Selamat Datang di Blog Patria Jaya dsk. - Santa Theresia
Wilayah 4, Paroki Lubang Buaya - Gereja Kalvari, Jakarta Timur

19 Februari 2017

Senin, 20 Februari 2017 == Hari Biasa Pekan VII

 MARKUS  9:14-29
Pembacaan dari Kitab Putra Sirakh (1:1-10)

Segala kebijaksanaan dari Tuhan asalnya, dan ada pada-Nya selama-lamanya. Pasir di laut dan tetes hujan, dan hari-hari kekekalan siapa gerangan dapat membilangnya? Tingginya langit, luasnya bumi, dan samudera raya dan kebijaksanaan, siapa dapat menduganya? Sebelum segala-galanya kebijaksanaan sudah diciptakan, dan pengertian yang arif sejak dahulu kala.8 Kepada siapakah pangkal kebijaksanaan telah disingkapkan, dan siapakah mengenal segala akalnya? Hanyalah Satu yang bijaksana, teramat menggetarkan, yaitu Yang bersemayam di atas singgasana-Nya. Tuhanlah yang menciptakan kebijaksanaan, yang melihat serta membilangnya, lalu mencurahkannya atas segala buatan-Nya. Pada semua makhluk ia ada sekadar pemberian Tuhan, yang juga membagikannya kepada orang yang cinta kepada-Nya. 

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan
Ayat. (Mzm 93:1ab.1c-2.5; R:1a)

  1. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya. 
  2. Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah. Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada. 
  3. Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan, sepanjang masa!
Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya
Ayat. (2Tim 1:10b)

Yesus Kristus, Penebus kita, telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:14-29)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?" Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat." Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!" 26 Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati." Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri. Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?"Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus

Renungan


Seorang anak kerasukan roh yang membisukan dan menulikan. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membanting-bantingnya ke tanah, mulutnya berbusa, giginya bekertakkan, dan tubuhnya kejang. Murid Yesus mencoba mengusir roh jahat itu, namun tidak dapat. Hanya Yesus saja yang mampu mengeluarkan roh jahat dari anak itu. Yesus itu luar biasa.
Bisa jadi kita juga adalah orang yang “kerasukan” setan yang membisukan dan menulikan. Ketika roh itu menyerang kita, kita tidak mampu mendengarkan sabda Allah, kita juga tidak mampu menyuarakan cinta dan kebenaran, kita dibanting-banting oleh konflik kepentingan atau perhitungan untung-rugi. Kita bisu bertutur dan tuli mendengar cinta Allah dan kebenaran-Nya.
Pertanyaannya adalah: adakah orang yang berupaya menyembuhkan kita? Pernahkah kita sendiri menyadari kebisuan dan ketulian itu?
Pasti bukan hal mudah mengusir “setan” yang membisukan dan menulikan kita. Membiarkan Yesus hadir dan berkarya dalam diri kita adalah resepnya. Doa dan puasa adalah caranya. Hidup bersama dan di dalam Kristus akan memampukan untuk menyuarakan sekaligus mendengarkan kasih dan kebenaran.

Santo Nemesius, Martir

Nemesius berasal dari Mesir. Ketika Kaisar Desius melancarkan aksi pengejaran terhadap orang-orang Kristen, Nemesius berada di Aleksandria. Ia bukan saja seorang beriman yang saleh, tetapi juga rasul yang aktif menyebarkan iman Kristen diantara kaum kafir. Keaktifannya ini menyebabkan dia dibenci oleh banyak orang kafir.

Oleh orang-orang kafir yang membencinya, ia diadukan kepada pemerintah namun terbukti tidak bersalah. Setelah beberapa lama, Nemesius ditangkap lagi karena imannya akan Kristus. Ia di hadapkan ke muka prefek Romawi di Aleksandria untuk diadili. Di depan hakim, Nemesius dengan berani menyebut dirinya orang Kristen dan seorang rasul Kristus. Ia disesah dan disiksa dengan kejam, namun semuanya itu ditanggungnya demi cintanya kepada Kristus Penebus.

