hati Kudus Yesus pada hari Jumat pertama, dapat melakukannya pada hari- hari lainnya pada bulan itu.


15 Februari 2015

Renungan Ziarah Batin - Senin, 16 Februari 2015


Pekan Biasa VI (H)

Onesimus; St. Porforius;
B. Simon dr Cascia

Bacaan I: Kej. 4:1-15.25

Mazmur: 50:1.8.16bc-17.20-21; R:14a
Bacaan Injil: Mrk. 8:11-13

Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk men­cobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga. Maka me­ngeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, ”Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada ang­katan ini sekali-kali tidak akan diberi tan­da.” Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.


Renungan


Prabu dan Pram adalah kakak beradik dalam satu keluarga yang berkecukupan. Namun, keduanya sering tidak rukun karena Prabu adalah kesayangan ayah sedangkan Pram anak kesayangan ibu. Ayah dan ibu tidak sadar bahwa keadaan ini menciptakan luka batin pada diri kedua anaknya. Pada saat keduanya berkeluarga, setelah menerima warisan dari orangtua, mereka tidak pernah hidup rukun bersama sampai mati.

Di mana saja di dunia ini selalu terjadi pertentangan yang menimbulkan permusuhan, benci, dendam hingga pertikaian dan peperangan. Cerita Kain dan Habel dalam Kitab Kejadian hari ini menggambarkan keadaan itu. Akibat iri hati Kain membunuh Habel adiknya dan oleh dosa itu Kain menjadi suku penggembara di bumi ini. Ia hidup susah karena perbuatannya yang jahat.
Yesus menolak permintaan orang Farisi yang hanya meminta tanda, tetapi tidak percaya kepada-Nya. Ia pergi ke kota lain dan mengajar di sana. Doa-doa kita tidak berbuah ketika kita selalu menuntut tanda dari Tuhan. Yesus sendiri merupakan tanda kehadiran Allah. Sikap yang kurang percaya dan negatif selalu menghalangi hadirnya Tuhan dalam hidup kita, sebab kebaikan dan kedamaian sejati hanya ada kalau kita membuka hati pada-Nya.


Tuhan, bukalah hatiku akan kehadiran-Mu dalam sesama dan diri hidupku agar damai sejati dapat aku alami setiap saat. Amin.

ooOOoo

Ketika St. Agustinus ingin membuktikan seperti apa tanda kebesaran Allah di dunia ini. Ia seakan mengharapkan suatu kenyataan yang ajaib atau mujizat muncul di depan matanya. Tetapi dalam permenungannya yang lebih dalam, ia akhirnya menyadari bahwa, sebetulnya untuk mengalami kebesaran Allah dan kehadiran-Nya, tak perlu mujizat yang ajaib. Tanda ajaib dan mujizat terbesar dari Allah justru ada dalam alam yang begitu mempesona. Kalau kita mencermati alam dan segala isinya yang menakjubkan, akan muncul kesadaran bahwa semuanya ini hanya terjadi karena ada "Tangan Agung" yang membentuknya yaitu Allah sendiri. Kesadaran ini mestinya secara alamiah ada pada setiap orang yang beriman, tetapi dalam kenyataan banyak orang melihat alam hanya sebatas buah evolusi yang berlangsung jutaan tahun.
Yesus kesal dengan cara pandang orang Farisi terhadap pengajaran dan mujizat-mujizat. Mereka menilai semuanya tak lebih dari kuasa magis dan tidak mengakuinya sebagai pernyataan kuasa Allah yang hadir dalam diriNya. Karena itu mereka meminta tanda dari surga, padahal semua mujizat itu sudah merupakan tanda dari surga. Mereka mempunyai mata tetapi tidak melihat.
Terhadap cara pandang yang dangkal ini, Yesus berkata, "Kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda". Yesus tahu bahwa hati mereka congkak. Orang yang congkak mudah "menendang" Allah keluar dari hidupnya. Allah tidak diakui sebagai pemilik hidup, pantulan alamiah yang muncul otomatis. Cara pandang dan sikap seperti ini akan membuat orang hidup hanya tanpa kesadaran, bahwa hidup ini dimiliki oleh Allah dan ziarah hidup ini jelas menuju Dia yang memberi segala-galanya.
  1. Apakah anda pernah tergoda untuk meminta mujizat bagi hidupmu?
  2. Apakah anda adalah seorang yang menghargai pola proses dalam usahamu?

========================


Renungan Harian -Minggu, 15 Februari 2015



Im 13:1-2.45-46 | Mzm 32:1-2.5.11 | 1 Kor 10:31-11:1 | Mrk 1:40-45


Lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

Sekali peristiwa, seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus ia memohon bantuanNya, katanya, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras, "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi, namun orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru.


