Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

02 Februari 2016

Rabu, 03 Februari: Pekan Biasa IV (H) - St. Blasius; St. Ansgarius; St. Gilbertus

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Bacaan I : 2Sam. 24:2.9-17
Bacaan Injil : Mrk. 6:1-6


Setelah banyak berkeliling di Galilea, Yesus kembali ke tempat asalnya Nazaret dan pergi ke sinagoga untuk mengajar pada hari Sabat. Seperti yang telah dilakukan-Nya di mana-mana, Yesus mengumumkan kabar baik bahwa Kerajaan Allah akhirnya telah datang ke dalam dunia. Tidak mengherankanlah apabila penduduk Nazaret menjadi kaget mendengar kata-kata hikmat yang diucapkan oleh Yesus. Mereka telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya di tempat-tempat lain dan juga tentang kuat-kuasa yang telah ditunjukkan oleh-Nya atas kekuatan-kekuatan dahsyat seperti ombak besar dan angin topan, roh-roh jahat, sakit-penyakit, bahkan kematian/maut itu sendiri.

Mengapa orang-orang Nazaret – yang telah mengenal Yesus untuk kurun waktu yang relatif lama – tidak mau menerima sentuhan kesembuhan-Nya? Bahkan Yesus sendiri pun “merasa heran karena mereka tidak percaya” (Mrk 6:6). Apakah dilema mereka? Mengapa mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam diri Yesus yang bertumbuh dari anak-anak menjadi dewasa di tengah-tengah mereka? Seperti juga dalam hal-hal yang lain, jawabannya terletak pada kekerasan hati. Penduduk Nazaret tidak mau mengakui kenyataan dan malah menentang Yesus karena mereka mengenal-Nya hanya sebagai seorang tukang kayu. Bagaimana mereka dapat menerima Dia sebagai seorang nabi, apalagi sebagai Anak (Putera) Allah?

Yesus merasa senang apabila kita mengakui siapa diri-Nya dan siapa kita di hadapan-Nya. Yesus mengambil hukuman yang diperuntukkan bagi kita agar kita dapat hidup bersama-Nya. Yesus juga rindu agar kita merangkul hidup ini. Memang benar bahwa kita dapat hidup tanpa harus berpaling kepada Tuhan, namun kehidupan macam apa yang kita miliki seperti itu? Kehampaan. Mengapa? Karena kita tidak sadar akan Kasih yang menciptakan kita dan menopang kita sampai hari ini. Kita dipisahkan dari sang Kehidupan yang terpaku pada kayu salib guna membebaskan kita dari kuasa kegelapan.

Bacaan Injil hari ini menantang kita semua untuk melakukan evaluasi atas kedalaman iman kita kepada Tuhan. Dapatkah kita memperkenankan Dia menjadi efektif seperti yang diinginkan-Nya dalam kehidupan kita? Yesus mengundang kita untuk beriman sepenuhnya kepada diri-Nya. Sepanjang Kitab Suci kita dapat membaca bagaimana orang-orang yang percaya kepada kasih-Nya yang penuh kuasa menjadi sembuh, bebas dari kuasa roh-roh jahat, dan dilindungi oleh-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Roh Kudus – yang dapat memimpin kita kepada segenap kebenaran – agar memberikan iman yang sama kepada kita masing-masing.


Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, ampunilah semua dosa kesalahanku.
Ayat. (Mzm 32:1-2.5-7)

  1. Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu!
  2. Akhirnya dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata, "Aku akan menghadap Tuhan." Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.
  3. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi ditimpa kesesakan; kendati banjir besar terjadi ia tidak akan terlanda.
  4. Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan. Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.


Renungan


Pertobatan Daud membawa manfaat bagi seluruh bangsa Israel. Ia mengadakan pertobatan dengan mempersembahkan suatu korban bakaran. Segala sesuatu yang baik, yang kita lakukan dengan nyata, membuktikan bahwa kita sungguh bertobat. Pertobatan tidak terjadi di Nazareth, tempat Yesus berasal, karena orang terhalang oleh status dan asal muasal Yesus, yang berasal dari sebuah keluarga kecil nan sederhana, yang tidak hebat menurut pandangan manusia. Mata hati mereka juga tertutup oleh sebuah persepsi bahwa Mesias itu berasal dari keturunan raja dan tinggal di istana, bukan di kampung kecil Nazareth.