Ia mengalami benar-benar bahwa seperti para rasul di hadapan Dewan Sanhendrin, ia telah dipandang layak untuk menderita penganiayaan dan penghinaan karena Yesus. Akhirnya ia di bakar hidup-hidup bersama beberapa orang penjahat. Peristiwa naas tersebut disaksikan oleh beberapa orang serani dan prajurit-prajurit Romawi. Para prajurit itu menghiburnya dan menyediakan makanan baginya sebelum menghadapi saat hukuman mati itu. Para prajurit itu pun kemudian di hukum mati karena ketahuan mendampingi Nemesius dengan memberi hiburan dan makanan. Nemisius di bakar pada tahun 247. 

Santo Eleuterius, Uskup dan Martir

Eleuterius lahir di Dornik, Belgia pada tahun 456. Putra bangsawan Dornik ini mempunyai bakat luar biasa dalam banyak hal sehingga pendidikannya dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pendidikan iman dari orang tuanya menjadikan dia seorang beriman yang taat agama. 
Pada umur 30 tahun, ia dipilih menjadi Uskup Dornik. Ia menghadapi banyak kesulitan dalam tugasnya karena keretakan hubungan antara gereja dan negara. Kecuali itu situasi dalam tubuh gereja sendiri serba tak menentu, lebih-lebih karena umat tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran iman. Menghadapi masalah-masalah itu, Uskup Eleuterius menggalakkan berbagai kegiatan kerasulan dan pewartaan untuk mengembalikan umat kepada penghayatan iman yang sesuai dengan ajaran iman. Ia percaya bahwa Tuhan membantu dia dalam karyanya. Dalam seluruh karyanya sebagai Uskup, ia tidak mengenal kata "mustahil".

Pengajaran Agama, perayaan Liturgi, menciptakan hubungan baik dengan para pemimpin bangsa Frank yang menguasai daerahnya, pendidikan imam-imam, semuanya menjadi pokok perhatian dan kerasulannya. Usaha-usaha ini diperkuat dengan kehidupan tapa dan doa yang mendalam tanpa mengenal putus asa.

Ketika Eleuterius meninggal karena dibunuh oleh segerombolan penyebar agama sesat pada tahun 531, para pemimpin bangsa Frank bersama sebagian rakyatnya sudah di Kristen kan oleh Eleuterius. Ajaran-ajaran sesat yang dahulu dianutnya dulu tidak lagi menarik perhatian mereka. Melihat segala usahanya untuk menegakkan ajaran iman yang benar, kegigihannya mempertobatkan bangsa Frank yang kafir, terpebuhilah kata-kata St. Paulus ini: "Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."


18 Februari 2017

Minggu, 19 Februari 2017 == Hari Biasa Pekan VII

 Matius  5:38-48


Pembacaan dari Kitab Imamat (19:1-2.11-18)


Tuhan berfirman kepada Musa, "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel, dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya. Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia, dan janganlah merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli, dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan; engkau harus takut akan Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah membela orang kecil secara tidak wajar, dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hati, tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu, dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.8+10.12-13; Ul: 8a)
  1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku!  Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, jangan lupa akan segala kebaikannya.
  2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.
  3. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.
  4. Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang bertakwa. 
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Korintus 3:16-23)

Saudara-saudara, tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya." Dan di tempat lain: "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka." Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (1 Yoh 2:5)
Sempurnalah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus. 

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:38-48)

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu telah mendengar bahwa dulu ada ungkapan: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Bila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Bila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang mau meninjam sesuatu dari padamu’. Kamu telah mendengar firman, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu’. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.’ Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan


