Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

20 November 2015

Mereka Adalah Anak-Anak Allah, Karena Mereka Telah Dibangkitkan

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Sabtu, 21 November 2015)


Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40)

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Orang-orang Saduki adalah sebuah kelompok pemuka agama yang – seperti juga orang-orang Farisi – menentang Yesus. Namun tidak seperti orang-orang Farisi, mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati dan mereka juga berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai sumber otoritas mereka satu-satunya. Orang-orang Saduki ini adalah kelompok yang lebih kaku-keras-ketat daripada orang-orang Farisi. Jadi, tidak mengherankanlah apabila mereka merasa tersinggung oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatannya radikal dan juga penerimaan oleh orang banyak atas ajaran-Nya.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang guna menjebak Yesus dan mempermalukan Dia dan ajaran-Nya. Persoalan hipotetis tentang perempuan yang tidak beranak dan kawin berturut-turut dengan saudara laki-laki suaminya yang meninggal seturut hukum Levirat adalah umpan agar Yesus dapat terjerat. Apakah ada kebangkitan setelah seseorang meninggal dunia? Kalau begitu jadinya, bagaimana ajaran Musa dapat diterapkan dalam situasi yang mengandung teka-teki tersebut?

Yesus mengetahui apa yang ada di belakang pertanyaan “nakal” orang-orang Saduki tersebut. Mula-mula Yesus menjawab pertanyaan mereka berdasarkan pengertian mereka sendiri, namun pada saat sama Dia berupaya meningkatkan pikiran mereka ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, – seperti juga yang secara tradisional dilakukan oleh para rabi – Yesus pertama-tama menyajikan suatu ringkasan dari ajaran-ajaran-Nya. Guna mendukung ajaran-ajaran-Nya, Yesus memetik dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Luk 20:37), satu-satunya otoritas yang dapat diterima oleh orang-orang Saduki.

Namun kita harus mencatat bahwa Yesus ingin melakukan lebih daripada sekadar membuktikan siapa diri-Nya. Sementara bentuk tanggapan Yesus sejalan dengan tradisi mereka, isi pesan-Nya menunjukkan suatu perbedaan yang radikal. Orang-orang benar tidak hanya dibangkitkan ke dalam kehidupan, melainkan juga mereka adalah “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36). Bapa surgawi tidak hanya memberikan kehidupan di atas bumi, melainkan juga Dia menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan melampaui kubur. Karena kematian dikalahkan, anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; mereka semua hidup di hadapan-Nya” (Luk 20:36,38) dalam suatu kehidupan baru yang lengkap, mengatasi kehidupan yang mereka kenal di atas bumi.

Dengan demikian jawaban Yesus sungguh melampaui pertanyaan-pertanyaan orang-orang Saduki untuk menyatakan kasih dan rahmat Bapa. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita (anda dan saya) dapat mengalami kehidupan seperti hidup Yesus sendiri, bebas dari maut dan hidup bagi Allah (Rm 6:5-11). Jika kita bersatu dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengenal kebebasan dan mengalami kebebasan dari dosa dan maut, buah pertama dari hidup surgawi yang menantikan kita.


Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, aku bergembira atas kemenangan-Mu.
Ayat. (Mzm 9:2-3.4.6.16b.19)
  1. Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau bermazmur bagi nama-Mu, ya yang Mahatinggi.
  2. Sebab musuhku telah mundur, tersandung jatuh, dan binasa di hadapan-Mu. Engkau menghardik bangsa-bangsa, dan telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya.
  3. Kakinya terperangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.
DOA: 
Bapa surgawi, Engkau adalah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu hidup yang ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami agar senantiasa setia selagi kami mengantisipasi sukacita hidup kekal-abadi. 
Amin.