Bagi kita, pertobatan itu suatu iman yang diwujudkan salah satunya dengan bertobat. Kita tidak hanya percaya bahwa Tuhan mengampuni dosa, tetapi kita mewujudkannya dalam semangat kembali kepada Tuhan, menyesali dosa dengan nyata dan dengan demikian mewartakan bahwa Tuhan memang menghendaki pertobatan dan Ia dengan penuh kasih akan menerima orang yang bertobat. Sikap setengah hati tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sabda Tuhan mengajak kita bertobat sepenuh hati, karena percaya bahwa Allah berkenan atas orang yang tulus memperbaiki hubungan dengan Allah.



Santo Blasius, Uskup dan Martir
Blasius adalah seorang Uskup di Sebaste, di wilayah Armenia, Asia Kecil. Ia dikenal sebagai seorang ahli Fisika dan seorang gembala yang baik hati. Pada masa pemerintahan Kaisar Licinius, ia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian pada tahun 316, ia dihukum mati.
Menurut cerita rakyat, ia berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki dari kematian karena tulang ikan yang tersangkut pada tenggorokannya. Doa dan berkat Santo Blasius melepaskan anak itu dari bahaya kematian. Doa dan berkat Santo Blasius ini terus dilestarikan oleh Gereja hingga dewasa ini. Pada setiap tanggal 3 Februari , Pesta Santo Blasius, umat Katolik menghadiri misa Kudus untuk menerima berkat santo Blasius dari imam-imamnya.
Berkat yang diberikan imam-imam disertai doa berikut: Moga-moga Allah karena perantaraan Santo Blasius, Uskup dan Martir, membebaskan dikau dari penderitaan tenggorok dan dari kemalangan lainnya. Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Santo Ansgarius, Uskup
Ansgarius lahir pada tahun 801 di daerah Amiens, Prancis. Ia dikenal sebagai seorang Uskup dan pewarta Injil di daerah Skandinavia. Sebagian besar masa hidupnya ia manfaatkan untuk mewartakan Injil Kristus kepada kaum kafir Norsemen yang bengis dan liar. 

Semasa mudanya, Ansgerius menghayati suatu cara hidup yang baik seturut kebiasaan-kebiasaan Kristen yang berlaku pada masa itu. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang rahib Benediktin. Untuk itu, ia masuk biara Benediktin di Corbie dan menjadi asuhan Paschasius Radbertus. Segera setelah itulah, ia mengucapkan kaulnya, ia bersama beberapa orang rekannya diutus ke Wesphalia untuk mendirikan sebuah biara baru diantara orang-orang Saxon di Jerman Utara. Biara baru ini dinamakan biara Corvey atau Corbie Baru. Dari sinilah, Ansgarius diutus untuk mewartakan Injil ke berbagai wilayah wilayah yang masih kafir. 

Ia pernah tinggal di Istana kaisar Loius, putera Karel Agung. Disini ia berhasil mengajak raja Harold dari Denmark untuk memeluk agama Kristen. Ajakan ini disambut dengan baik oleh Raja Harold. Setelah kembali ke negerinya, Harold mengundang Ansgarius untuk memulai karya misinya diantara kaum Danes yang masih kafir. Di Denmark, Ansgarius mewartakan Injil dan berhasil mendirikan sebuah sekolah. 

Dari Denmark, ia berlayar ke Swedia dan tiba di Birka, ibukota Swedia yang lama. Ia diterima dengan baik oleh raja Bjorn dan para dewan kota. Herigar, salah satu anggota dewan mendirikan sebuah gereja di wilayahnya. Itulah gereja pertama di Swedia. 