Renungan
Mencintai orang yang kita cintai itu biasa. Namun, tetap mencintai orang yang membenci kita itu yang luar biasa. Membalas dendam kepada orang yang membenci kita itu perbuatan manusiawi. Namun, bisa mencintai dan mendoakan seteru-seteru kita, ini perbuatan ilahi.
Yesus mengajak kita menjadi orang yang luar biasa, bukan biasa-biasa saja; bukan manusia normal-normal saja, melainkan manusia “ilahi”. Ia meminta kita menjadi manusia sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya.
Bagaimana caranya? Caranya dengan menyisihkan hukum balas dendam dan menggantinya dengan hukum cinta kasih. Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; sebaliknya dengan mengasihi dan mendoakan.
Hidup kita saat ini bisa saja dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan membenci. Kecenderungan untuk mencintai dan membenci mereka peluangnya sama besar. Mau menjadi manusia seperti apakah kita? Manusia yang normal-normal saja atau manusia “ilahi” yang sesuai dengan permintaan Yesus?
Sebagai pengikut Kristus, kita berkewajiban untuk memperbesar peluang mencintai atau mengasihi siapa pun dan memperkecil bahkan meniadakan kebencian. Yesus, Tuhan kita, telah menunjukkan teladan kasih itu. Mari kita meneladan Dia.


Santo Marselus, Martir

Marselus menjadi Paus pada tahun 308 sampai 309. Tempat, tanggal lahirnya serta berbagai cerita hidupnya sangat samar-samar diketahui. Yang pasti adalah beliau adalah seorang imam pada masa kepemimpinan Paus Marselinus I (296-304). 
Setelah wafatnya Marselinus I, Tahkta suci mengalami kekosongan kepemimpinan selama masa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh Kaisar Diokletianus (284-305). Sampai pada tahun 308 barulah diangkat seorang Paus baru, yakni Marselus. Pada masa ini, administrasi Gereja morat-marit.

Paus Marselus diserahi tanggungjawab untuk mengatur kembali administrasi gereja yang morat-marit itu. Pertama-tama ia membagi Gereja ke dalam wilayah-wilayah Paroki dibawah pimpinan seorang imam. Imam-imam ini bertugas untuk mengajar agama kepada para calon babtis, mengadakan pengakuan umum, mendoakan orang mati dan mengatur upacara peringatan para martir. Marselus sendiri membangun pekuburan baru di jalan Salaria di Roma.

Karya Marselus untuk mengatur kembali administrasi gereja dirintangi oleh perihal masalah kemutradan orang-orang Kristen selama masa penganiayaan. Banyak diantara mereka ingin kembali ke pangkuan Gereja tanpa melalui dahulu masa pertobatan. Tetapi Marselus menuntut bahwa orang-orang seperti itu harus terlebih dahulu melakukan pertobatan. Pertentangan serius ini mengakibatkan pertumpahan darah. Karena pertentangan besar ini, Kaisar Maxentius (306-312) membuang Marselus dari Roma. Marselus akhirnya meninggal di pengasingan pada tahun 309. 

Santo Konradus dari Lombardia, Pengaku Iman

Konradus lahir di Lombardia dari sebuah keluarga bangsawan. Sebagai seorang putera bangsawan, Konradus lebih banyak menggunakan waktunya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Hobinya adalah berburu. Agar cepat dan mudah menangkap binatang buruannya, biasanya ia membakar hutan tempat persembunyian binatang-binatang itu. Tapi perbuatan itu mendatangkan malapetaka baginya. Pembakaran hutan itu mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat dan harus di ganti. Semua kekayaan keluarga di pakai untuk membayar kerugian tersebut. Karena itulah keluarga Konradus mulai jatuh miskin.

Di dalam situasi miskin itu, Tuhan memanggil Konradus. Isterinya sendiri menjadi biarawati, sedangkan Konradus masuk Ordo ke tiga Santo Fransiskus. Untuk lebih menyucikan dirinya, ia menjadi seorang rahib dan tinggal terpencil di dalam sebuah gua di Sisilia. Memang banyak gangguan menghadangnya tetapi kesungguhan dalam berdoa dan berpuasa membuat ia mampu mengalahkan kesemuanya itu. Ia meninggal pada tahun 1351.

17 Februari 2017

Sabtu, 18 Februari 2017 == Hari Biasa Pekan VI


Bacaan dari Surat Kepada Orang Ibrani (11:1-7)

Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. 

Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik daripada kurban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian tentang dirinya bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu; dan karena iman pula, ia masih berbicara, sesudah ia mati. Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Karena iman, maka Nuh mengikuti petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan dan dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Demikianlah sabda Tuhan,
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, aku hendak memuji nama-Mu selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 145:2-3.4-5.10-11)
  1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji; dan kebesaran-Nya tidak terselami. 
  2. Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu, dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan, dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan. 
  3. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mrk 9:6; 2/4) 
Langit terbuka dan terdengarlah suara Bapa. "Inilah Anak-Ku terkasih; dengarkanlah Dia" 

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:2-13)

Pada suatu hari Yesus berbicara tentang bagaimana Ia akan menderita sengsara. Sesudah itu Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan bersama mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilat-kilat. Tak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia dan Musa yang sedang berbicara dengan Yesus. Lalu Petrus berkata kepada Yesus, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di sini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia." Petrus berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari awan itu terdengar suara, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia!" Dan sekonyong-konyong, waktu memandang sekeliling mereka tidak lagi melihat seorang pun di situ kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati." Lalu mereka bertanya kepada Yesus, "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?" Yesus menjawab, "Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Tetapi bagaimanakah halnya dengan Anak Manusia? Bagaimana tertulis bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan? Tetapi Aku berkata kepadamu, memang Elia sudah datang, dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka sesuai dengan yang tertulis tentang dia."

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Ada tokoh-tokoh iman yang bisa dibanggakan dan diteladani. Pada zaman yang berbeda, kita mengenal Habel yang mempersembahkan kurban persembahan yang berkenan kepada Allah; Henokh yang terangkat supaya ia tidak mengalami kematian; Nuh yang setia kepada petunjuk Allah untuk menyiapkan bahtera yang menyelamatkan diri dan keluarganya; Abraham yang taat pada titah Allah untuk berangkat ke negeri yang dijanjikan; atau Sara yang karena imannya beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu di tengah usia tuanya. Karena iman, kemuliaan Allah terpancar dalam diri mereka. Rencana dan janji keselamatan Allah pun mewujud nyata. Allah terbukti setia kepada mereka yang setia pada perjanjian-Nya.
Dosa adalah pengganggu iman manusia. Ia berupaya memadamkan kemuliaan Allah yang seharusnya terpancar pada manusia. Manusia dibuat tidak setia pada perjanjian-Nya. Dan dengan cara itu manusia menjadi binasa.
Dalam diri Yesus kita kembali melihat kemuliaan Allah. Dosa manusia ditanggung dan dikalahkan-Nya. Manusia diselamatkan dari kebinasaan dosa dan dibawa menuju kemuliaan kebangkitan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari para tokoh iman dengan hanya mengandalkan Allah dan setia pada perjanjian-Nya.


Santo Flavianus, Uskup dan Martir

Flavianus dikenal sebagai Patriakh Konstantinopel (sekarang: Istambul) pada tahun 447. Ia memimpin gereja selama dua tahun yang sarat dengan banyak masalah. Suatu ketika, Chrysapius, seorang pengawal kepercayaan Kaisar Teodosius mengajukan permohonan kepada Flavianus agar menyerahkan kepada kaisar sejumlah perhiasan dan intan berlian dari harta kekayaan Gereja. Flavianus terkejut mendengar permintaan yang aneh itu, dan dengan tegas menolak memenuhinya. Sebagai gantinya, ia mengirimkan satu bingkisan roti yang telah diberkati untuk menunjukkan kepada kaisar kedalaman cinta kasihnya kepada Yesus. Penolakan Flavianus ini menimbulkan pertentangan antara Flavianus dengan Chrysapius dan Kaisar sendiri.

Sementara perkara ini belum tuntas, Flavianus dihadapkan lagi pada bidaah yang diajarkan Eutyches, seorang pertapa. Eutyches menyangkal adanya kodrat Kristus, yang Ilahi sekaligus manusiawi. Flavianus bereaksi keras terhadap ajaran bidaah ini. Ia segera mengundang satu sinode di Konstantinopel pada tahun 448 untuk mengekskomunikasikan Eutyches. Sri Paus Santo Leo I mendukung Flavianus dengan mengirimkan sepucuk surat dogmatik yang berisi penjelasan tentang kodrat Kristus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, seperti yang diwariskan oleh para Rasul. 

