Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

03 Desember 2015

Percaya Dan Melihat

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 4 Desember 2015)

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup” (Mzm 27:13).

Percaya dan melihat – ini adalah tanda-tanda hidup Kristiani. Berabad-abad lamanya sebelum kedatangan Kristus, nabi Yesaya telah menggambarkan masa mesianis sebagai karya-karya Tuhan yang dipenuhi kejutan dan menakjubkan: “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat” (Yes 29:18). Menyembuhkan orang buta jelas merupakan karya Allah, bukan pekerjaan manusia. Namun, agar hal tersebut menjadi kenyataan, orang-orang harus percaya dan membuka diri agar karya Allah tersebut dapat dilakukan.

Sekarang, marilah kita mempertimbangkan dan merenungkan tanggapan Yesus terhadap dua orang buta dalam bacaan Injil di atas yang berseru-seru dengan suara keras memohon belas kasihan dari “Anak Daud”, sebuah gelar mesianis yang mengakui kehadiran Allah dalam diri-Nya. Mula-mula Yesus bertanya kepada kedua orang buta tersebut: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28). Dua orang buta itu memang harus memiliki iman jika mereka sungguh ingin dapat melihat. Pemulihan penglihatan mereka tergantung kekuatan iman-kepercayaan mereka. Yesus menyentuh mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka (Mat 9:29-30). Peristiwa ini sungguh merupakan kejadian yang mengejutkan dan sekaligus menakjubkan!

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Betapa mengagumkan iman dua orang buta itu, namun juga sungguh mengejutkan bagi kita yang mau meniru iman kedua orang itu kepada Yesus. Yesus telah menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah, dan segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang kita lihat dalam sejarah Kekristenan adalah tanda-tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mat 4:17; bdk. Mrk 1:15). Walaupun demikian, kita-manusia tidak selalu mempunyai ekspektasi bahwa Yesus akan atau mau bekerja dalam hidup kita. Penyembuhan/kesembuhan adalah suatu tanda bahwa Kerajaan Allah telah menerobos ke dalam diri kita. Apabila kita mempraktekkan iman, maka kita membuka diri bagi karya kerajaan-Nya dalam hidup kita, apa pun atau bagaimana pun pengungkapan karya tersebut.

Ia yang datang untuk menyelamatkan kita ingin menyelesaikan karya penyelamatan-Nya dalam diri kita. Marilah kita membuka hati kita bagi-Nya pada hari ini dan biarlah Kerajaan Allah berakar dalam hati kita. Marilah kita mengakui kuat-kuasa-Nya selagi kita membaca dalam Kitab Suci tentang berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya ketika hidup di atas bumi dan menerima dengan tulus apa yang telah diajarkan Gereja dari abad ke abad. Marilah kita bertindak dalam iman.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 865
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku atau Tuhan, Dikaulah penyelamatku.
Ayat. (Mzm 27:1.4.13-14)
  1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
  2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
  3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!

DOA: 
Tuhan Yesus, Anak Daud, Mesias, kasihanilah kami. Engkau adalah terang dunia; terangilah kegelapan hati kami dan sembuhkanlah kebutaan kami. Kuatkanlah iman kami selagi Engkau membawa terang-Mu kepada kami. 
Amin.



SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA (SAGKI) IV

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/






Pada tanggal 2 – 6 November 2015 telah berlangsung dengan tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil. Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk”. Peserta terdiri dari wakil-wakil umat, imam, biarawan/biarawati dan para uskup dari seluruh Indonesia. Syukur bahwa sidang itu berlangsung dengan sangat baik, menjadi kesempatan untuk berdoa bersama, bersyukur, saling meneguhkan dan memperkaya kehidupan. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta yang telah mendukung pertemuan ini dengan doa, derma, tenaga dan pikiran, keterlibatan sehingga pertemuan ini sungguh bermakna.

Tema mengenai keluarga diambil, karena Gereja Katolik Indonesia ingin sehati seperasaan dengan Gereja seluruh dunia. Selama dua tahun berturut-turut (2014 dan 2015) tema sinode adalah keluarga. Keluarga adalah sel masyarakat. Sehat atau tidak sehatnya masyarakat ditentukan sebagian besar oleh keluarga, karena keluarga adalah “sekolah kemanusiaan yang pertama dan utama”.