Renungan 

Setelah menyembuhkan orang kusta itu, Yesus tidak menyuruhnya pergi mandi tetapi meminta dia untuk memperlihatkan diri kepada imam. Ada tujuan luhur di dalam suruhan ini, yakni agar setiap orang yang menyaksikan peristiwa itu, jika di masa mendatang juga mengalami karunia Tuhan, haruslah diutamakan rasa syukur kepada Tuhan. Dengan memperlihatkan diri kepada imam, ia sekaligus diarahkan untuk bersyukur kepada Allah atas rahmat kesembuhan yang telah ia terima melalui Yesus.

Orang yang bersyukur adalah orang yang selalu menyadari bahwa ia hanya berarti dan selamat dalam hidupnya, karena belas kasih dan cinta Allah semata-mata. Cinta Allah dapat dialami melalui sesama manusia dan melalui kelimpahan isi alam yang dinikmati setiap saat. Ia pun akan tetap menyadari bahwa, sebetulnya Allah sudah begitu murah hati dengan menyediakan segalanya kepada manusia, karena itu sebetulnya manusia harus bersyukur bukannya hanya meminta dan menuntut, seolah-olah Allah tidak peduli lagi dengan hidup manusia.

Dalam kehidupan sebagai orang beriman, kita mempunyai kebiasaan untuk memper-sembahkan intensi syukur dalam misa kudus, setelah sukses dalam suatu pekerjaan, sembuh dari penyakit, hari ulang tahun, luput dari bahaya yang mengancam nyawa, kelahiran seorang anak, dan sebagainya. Semua kebiasaan ini merupakan pantulan dari hati yang memiliki hutang budi kepada Allah, yang telah menyatakan perlindungan-Nya kepada kita. Orang yang senantiasa memelihara rasa syukur adalah dia yang membiarkan Allah menjadi fondasi hidupnya.


Apakah anda sering bersyukur dalam hidup atau lebih banyak menuntut?
Apakah anda mengalami kehadiran Allah dalam setiap rencana dan tugasmu?



Oase Rohani

Bacaan I: Kej. 4:1-15.25
Mazmur: 50:1.8.16bc-17.20-21; R:14a
Bacaan Injil: Mrk. 8:11-13



Tanda Cinta

” ... Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.” (Mrk. 8:11)

Lisa, Saskia, Fina dan Yuli adalah empat sekawan. Belum lama ini mereka mendapatkan pasangan yang sangat mereka idam-idamkan. Lisa, Saskia dan Fina bercerita kepada Yuli bahwa pacar mereka sangat romantis. Mereka sering melewati waktu bersama dengan nonton, candle light dinner di restoran dan berbelanja di mall. Sang kekasih juga sering memberikan hadiah yang membuat mereka bahagia. Berbeda dengan kisah cinta Fina. Kekasihnya adalah orang yang sederhana, ia lebih senang mengajak Yuli dekat dengan alam. Mereka sering berpetualangan bersama, membahas tentang buku yang mereka suka dan pergi ke gereja berdua.

Mendengar kisah tiga sahabatnya, Yuli lantas bertanya pada pacarnya “Sebenarnya kamu cinta atau tidak sih sama aku? Sahabat-sahabatku sering mendapatkan hadiah dari pacar mereka, tapi aku tidak pernah mendapatkannya darimu.” Seraya tersenyum pacar Fina menjawab “Fina sayang, haruskah tanda cinta hanya diungkapkan dengan hadiah? Bagiku, kamu adalah hadiah terindah dan sebaliknya aku berharap, aku juga menjadi hadiah terindah untukmu dari Bapa di surga.”

“Kalau tidak ada buktinya, kami tidak percaya.” Itulah persepsi yang sering muncul dalam masyarakat. Banyak hal harus dibuktikan terlebih dahulu, barulah mereka percaya. Hal serupa juga dialami Yesus dalam pewartaan-Nya. Dalam injil diceritakan bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga. Tapi sayangnya, Yesus berkata, “Kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Mereka masih tidak percaya, meskipun sudah melihat dan mendengar mukjizat yang telah Yesus lakukan.

Pada saat ini, kita memang tidak bisa lagi melihat secara langsung mujizat yang Yesus lakukan. Tapi, kita masih bisa membaca kisah-Nya melalui kitab suci. Kita patut mengingat perkataan Yesus kepada Petrus “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.” Marilah kita renungkan setiap kisah-Nya dan percayalah bahwa ia sangat mencintai kita.

Tuhan, aku tidak ingin mencobai Engkau dengan meminta tanda-tanda seperti orang Farisi. Aku mau percaya kepada-Mu dari setiap kisah yang ditulis dalam kitab suci. Amin.