Pada tahun yang sama pula, Dioscorus, Patriakh Aleksandria memimpin sebuah sinode tandingan untuk membela Eutyches dan menghukum Flavianus. Karena Flavianus dengan keras menentang sinode gelap itu, ia diserang dan disiksa dengan kejam, lalu dibuang ke Lydia hingga kematiannya. Jenazahnya dimakamkan di Konstantinopel oleh Kaisar pengganti Teodosius. Sedangkan Chrysapius dihukum mati oleh kaisar baru itu karena ia sering menyalahgunakan kuasanya untuk menindas gereja.

Jumat, 17 Februari 2017 == Hari Biasa Pekan VI

 Markus 8:34-9:1
Pembacaan dari Kitab Kejadian (11:1-9)

Pada zaman dahulu di seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik pusaka-Nya.
Ayat. (Mzm 33:10-11.12-13.14-15)

  1. Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa. Tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. 
  2. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia. 
  3. Dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dialah yang membentuk hati mereka, dan memperhatikan segala pekerjaan mereka.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat.
Kalian Kusebut sahabat-sahabat, sebab kepada kalian Kusampaikan apa saja yang Kudengar dari Bapa. 

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (8:34-9:1)

Pada suatu ketika Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia-pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa."

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Umat Perjanjian Lama membangun dunia idamannya. Menara Babel adalah simbol sukses mereka secara manusiawi dan duniawi. Sayang pencapaian lahiriah ini hanya melahirkan kesombongan dan melupakan kekuasaan Allah. Tidaklah heran bila kemudian Allah memorak-porandakan proyek fenomenal itu.

Bagi Injil, keselamatan itu justru identik dengan kehilangan-kematian. Hal ini mau mengingatkan kita bahwa kekayaan dunia, kesuksesan finansial, dan kelimpahan materi kerap kali menjadi sandungan bagi tercapainya keselamatan. Nikmat dunia bisa sangat menyita perhatian manusia sehingga ia memalingkan diri dari Allah. Injil mengingatkan, “Di mana hartamu berada di situ pula hatimu berada.”

Sebaliknya, “kemiskinan” itu menyelamatkan. Dengan hidup miskin di mata Allah, hati manusia tertambat pada Allah. Manusia hanya menggantungkan diri kepada-Nya. Ia beriman. Raja atas kehidupannya adalah Allah, bukan kemegahan dunia.


Sayang, jalan keselamatan tersebut identik dengan jalan salib. Menyangkal diri dan menolak dunia bukanlah perkara mudah. Memilih tawaran Roh Kudus dengan menampik daya tarik roh dunia itu adalah penderitaan tersendiri. Maka, tidaklah heran apabila kemudian Yesus selalu mengingatkan para murid-Nya untuk menyangkal diri dan memikul salib sebagai syarat mengikuti-Nya. Peringatan itu berlaku juga bagi kita.


Santo Teodulus, Martir


Teodulus sangat di hormati di dalam keluarga Firmilianus, Gubernur Palestina. Tergerak oleh keberanian dan iman dari lima orang martir dari Mesir, ia mengunjungi orang-orang Kristen yang ada di penjara untuk menyemangati dan mengajak mereka berdoa. 
Tindakannya ini membangkitkan amarah Gubernur Firmilianus. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dianiaya. Meskipun demikian, ia tetap tabah dan kokoh mempertahankan imannya. Akhirnya sebagaimana Yesus, Teodulus pun di salibkan dan mati di Kaesarea pada tahun 309. 

Santo Bonfilio dkk, Pengaku Iman

Bonfilio dan kawan-kawannya: Yoanes Bonagiunta, Gerard, Amadeus, Hugo, Sostenes dan Alexius Falkonieri adalah anggota suatu perkumpulan dagang di kota niaga Firenze. Pada pesta Maria diangkat ke Surga, 15 Agustus 1233, tujuh sekawan ini bersama-sama berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi. Pada waktu itu terjadilah suatu peristiwa ajaib atas mereka: Bunda Maria menampakkan diri kepada mereka dan menyuruh mereka untuk memulai suatu cara hidup baru yang lebih khusus bagi pengabdian kepadanya. Peristiwa ini segera mereka tanggapi dengan meninggalkan segala harta miliknya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Pakaian mereka yang mewah dahulu diganti dengan pakaian yang serba sederhana. 