Di dalam keluarga, seharusnya semua anggotanya berkembang menjadi pribadi yang dewasa, matang, utuh, berwatak mulia. Sengaja digunakan kata “pribadi”. Kata “pribadi” menerjemahkan kata bahasa Latin “persona” yang terdiri dari dua kata “per” (sarana, melalui) dan “sonus” (suara, gema, “Sang Sabda”). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa pribadi manusia adalah dia yang menggemakan Sang Sabda, citra Allah. Oleh karena itu St. Ireneus dapat mengatakan bahwa kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup.

Di tengah-tengah berbagai tantangan baru yang semakin beragam, semoga keluarga-keluarga tetap bertekun dalam panggilan dan perutusan untuk menjadikan keluarga sebagai jalan menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani. Salam dan berkat Tuhan untuk Anda, keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta. 



*************************************************************************************************

Yang dapat dilakukan oleh keuskupan dalam upaya meningkatkan, mencerdaskan dan memberdayakan “Pastoral Keluarga" :



  1. Menggiatkan kembali kunjungan pastoral keluarga dengan perhatian khusus bagi keluarga-keluarga yang berkebutuhan khusus sebagai wujud dari kerahiman Tuhan
  2. Mendorong terselenggaranya bina iman persiapan perkawinan dan pendampingan keluarga secara berjenjang dan berkelanjutan, termasuk pendidikan doa dan baca Kitab Suci
  3. Menumbuhkembangkan kepedulian kaum muda akan pentingnya bina iman Kristiani menuju persiapan perkawinan yang tangguh, termasuk penciptaan lapangan kerja
  4. Menggerakkan komisi keluarga untuk mengadakan bina iman keluarga di paroki-paroki dalam kerjasama dengan kelompok kategorial yang bergiat dalam hidup keluarga, seperti ME dan CFC
  5. Menyediakan anggaran bagi bina iman keluarga dalam upaya mendorong kepedulian bersama menuju kerukunan hidup keluarga yang terbuka dan aktif menghayati sukacita Injil
  6. Bila mungkin, menetapkan hari keluarga sekeuskupan sebagai kesempatan untuk memperkaya penghayatan nilai-nilai hidup berkeluarga
  7. Membangun gerakan solidaritas Kristiani dalam Gereja Rumah-tangga guna memberdayakan komunikasi sosial ekonomi, seperti gerakan kooperatif dalam usaha tani, nelayan, ternak dan usaha lain
  8. Menumbuhkan ketaatan Kristiani dalam hidup keluarga, agar bebas dari kekerasan, bebas dari diskriminasi dan bebas dari korupsi
  9. Menjalin kerjasama antarumat beragama dalam membangun keluarga sejahtera dan rela berbagi sebagai wujud persaudaraan yang merukunkan
  10. Menggiatkan pelayanan tribunal gerejawi bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan pendampingan, agar mereka semakin mengalami sukacita dalam perjalanan gerejawi bersama
  11. Mendorong terciptanya komitmen misioner dalam keluarga, agar sukacita Injil semakin tersebar dalam lingkungan hidup setempat, termasuk menanggapi panggilan khusus (imam, biarawan-biarawati) bagi anak-anaknya
  12. Membangun kebiasaan hidup doa, suka berderma serta gemar membaca Kitab Suci dalam keluarga guna memantapkan Gereja Rumah-tangga
Pada akhirnya, Gereja Katolik di Indonesia bersyukur kepada Allah Tritunggal yang mahakudus, yang menganugerahkan rahmat berlimpah demi kekudusan keluarga-keluarga Katolik di dalam dunia yang cepat berubah dengan dampak-dampak yang menuntut perjuangan. Ketangguhan iman Kristiani sebagai ketaatan pada kehendak Allah pasti akan memperkuat dan memperbesar sukacita Injil dalam perjalanan hidup keluarga yang berkarakter kemuridan Yesus Kristus. Itulah makna sukacita Injil dari Gereja Rumah-tangga yang tercipta dalam lingkungan basis gerejawi.


02 Desember 2015

Amanat Yang Diberikan Yesus Kepada Para Murid-Nya

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius – Kamis, 3 Des. 2015) 


Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20)

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Namun kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembalinya Dia kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan. Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri.

Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkrit dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran.