19 November 2015

Roh Kudus Ingin Membuat Kita Semakin Serupa Dengan Yesus

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Jumat, 20 November 2015)

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48)

Bacaan Pertama: 1Mak 4:36-37,52-59; Mazmur Tanggapan: 1Taw 29:10-12 

Yesus sungguh marah besar ketika masuk ke halaman Bait Allah dan kemudian Ia mengusir para pedagang mata uang asing dll. Berlawanan dengan gambaran tentang Yesus yang dibuat oleh sejumlah artis di mana yang kita lihat adalah seorang gembala yang lemah lembut, Yesus juga dapat menjadi seorang yang sungguh “berbahaya” ketika Bapa-Nya di surga tidak dihormati secara pantas. Pada kenyataannya, Yesus mengalami seluruh rentangan emosi manusiawi seperti yang kita-manusia alami dalam hidup kita. Rasa sedih, bela rasa, rasa takut, rasa kagum, bahkan rasa marah: Yesus mengenal dan mengalami semua itu dalam kehidupan-Nya di dunia.

Kebenaran indah dari iman kita adalah bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menebus kemanusiaan kita, bukan untuk menggantikannya dengan suatu model baru. Bukanlah suatu dosa untuk menjadi seorang pribadi manusia dengan berbagai emosi. Para ahli ilmu perilaku sudah lama mengatakan bahwa manusia adalah juga makhluk/pengada yang mempunyai emosi (emotional being), bukan hanya pengada yang berakal budi (rational being) dan lain sebagainya, seperti physical being, cognitive being, psychological being,bahkan juga spiritual being. Ketika Allah “merancang” kita-manusia dan menganugerahkan kita dengan emosi-emosi dalam rentangan yang begitu lebar dari ujung ke ujungnya, Dia mendeklarasikan ciptaan-Nya itu sebagai baik, bahkan sungguh baik (lihat Kej 1:31). Emosi-emosi kita hanya akan membawa kita ke dalam kesusahan hanya apabila kita memperkenankan emosi-emosi itu menguasai kita atau mengaburkan kemampuan kita untuk bekerja dalam kesatuan dan persatuan dengan Allah.

Kemarahan kita dapat memisahkan kita dari Allah, namun kemarahan Yesus merupakan suatu tanggapan rapih-tertata yang mengalir dari relasi-Nya dengan Allah. Yesus sangat mengetahui bahwa Bait Allah adalah sebuah tempat yang digunakan untuk berdoa di mana umat yang takut akan Allah dapat berkumpul untuk menyembah YHWH dan memohon campur tangan-Nya dalam kehidupan mereka, baik dalam suka maupun duka. Walaupun memang para penukar uang dan penjual hewan kurban merupakan aspek yang diperlukan dalam ibadat dalam Bait Allah, gerai/lapak mereka seharusnya berlokasi di luar Bait Allah. Namun pada kenyataannya, “kota/pasar” telah dimasukkan ke dalam Bait Allah, bukan sebaliknya, yaitu di mana Kerajaan Allah masuk ke dalam kota.

Yesus memiliki semangat sama untuk memenangkan hati kita – bait Roh Kudus – seperti yang dimiliki-Nya ketika membersihkan Bait Allah segala hal yang tidak pantas. Sekarang, marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah kita telah memperkenankan hal-ikhwal/bisnis dunia – sebagian memang diperlukan – untuk mendominir hati kita?” “Apakah kita pernah memperkenankan emosi-emosi kita mendominir keputusan-keputusan kita dan mengaburkan jalan kita bersama Allah?”

Saudari dan Saudaraku terkasih, Yesus ingin meningkatkan kemanusiaan kita agar dapat mencerminkan diri-Nya. Roh-Nya ingin membuat kita semakin serupa dengan Yesus sehingga dengan demikian kita menunjukkan kepada dunia apa artinya “hidup secara penuh”.