Dalam penampakan yang berikutnya Bunda Maria menyebut mereka Hamba-hambanya dan menganjurkan agar mengenakan pakaian yang berwarna hitam, sebagai kenangan akan penderitaan yang menimpa Yesus, puteranya. Mereka segera menyambut baik anjuran itu dan mendirikan sebuah ordo baru yang disebut ordo Hamba-hamba Maria atau Ordo Servit.

Bonfilio bersama kawan-kawannya menolak jabatan-jabatan yang tinggi dalam gereja. Mereka mengundurkan diri dari kesibukan dagang di kota yang ramai kepada kesunyian di pegunungan. Ordo Servit yang mereka dirikan mengutamakan doa bersama dan penghormatan kepada Maria. Para anggotanya berkarya sebagai pengkhotbah, pekerja sosial dan seniman. Mereka mengutamakan suasana tenang dan berdoa dalam satu biara.

Dari tujuh sekawan itu, Alexius Falkonieri mempunyai keistimewaan. Ia menolak tahbisan imamat karena lebih suka mengerjakan tugas-tugas yang hina dan lebih mengutamakan karya penyebaran devosi kepada Bunda Maria. Dari antara kawan-kawannya dialah yang meninggal terakhir. Ia wafat pada tahun 1310. Sebelum meninggal ia berkata: Berbahagialah orang-orang yang dengan setia mengabdikan diri kepada Yesus dan Ibunda Nya Maria. 

Santo Silvinus, Pengaku Iman

Silvinus dikenal sebagai seorang pegawai tinggi istana kerajaan. Ia berziarah ke Roma dan Yerusalem. Sekembalinya di Perancis ia menjadi Uskup misionaris yang giat sekali, hidup bermatiraga dan mengumpulkan uang untuk membebaskan budak belian. Ia meninggal dunia pada tahun 717. 

Santo Nisephorus, Martir

Nisephorus adalah seorang awam biasa. Sebagai orang serani ia mengenal banyak imam. Pastor Saprisius adalah salah seorang imam yang dikenalnya sangat baik. Relasi diantara keduanya lama kelamaan menimbulkan cinta persaudaraan yang erat bagai dua orang kakak beradik kandung. Tetapi tali persaudaraan mereka merenggang karena perselisihan pendapat. Mereka mulai saling menjauhi bahkan bermusuhan. Dalam suatu renungannya Nisephorus menyadari sikap dan tindakannya yang salah terhadap Saprisius. Dengan hati yang tulus ia pergi menemui Saprisius untuk meminta maaf. Namun Saprisius tak menghiraukan-nya. Dengan demikian permusuhan diantara mereka tetap berlangsung hingga peristiwa penghambatan agama dan penganiayaan terhadap umat Kristen oleh Kaisar Valerianus pada tahun 260.

Sebagaimana biasa kaisar menuntut semua orang serani untuk membawa kurban kepada dewa-dewa kafir Romawi dan meninggalkan iman kristen-nya. Tak terkecuali iman Saprisius. Ia ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan Gubernur Romawi di Antiokia. Ia dengan tegas mengakui dirinya sebagai seorang murid Kristus dan menolak membawa kurban kepada dewa-dewa kafir Romawi. Oleh karena itu ia disiksa lalu dihantar ke tempat pembunuhan. Nisephorus, yang kebetulan hadir dalam peristiwa itu, mengikuti Saprisius sahabatnya ke tempat pembunuhan itu. Di tengah jalan ia berusaha mendekati Saprisius untuk meminta maaf kepadanya: Ampunilah aku, O pahlawan Kristus yang gagah berani. Engkau dengan berani mengakui Kristus sebagai Tuhan di hadapan orang-orang kafir. Kuatkanlah hatimu. Kristus sedang menantimu di surga dan akan memberikan kepadamu mahkota kemenangan.