Sekembalinya ke Jerman, Ansgarius ditabhiskan menjadi Uskup kota Hamburg dan diangkat menjadi utusan Paus Gregorius IV untuk menjalankan misi Gereja di wilayah Jerman bagian Utara. Sebagai seorang Uskup, Ansgarius menghadapi banyak masalah, terutama dari kaum Norsemen yang kembali kepada praktek-praktek kekafiran: menyembah dewa Odin dan Thor. Meskipun demikian, Ansgarius tetap teguh dalam karyanya mewartakan Injil. Ia mendirikan beberapa Gereja di Swedia dan menempatkan seorang imam disana untuk menggembalakan orang-orang yang telah menjadi Kristen. 

Ansgarius adalah salah satu perintis pewartaan Injil di antara suku Skandinavia, Swedia dan Denmark. Ia membuka jalan bagi para misionaris di kemudian hari, seperti Santo Sigfridus, yang membawa orang-orang itu ke dalam ke Kristenan pada abad ke 11. Ansgarius meninggal sebagai seorang Uskup pada tahan 865 di Bremen, Jerman.


Santo Gilbertus
Gilbertus lahir di Sempringham, Lincolnshire, Inggris pada tahun 1083. Setelah ditabhiskan menjadi imam, ia ditempatkan sebagai pastor paroki di Sempringham. Disamping tugas-tugas lainnya, ia mengajar sebagai seorang guru selama beberapa tahun. Perhatiannya pada nasib orang-orang miskin sangat besar. Sebagian besar penghasilannya dibagikan kepada orang-orang yang malang itu, sedang dia sendiri mencukupkan dirinya dengan sejumlah kecil uang yang masih tersisa di kantongnya. 

Di kalangan umatnya di Sempringham, Gilbertus dikenal sebagai seorang imam yang saleh. Di bawah bimbingannya, beberapa orang wanita membentuk satu komunitas. Kelompok ini terus berkembang dan bertambah anggotanya, termasuk kaum pria. Gilbert dengan tekun membimbing komunitas ini menjadi sebuah komunitas yang tetap dan kokoh menurut aturan hidup Santo Benediktus dan Kanon Santo Agustinus. 

Kemudian komunitas ini dijadikan sebuah ordo baru dengan nama Ordo Gilbertin. Gilbert adalah pemimpinnya. Ordo ini dibagi dalam tiga kelompok yakni, kelompok suster, bruder dan imam. Mereka tinggal di biara masing-masing tetapi tetap bersatu dalam karya pelayanan di bidang kesehatan, penampungan dan pendidikan anak- anak yatim piatu dan pelayanan orang-orang miskin dan para tawanan. 

Pada umur 90 tahun, Gilbert ditangkap dan dipenjarakan karena dituduh mengungsikan Thomas dari Canterbury. Tuduhan ini tidak pernah disanggahnya sedikitpun meskipun ia tidak pernah terlibat di dalam peristiwa yang dituduhkan padanya. Ia meninggal dunia pada tahun 1189 dan di gelari Kudus pada tahun 1202.
DOA:
Ya Allah, berikanlah aku hati yang berserah pada kebaikan-Mu. Kiranya hati yang bersih membuat aku mampu maju dalam hidup rohani dan hidup bersama, dan akhirnya dapat menjadi berkat bagi sesama. Amin.

01 Februari 2016

Selasa, 02 Februari 2016 -- Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

“Hanya dalam kebenaranlah kasih bersinar terang, hanya dalam kebenaran kasih dapat dihidupi secara otentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai kepada kasih.“ – Paus Benediktus XVI

Tengoklah! Tuhan akan datang dengan kekuatan besar, akan bersinarlah mata semua orang yang mengabdi kepada-Nya, alleluya.


Kami telah menerima kasih setia-Mu, ya Allah, dalam bait-Mu yang kudus. Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.
(Mzm 48:10-11)

Doa

Allah Bapa yang Mahakuasa dan kekal, hari ini Putra Tunggal-Mu yang telah menjadi manusia seperti kami, dipersembahkan kepada-Mu di kenisah. Di hadapan hadirat-Mu yang agung kami mohon dengan rendah hati, sucikanlah hati dan budi kami agar kami pun menjadi persembahan yang pantas bagi-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Maleakhi (3:1-4)

"Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya."