Ref. Ya Tuhan, kami memuji nama-Mu yang agung.
Ayat. (MT 1Taw 29:10.11abc.11d-12a.12bcd)
  1. Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah Israel leluhur kami dari kekal sampai kekal.
  2. Ya Tuhan, milik-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya milik-Mulah segala yang ada di langit dan di bumi, ya Tuhan, milik-Mulah kerajaan.
  3. Engkaulah yang tertinggi melebihi segala-galanya, kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu.
  4. Engkaulah yang menguasai segala-galanya. Dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan, dalam tangan-Mulah kuasa untuk memperluas dan memperkokoh kerajaan.
DOA: 
Tuhan Yesus, datanglah dan masuklah ke dalam hatiku dan bersihkanlah segala kekacauan dan segala sampah yang ada di situ. Singkirkanlah hiruk pikuk pasar dari pusat hatiku, sehingga yang tertinggal hanyalah Engkau saja. Semoga diriku dipenuhi dengan kasih akan Alah selagi aku ditransformasikan menjadi semakin serupa dengan dirimu. 
Amin.

18 November 2015

Walaupun Telah Mendengar Sabda-Nya, Hati Mereka Tetap Tertutup

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Kamis, 19 November 2015)
Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Perawan

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44)

Bacaan Pertama: 1Mak 2:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15
Bacaan Injil hari ini barangkali merupakan salah satu bacaan yang paling menyedihkan dalam keseluruhan Injil. Marilah kita (anda dan saya) memejamkan mata kita dan mencoba untuk membayangkan Yesus yang sedang menangisi umat yang dikasihi-Nya. Apakah yang dapat menyebabkan kesedihan lebih besar pada diri-Nya, selain mengetahui bahwa penduduk Yerusalem telah mendengar sabda-Nya – berbagai pengajaran-Nya – namun hati mereka tetap saja tertutup bagi kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan dan membawa kebebasan yang diwartakan oleh-Nya?

Pernahkah kita merasa diblokir sehingga tidak dapat berhubungan dengan Allah? Kadang-kadang kita merasa bahwa Allah sedang bersembunyi dari kita atau bahwa Dia marah dengan kita karena sesuatu yang telah kita lakukan. Pada saat-saat lain, kita dapat begitu disibukkan oleh hal-ikhwal dunia sehingga kita merasa begitu jauh dari diri-Nya.

Manakala kita merasa terpisahkan dari Allah, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah bertanya “mengapa”. Sangat membantulah jika kita melakukan pemeriksaan batin guna melihat apakah ada dosa yang bisa saja memblokir kita – isu apa saja di mana kita mungkin membutuhkan pengampunan dari Allah.

Kadang-kadang sepatah kata penuh kemarahan yang kita ucapkan atau bahasa tubuh yang menunjukkan ketidak sabaran kita terhadap orang lain akan membuat kita merasa jauh dari Tuhan. Namun Yesus sangat mengasihi kita dan Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Yesus mungkin saja berduka karena terjadinya keretakan antara diri-Nya dan kita disebabkan oleh dosa kita, namun Ia tidak akan pernah menutup pintu bagi kita. Pada kenyataannya, Yesus memiliki pengharapan yang jauh lebih besar pada kita daripada pengharapan kita sendiri.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa apabila kita melakukan pemeriksaan batin dan kemudian bertobat, Ia mendengarkan dan menanggapi kasus kita dengan kasih dan belas kasih (kerahiman) yang berlimpah. Allah senantiasa bekerja, mencari jalan terbaik guna menarik kita kembali ke dalam persatuan dengan diri-Nya. Kita memang harus senantiasa mengingat bahwa Dia merindukan kita seperti juga kita merindukan diri-Nya – dan seringkali malah lebih-lebih lagi rindu-Nya kepada kita.

Menjaga alur komunikasi agar tetap terbuka antara kita dan Tuhan tidak selalu mudah. Namun, apabila kita bertekun dalam hal ini, maka kita akan belajar bagaimana menghadapi tantangan-tantangan dan godaan-godaan dengan penuh keyakinan bahwa Allah sungguh ada bersama kita, senantiasa menyemangati kita dan menawarkan kuasa ilahi-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana memusatkan pandangan kita pada diri-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia selalu mencurahkan Roh-Nya ke atas diri kita, dengan kerinduan agar kita membuka hati kita bagi suara-Nya yang lemah lembut.