Saprisius tak berkata sepatah kata-pun. Ia tetap diam. Ketika seorang algojo hendak memenggal lehernya, dengan ketakutan ia berteriak: Berhentilah! Aku akan membawa kurban kepada para dewamu. Nisephorus sangat sedi mendengarkan kata-kata murtad itu. Dengan keras ia menegur Saprisius: Apa yang kaukatakan saudaraku! Janganlah engkau mengabaikan mahkota yang telah disiapkan Kristus bagimu karena penderitaanmu demi kemuliaan nama Nya. Namun teguran itu tak dihiraukan Saprisius. Sebagai gantinya Nisephorus yang mengakui diri sebagai pengikut Kristus, menjadi korban dan menerima mahkota Kristus sebagai Martir.

16 Februari 2017

Kamis, 16 Februari 2017 == Hari Biasa Pekan VI

 Markus 8:27-33

Bacaan dari Kitab Kejadian (9:1-13)
    

Sesudah air bah, Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta bersabda kepada mereka, "Beranakcucu dan bertambahbanyaklah, serta penuhilah bumi. Kalian akan ditakuti oleh segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut. Ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak dan hidup akan menjadi makananmu. Aku memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kalian makan. Tetapi mengenai darahmu, yakni nyawamu, Aku akan menuntut balasnya. Dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia menurut gambar-Nya sendiri. Tetapi kalian, beranakcucu dan bertambahbanyaklah, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambahbanyaklah di atasnya". Bersabdalah Allah kepada Nuh dan anak-anaknya, "Camkanlah, Aku mengadakan perjanjian dengan kalian dan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang ada besertamu; yakni burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi, segala yang keluar dari bahteramu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kalian, bahwa sejak kini segala yang hidup takkan dilenyapkan oleh air bah lagi dan takkan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi". Allah bersabda pula, "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kalian serta segala makhluk hidup yang ada sertamu, turun-temurun untuk selama-lamanya: Busur-Ku akan Kutempatkan di awan sebagai tanda perjanjian anta Aku dan bumi".



Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan memandang dari surga ke bumi
Ayat. (Mzm 102:16-18.19-21.29.22-23; R: 20b)
  1. Bangsa-bangsa menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu; bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.
  2. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji Tuhan, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari surga ke bumi, untuk mendengarkan keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati. 
  3. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu, supaya nama Tuhan diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem, apabila para bangsa berkumpul bersama-sama dan kerajaan-kerajaan berhimpun untuk beribadah kepada Tuhan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.  
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (8:27-33)

Pada suatu hari Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Para murid menjawab, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Yesus bertanya lagi kepada mereka, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” Maka Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias!” Dan Yesus melarang mereka dengan keras, supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan. Ia akan ditolak oleh para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, katanya, “Enyahlah Iblis! Sebab Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Dalam dialog-Nya dengan para murid-Nya, Yesus mengungkapkan jati diri atau identitas-Nya. Ia adalah Mesias. Mesias di sini bukan dalam arti politik yang membebaskan orang Israel dari penjajahan orang Romawi. Yesus justru datang untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa mereka. Para murid juga disiapkan untuk sabar dan terbuka untuk menerima kenyataan pahit dalam hidup Yesus, penderitaan dan salib-Nya. Kita bersyukur bahwa Tuhan datang untuk membebaskan kita dari dosa. Tapi kita juga harus terbuka untuk menerima penderitaan dan salib-Nya.

Allah memberi diri sepenuhnya. Ia selalu memberi kesempatan baru. Sesudah air bah yang memusnahkan bumi dan manusia, Allah mengulangi maksud baik-Nya. Allah kembali mengadakan perjanjian dengan manusia dan keturunannya. Sejak itu bumi dan segala yang hidup tidak akan dilenyapkan air bah, segala ciptaan Allah serahkan kepada manusia untuk dijaga dan dipelihara, dan kepada manusia diserahi tugas untuk memenuhi bumi dengan keturunan.

Pemberian diri Allah tanpa batas itu kita imani pula di zaman Perjanjian Baru. Yesus, sebagai pewahyuan diri Allah, mengabdi sepenuhnya bagi penebusan manusia hingga wafat di kayu salib. Misteri cinta yang pasti tidak bisa dicerna oleh akal manusia. Kasih dan kehendak Allah itu di luar nalar manusia. Alhasil pengenalan manusia kepada Yesus pun sangat beragam.