Beginilah firman Tuhan semesta alam, “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya. Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya, Ia datang. Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada Tuhan. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 3/4, PS 803
Ref. Bukalah pintu hatimu, sambutlah Raja Sang Kristus.
Ayat. (Mzm 24:7.8.9.10; R: 10b)
  1. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!
  2. Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!
  3. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan.
  4. Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (2:14-18)

"Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai."
Saudara-saudara, orang-orang yang dipercayakan Allah kepada Yesus adalah anak-anak dari darah dan daging. Maka Yesus menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian, Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham. Itulah sebabnya dalam segala hal Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Agung yang menaruh belas kasihan, yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 4/4, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 2:32)
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Alleluya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:22-40) (Singkat: 2:22-32)

"Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel; Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Ada juga di situ seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

InilahI Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

“Begitu banyak umat terbaptis kehilangan identitas dan keanggotaannya : mereka tidak tahu konten iman yang esensial atau mereka berpikir bahwa mereka bisa menumbuhkan iman terpisah dari perantaraan Gerejawi. Dan sementara banyak orang melihat dengan ragu pada kebenaran-kebenaran yang diajarkan Gereja, yang lainnya mereduksi Kerajaan Allah menjadi suatu nilai-nilai besar, yang tentu berhubungan dengan Injil, tapi tidak lagi berhubungan dengan inti iman Kristen…Dalam konteks ini, bagaimana kita menghidupi tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita oleh Tuhan?” – Paus Benediktus XVI


Renungan
Kebenaran bersifat mutlak. Yesus datang ke dunia untuk membawa kebenaran. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, kita diselamatkan. Sehingga, kedatangan Kristus, Sang Mesias, sangat ditunggu oleh orang yang ingin menginginkan keselamatan.

Pernyataan Roh Kudus melalui Simeon menyiapkan Maria dan Yusuf. Maria mengerti rencana Tuhan sedikit demi sedikit sebagaimana Tuhan membukanya setahap demi setahap. Simeon adalah orang benar yang percaya akan janji Allah. Dia menanti di Bait Allah hingga bertemu Sang Mesias.

Hana juga orang saleh dan rendah hati yang menantikan kebenaran. Orang saleh memang selalu menantikan kebenaran. Hal ini kontras dengan orang bebal yang melawan dan menolak kebenaran. Karena itu, kebenaran dapat menimbulkan perbantahan dan koflik. Orang yang tidak mau mengikuti kebenaran pasti terganggu lalu menentang. Kebenaran menyingkapkan apa yang baik dan buruk. Kebenaran itu seperti terang. Kotoran yang kecil sekali pun tampak jelas dalam terang.

Yesus pun ditolak karena menyatakan kebenaran. Sebagaimana dinubuatkan oleh Simeon, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Luk 2:34-35).

Ketika kebenaran datang, orang bebal melihat keburukan diri. Orang tidak suka mengakui atau melihat kesalahan dan keburukan sendiri. Karena itu reaksi pertama adalah menolak. Yesus mengalami penolakan karena menyatakan kebenaran. Orang yang menyatakan apa yang benar juga mengalami penolakan. Namun, barangsiapa telah menemukan kebenaran wajib menyampaikannya juga kepada orang lain, seperti halnya Hana berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan (ay. 38). Inilah pewartaan kabar gembira.

Kebenaran melepaskan kita dari belenggu dosa, ketakutan dan kekhawatiran karena percaya pada perlindungan-Nya. Hidup dalam kebenaran membawa damai di hati. Kita perlu terus membuka diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus agar kita setia sampai akhir.

Mari kita menanggalkan kekerasan hati dan menerima kebenaran walau menyakitkan. Bertobat dan hidup benar adalah persembahan yang menyenangkan hati Tuhan.


Berita Kalvari - Minggu 31 Januari 2016





Sosialisasi Bahan APP 2016

https://drive.google.com/file/d/0B-v9BnuLUS_EV0hSSmc3ak1DVFU/view?usp=sharing

Kalender Liturgi Bulan Februari 2016

http://www.imankatolik.or.id/kalender.php?b=2&t=2016