Ref. Pada waktu bangun aku menjadi puas dengan hadirat-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 17:1.5-6.8b.15)
  1. Dengarkanlah Tuhan, pengaduan yang jujur, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, doa dari bibir yang tidak menipu.
  2. Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidaklah goyah. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.
  3. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

DOA: 
Roh Kudus, tolonglah diriku dalam upaya melakukan pemeriksaan batin. Tunjukkanlah, ya Roh Alllah, jika ada sesuatu yang menghalangi diriku dalam mendengarkan suara-Mu. Kuatkanlah diriku dan berdayakanlah aku agar mampu menyerahkan segala penghalang yang ada kepada Yesus. 
Amin.

Pesan Natal Bersama Tahun 2015 KWI - PGI

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah


PESAN NATAL BERSAMA TAHUN 2015
KWI – PGI

TEMA Natal yang disusun bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2015 “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah”. Dalam pesan Natal bersama itu, para pemimpin Gereja mengajak umatnya untuk bersyukur atas kehadiran Sang Juruselamat.

Selain itu, Gembala Umat juga mengingatkan umatnya bahwa pemahaman kita tentang keluarga tidak hanya terbatas pada keluarga inti (ayah, ibu dan anak), tetapi kita juga ada bersama dengan keluarga lain dalam satu kesatuan sebagai Umat Allah. Sebagai Keluarga Umat Allah kita mendiami bumi sebagai Rumah Bersama.

Hidup bersama sebagai Keluarga Allah mengandung pesan bahwa semua manusia adalah keluarga. Dengan tanggung jawab yang sama menjaga hidup bersama agar semakin baik bagi manusianya maupun bagi ciptaan lain. “Peristiwa Natal mengingatkan kita untuk hidup sebagai keluarga Allah…kita mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik”.

Tanggung Jawab Warga Negara dan Bangsa
Ajakan para pimpinan Gereja ini diwujudkan dengan komitmen bersama umat kristiani berteguh hati melaksanakan tujuan kehadiran Allah di dunia yakni menciptakan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Lebih jauh, hal ini dapat diwujudkan dengan menghayati kerukunan Allah yang damai, rukun, adil dan saling menerima dalam keanekaragaman.

Berkaitan dengan menjaga keutuhan alam ciptaan, para uskup bersama anggota PGI bergerak bersama umatnya memerangi segala upaya merusak alam. “Kita harus mengupayakan bumi yang satu ini sebagai ‘rumah kita bersama’”.

Hidup sederhana dan jujur di tengah pengaruh globalisasi keserakahan dan ketidak pedulian. Umat Kristiani Indonesia diajak untuk mengendalikan diri dan berani mengatakan cukup, bersedia untuk hidup berbagi dan menentang sistem dan struktur yang merampas hak orang lain.


17 November 2015

Setiap Orang Yang Mempunyai, Kepadanya Akan Diberi

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 18 November 2015)
OSCCap. (Ordo Klaris Kapusin): Peringatan B. Solomea, Perawan 

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15 

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Dalam episode sebelum ini, Yesus memproklamasikan keselamatan sebagai suatu realitas hari ini juga, keselamatan yang telah datang ke  rumah Zakheus “hari ini” karena tanggapan penuh iman dari sang kepala pemungut cukai/pajak. Sekarang, Yesus masih berbicara dengan audiensi yang sama, dan dalam kesempatan itu Dia mengajar dengan menggunakan “perumpamaan tentang uang mina”. Lewat perumpamaan ini, Yesus mengembangkan dua buah pemikiran. Pertama, Yesus berbicara tentang sebuah Kerajaan yang tidak akan muncul dalam waktu dekat, namun yang hanya akan muncul ketika seorang bangsawan bepergian ke sebuah negeri yang jauh untuk menerima peneguhan sebagai raja dan kemudian kembali untuk menghakimi mereka yang telah menolak dirinya. Kedua, selama ketidakhadirannya, bangsawan itu mempercayakan para hambanya untuk mengkapitalisasikan uang mina yang telah mereka terima; mereka yang terbukti produktif akan diberikan imbalan, sedangkan mereka yang tidak berusaha untuk menggunakan dan mengembangkan uang mina yang telah mereka terima akan ditolak.