Dari antara orang banyak ada yang mengenal Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang dari para nabi. Namun Petrus, kepala para rasul, memberi kesaksian yang tepat: “Engkau adalah Mesias!”

Kini kita menjadi kekasih Allah. Marilah kita jaga martabat ini dengan makin mengenal Yesus Kristus, makin setia pada kehendak-Nya, dan dengan mencintai semua ciptaan-Nya.

Onesimus, Pelayan Filemon, Martir


Onesimus, (Yun: Onesimos) yang berarti - yang berguna, yang membawa keuntungan, yang bermanfaat adalah seorang budak/pelayan Filemon di Kolose, Phrygia, Asia Kecil. Rupanya ia pernah melakukan suatu perbuatan curang terhadap Filemon, majikannya sehingga ia melarikan diri ke Roma karena takut. Di sana ia bertemu dengan Paulus. Pertemuan ini membawa berkat baginya. Paulus dengan sabar dan penuh pengertian mengajari dia kebenaran-kebenaran iman kristiani, lalu membaptisnya menjadi pengikut Yesus Kristus. Perlakuan Paulus yang penuh kasih terhadapnya itu mendorong dia menjadi pelayan Paulus dan pengikut Yesus yang setia.
Filemon, majikan Onesimus, adalah orang yang terkenal di Kolose. Ia dipermandikan oleh Paulus di Kolose. Rumahnya di Kolose dijadikan sebagai tempat pertemuan dan pusat perkumpulan umat Kristen di bawah pimpinan Paulus. Menyaksikan peristiwa yang dialami oleh Onesimus, Paulus segera mengirimkan sepucuk surat kepada Filemon dengan perantaraan muridnya Tichikus.

Dalam surat itu, Paulus meminta kepada Filemon agar ia sudi menerima kembali Onesimus tidak sebagai budak lagi, melainkan sebagai saudara yang terkasih. Surat itu disambut Filemon dengan senang hati karena rasa hormatnya yang tinggi kepada Paulus. Hal itulah yang kiranya menggugah Onesimus untuk menjadi rasul Yesus yang setia. Cinta kasih dan kebaikan Paulus sungguh luar biasa: ia tidak hanya mendamaikan Filemon dengan Onisimus secara lahiriah, melainkan juga mengajari mereka berdua tinggi dan dalamnya, luas dan lebarnya cinta kasih Yesus kepada manusia yang patut diteladani oleh semua pengikut-Nya. Dengan kebijaksanaan Paulus dalam suratnya mengusahakan agar Filemon memberi kebebasan kepada Onisimus sambil berharap supaya Onisimus kembali kepada Paulus.

Menurut tradisi yang diwariskan oleh Santo Hieronimus, Onesimus kemudian kemudian menjadi seorang pengkhotbah dan penyebar iman Kristiani, lalu menjadi Uskup, mungkin di Efesus, menggantikan Santo Timotius. Melihat keberhasilan Onesimus, maka Prokunsul di daerah itu menangkap dan menyiksanya, lalu mengirimnya kepada Tertule, Gurbernur Romawi. Disana Onesimus dipenjarakan selama 18 hari. Setelah dibebaskan, Onesimus mengunjungi Ponzales, dan mulai mengajar dan berkhotbah lagi. Ia berhasil memikat hati umat dan mempermandikan banyak orang. Karena keberhasilan itu, lagi-lagi Onesimus ditangkap dan dipaksa oleh Tertule untuk menyembah dewa-dewa kafir Romawi. Tetapi dengan tegas Onesimus menentang Tertule. Akibatnya, tangan dan kaki Onesimus di potong, lalu di rajam hingga mati secara mengenaskan.

Santo Porforios, Martir

Pelayan yang berusia 18 tahun ini ketahuan beragama Kristen ketika ia minta boleh menguburkan mayat-mayat para martir di sesarea, Palestian. Akibatnya ia disiksa dengan kejam dan dikubur hidup hidup bersama-sama dengan orang Kristen lainnya pada tahun 310.