Bersama-sama dengan Santa Theresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius dinilai sebagai misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

Mazmur Tanggapan
Ref. Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.
Atau. Alleluya
Ayat. (Mzm 118:1.8-9.19-21.25-27a)
  1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia! Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan!
  2. Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.
  3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali pada tanduk-tanduk mezbah.

DOA: 
Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. 
Amin.

Mukjizat Ekaristi Kudus

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 2 Desember 2015)
OSCCap.: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris


Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37)

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10; Mazmur Tanggapan: 23:1-6

Allah kita adalah Allah yang jauh dari cukup! Seperti Yesus memberi makan dan membuat kenyang ribuan orang hanya berdasarkan beberapa roti dan ikan, maka Dia pun ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam setiap kali kita menerima Dia dalam Ekaristi.

Marilah kita merenungkan hal berikut ini: Pada setiap perayaan Ekaristi (Misa Kudus), Yesus mempersiapkan suatu pesta perjamuan bagi kita, pesta yang berlimpah dengan makanan lezat dan anggur bermutu (Yes 25:6). Perjamuan yang kita rayakan pada setiap Misa bukanlah sekadar peringatan/kenangan akan Perjamuan Terakhir, melainkan juga suatu perayaan kemenangan Yesus di atas kayu salib. Ketika kita makan tubuh dan minum darah-Nya, kita mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/

Dalam setiap Misa, kita merayakan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Jikalau Yesus tidak mati di kayu salib, Ia tidak mengalahkan dosa. Jikalau Dia tidak bangkit, kematian akan tetap berkuasa atas diri kita. Namun Yesus telah telah mengalahkan maut untuk selamanya! Sekarang Yesus Kristus memerintah dalam kemuliaan, dan Ia ingin menghapus setiap tetes air mata kita, membersihkan nurani kita, dan membuang segala aib kita (Yes 25:8). Inilah caranya bagaimana Dia memuaskan kita. Melalui mukjizat Ekaristi, Yesus mengenyangkan diri kita jauh melampaui apa yang mampu diberikan oleh makanan dan minuman biasa.

Berpesta pada meja perjamuan Allah memiliki nilai kekal-abadi. Makanan yang ditawarkan Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memampukan kita menerima warisan yang telah disediakan-Nya bagi kita. Mengetahui hal ini dapat memberikan kepada kita harapan yang besar. Tetesan air mata kita dihapuskan bukan karena kita tidak mempunyai masalah dalam dunia ini, melainkan karena Yesus adalah Saudara kita. Dia akan melakukan apa saja untuk menguatkan diri kita dan membuat kita menjadi semakin berbuah dari hari ke hari. Yesus adalah penjaga para saudari dan saudara-Nya, dan Ia sungguh menjaga kita manakala kita menerima Dia dalam Komuni Kudus. Rasa takut kita akan menyusut karena Ekaristi. Rasa cemas dan khawatir kita dapat hilang karena Ekaristi. Kita akan mengalami penghiburan karena kasih Allah dan pengalaman kemenangan atas berbagai tantangan yang selama ini menindih kita. Baiklah kita senantiasa mengingat bahwa Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi adalah suatu peringatan atau kenangan, dan pada saat sama juga merupakan suatu pengalaman akan kemenangan Yesus di atas kayu salib.

Saudari dan Saudaraku, sebagaimana ribuan orang lapar yang dipuaskan/dikenyangkan oleh Yesus melalui mukjizat penggandaan roti dan ikan, kita pun dapat dibuat kenyang oleh-Nya, baik secara badani maupun rohani.

Mazmur Tanggapan, do = es, 3/2, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, tak'kan kekurangan aku
Ayat. (Mzm 23:1-3a. 3b-4. 5. 6; 2/2)
  1. Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang dan menyegarkan daku.
  2. Ia menuntun aku di jalan yang lurus, demi nama-Nya yang kudus. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
  3. Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.
  4. Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

DOA: 
Tuhan Yesus, aku menginginkan Engkau, lebih dan lebih lagi. Berikanlah kepadaku tubuh dan darah-Mu yang akan mengenyangkan diriku, baik secara fisik maupun secara rohani. Aku percaya bahwa Engkau akan memenuhi setiap kebutuhanku. 
Amin.