Dalam introduksi editorialnya terkait perumpamaan ini, Lukas menjelaskan bahwa Yesus memilih untuk menceritakan perumpamaan ini karena Dia sudah dekat Yerusalem, dan karena para pendengar-Nya mempunyai anggapan bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi populer, perwujudan Kerajaan Allah akan mengambil tempat di Yerusalem dalam waktu dekat; namun Lukas berargumentasi bahwa Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk membaurkan/mengacaukan ekspektasi-ekspektasi akan parousia yang kedatangannya sudah pasti dengan menunjuk kepada suatu “penangguhan”. Yesus justru sedang dalam perjalanan pergi, bukan datang; dan krisis yang akan mengambil tempat dalam waktu dekat adalah kematian Yesus sendiri.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Ayat-ayat 12, 14, 15a, dan 27 dari bacaan Injil kita hari ini berbicara mengenai perpisahan Yesus yang sudah dekat saatnya, yang tidak akan diakui sebagai Raja sampai kedatangan-Nya kembali. Sementara Dia pergi, umat-Nya sendiri akan membuat susah misi-Nya dengan menolak diri-Nya, namun mereka akan menghadapi penghakiman pada saat kedatangan-Nya kembali. Ayat-ayat lainnya dapat membentuk sebuah perumpamaan lengkap yang serupa dengan “perumpamaan tentang talenta” (Mat 25:14-30).

Perumpamaan ini dibuka dengan cerita tentang seorang bangsawan yang melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk menerima kekuasaan sebagai seorang raja. Hal ini menunjukkan kesejajaran mencolok dengan sejarah pada zaman itu. Herodus Agung harus pergi ke Roma sebelum martabatnya sebagai raja dikukuhkan oleh kaisar di Roma. Ketika dia wafat pada tahun 4 SM, kerajaannya dibagi-bagi antara para anggota keluarganya sesuai dengan fatwa warisnya, namun pembagian tersebut tidak diakui sebelum dikukuhkan oleh Kaisar Agustus. Arkhelaus pergi ke Roma untuk menyampaikan klaim dirinya sebagai raja Yudea. Namun sebuah delegasi sebanyak 50 orang Yahudi juga pergi Roma dengan tujuan membujuk Kaisar Agustus untuk menunda pengangkatan Arkhelaus. Delegasi tersebut berhasil sebagian: kepada Arkhelaus diberikan separuh dari kerajaan tetapi kepadanya tidak diberikan gelar raja; sisa kerajaan ex ayah mereka kemudian dibagi dua antara Filipus dan Antipas.

Dalam perumpamaan ini sang bangsawan memanggil 10 orang hambanya dan mempercayakan kepada masing-masing hambanya uang dengan jumlah uang yang sama, yaitu 1 mina – upah seorang pekerja untuk 3 bulan. Sang bangsawan menginstruksikan para hambanya itu untuk menggunakan uang mina tersebut untuk usaha, dan dia percaya kepada cara mereka masing-masing menjalankan uang mina itu. Lalu fokus-nya bergeser dari para hambanya ke orang-orang yang mengutus sebuah delegasi untuk menghentikan kenaikan sang bangsawan ke takhta sebagai raja. Akhirnya sang bangsawan kembali ke negerinya sebagai raja; ternyata para anggota delegasi tidak berhasil melaksanakan misi mereka.