01 Desember 2015

Yesus Akan Menyatakan Diri-Nya Kepada Kita, Apabila ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Selasa, 1 Desember 2015)


http://theresia-patria-jaya.blogspot.com/


Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:21-24)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17

“Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat” (Luk 10:23).

Dalam tulisan yang lain, saya pernah mengatakan bahwa Yesus adalah seorang yang senantiasa memuji-muji Allah dan kebesaran-Nya – Dia adalah seorang man of praise. Hal ini ditunjukkan dengan baik dan indah sekali oleh Lukas dalam bacaan Injil hari ini.

Beberapa saat sebelum Ia menghaturkan doa syukur kepada Allah ini, Yesus telah meratapi “nasib” kota-kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (Luk 10:13-16). Tiga kota ini telah menolak hal yang paling berharga di dalam dunia: kasih Allah yang penuh keajaiban. Sebaliknya mereka memilih untuk menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri. Inilah sebabnya mengapa Yesus bergembira dalam Roh Kudus karena sikap tulus seperti anak kecil yang dipertunjukkan oleh para murid-Nya. Tidak seperti kota-kota yang tidak percaya ini, para murid-Nya telah belajar untuk tidak menggantungkan diri pada “kehebatan” mereka sendiri, melainkan pada janji-janji Allah.

Bahkan pada hari ini pun Yesus terus bergembira karena melihat siapa saja yang mengambil langkah-langkah iman kecil dan belajar untuk menaruh kepercayaan sederhana pada-Nya. Yesus bergembira manakala melihat hati seseorang yang dapat diajar (tidak bebal) dan terbuka bagi pernyataan-Nya dari takhta surgawi. Tidak ada yang lebih menggembirakan hati Yesus daripada melihat kita datang menghadap hadirat-Nya dengan rendah hati, siap untuk belajar dari Dia dan menerima rahmat-Nya. Yesus dapat dan akan menyatakan diri-Nya kepada kita. Yang dibutuhkan dalam hal ini hanyalah hati yang terbuka dan waktu doa singkat setiap harinya.

Inilah janji Allah kepada orang-orang yang memiliki sifat dan sikap penuh ketulusan seorang anak kecil: pernyataan diri-Nya. Kita tidak perlu mereka-reka seperti apa sih Yesus ini. Roh Kudus-Nya ingin menyatakan Kristus kepada kita, dan Ia akan menggunakan setiap kesempatan untuk membuka hati kita. Kita tidak perlu berupaya terlalu keras untuk menerima, memahami, atau mengenal Dia. Apa yang harus kita lakukan hanyalah semakin menggantungkan diri pada Yesus dari hari ke hari untuk memperoleh hikmat dan kekuatan yang kita butuhkan. Selagi kita mengambil langkah-langkah iman yang kecil ini, kita akan bertumbuh dalam kesadaran bahwa kita tidak dapat berbuat atau mengetahui apa-apa tanpa Yesus, dan kesadaran tersebut tidak perlu membuat kita ciut hati, melainkan justru memenuhi diri kita dengan pengharapan.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita tidak menempatkan segala jenis tuntutan atas diri kita yang berdasar pemikiran kita sendiri. Kita dapat mempersiapkan hati kita untuk menyambut kedatangan dengan cara yang sangat sederhana. Kita hanya perlu berdoa dan mengikuti bimbingan-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Semakin kita menyederhanakan hati kita, semakin dekat pula kita ditarik kepada Yesus dan semakin mendalam pula Ia akan menyatakan diri-Nya kepada kita.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 809
Ref. Berbelaskasihlah Tuhan dan adil, Allah kami adalah rahim.
Ayat. (Mzm 72:2.7-8.12-13.17; Ul: 7)
  1. Ya Allah, kiranya raja mengadili umat-Mu dengan keadilan dan menghakimi orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
  2. Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut sampai ke laut, dari Sungai Efrat sampai ke ujung bumi!
  3. Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, ia kan membebaskan orang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang papa.
  4. Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia.

DOA: 
Bapa surgawi, selagi aku beristirahat di hadirat-Mu pada hari ini, semoga Roh Kudus menyatakan hati Yesus yang dina dan tulus seperti anak-anak kecil. Penuhilah diriku dengan suatu hasrat untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus dan biarlah dalam masa Adven ini hasrat tersebut mengambil tempat pertama dan utama ketimbang hasrat-hasrat lainnya. 
Amin.