Raja yang baru ini memanggil para hambanya untuk melihat bagaimana mereka telah menjalankan uang mina yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Muncullah 3 orang hambanya. Dua hamba yang pertama telah meresapi semangat sang bangsawan yang biasa mengambil risiko untuk menumbuh-kembangkan uangnya. Mereka berhasil membuat laba sebesar 900% dan 400%, dan mereka pun diberi ganjaran setimpal dengan tanggung jawab lebih lagi. Sekarang hamba yang ketiga …… yang menyimpan uang mina yang dipercayakan kepadanya dalam sapu tangan. Hamba yang ketiga ini mencoba untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya dengan fokus pada kekejaman tuannya, bukan kebodohan atau kemalasan dirinya sendiri. Dia menempatkan masalahnya pada sang raja, tidak pada dirinya sendiri. Sang raja kemudian menghukum hamba ketiga ini sesuai dengan pandangan hamba itu sendiri: jika dia memandang tuannya begitu, mengapa dia tidak melakukan hal yang paling mudah, yaitu memperoleh bunga dari rentenir yang menjalankan uang yang dipercayakan kepadanya?

Kemudian Yesus berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ: “Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu” (Luk 19:24). Sekilas keputusan sang raja tidak adil. Tidak heranlah apabila mereka memprotes karena yang sudah mempunyai banyak malah ditambahkan dengan jumlah yang sedikit, hal mana akan menyebabkan hamba yang ketiga tidak mempunyai apa-apa lagi. Orang-orang itu berkata: “Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina” (Luk 19:25). Jawab sang raja: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil” (Luk 19:26). Pelajaran apa yang  dapat kita tarik dari keputusan sang raja ini?

Hamba yang ketiga masih saja tidak mampu melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan uang mina milik tuannya, dan bahwa urusan bisnis yang penuh risiko adalah urusan saling percaya (mutual trust). Hamba ketiga ini tidak berjalan di atas azas saling percaya ini; melainkan dia tetap berdiam pada rasa takutnya. Orang-orang yang berjalan berdasarkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka akan diberi ganjaran dengan lebih lagi. Sebaliknya mereka yang kejahatan rohnya sedemikian rupa, sehingga mereka menyimpan kepercayaan yang diberikan kepada mereka sungguh tidak pantas menerima ganjaran. Akhirnya, sang raja memindahkan perhatiannya kepada para musuhnya yang menentang pengangkatannya dan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh para musuhnya tersebut di depan matanya (Luk 19:27).

Perumpamaan ini mengindikasikan bahwa perpisahan Yesus dengan para murid-Nya terasa tidak lama lagi, setelah mana para murid-Nya (termasuk kita) akan menjalani masa penantian yang tidak seorang pun tahu panjang atau pendeknya, sebelum kedatangan-Nya untuk kedua kali pada saat mana akan berlangsung penghakiman terakhir atas diri kita semua. Yesus telah mengambil risiko untuk syering dengan para murid-Nya kebaikan-kebaikan-Nya, kehidupan-Nya sendiri, kepercayaan-Nya sendiri, nilai-nilai-Nya sendiri. Apa jadinya apabila para pengikut-Nya tidak mau membuat segala apa yang disyeringkan itu bertumbuh dan bekerja?

Ref. Pada waktu bangun aku menjadi puas dengan hadirat-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 17:1.5-6.8b.15)
  1. Dengarkanlah Tuhan, pengaduan yang jujur, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, doa dari bibir yang tidak menipu.
  2. Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidaklah goyah. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.
  3. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

DOA: 
Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali kelak, biarlah Roh Kudus-Mu terus membentuk kami sehingga menjadi mau dan mampu untuk membuat segala kebaikan, hidup, kepercayaan dan nilai-nilai yang Engkau syeringkan dengan kami, menjadi bertumbuh dan bekerja dalam diri kami masing-masing. Dengan demikian kami pun dapat turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan Allah.
Amin.